Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Juni, 2023

 Jamrud bilang ada pelangi di matamu

Tapi kok yang kulihat badai yang menyergap tanpa aba-aba

Jamrud boleh gugup

Hanya aku yang boleh dikoyak-koyak badai itu


Sefer Tehilim - Adimas Immanuel

 

Seluruh rasa bersalahku bukan milikmu lagi sejak parit di kota ini bertalu-talu menjerit, terimpit sajak yang sakit.
Sejak sel-sel darahku membeku seperti permata yaspis, doa dalam tanganku mengeras jadi bentangan gunung batu.

Kelemahanku luwung berlindung dalam bening getah kesumat, siap mengesumba kota dengan amarah imamat.

Kota ini tidak berlumut, tidak lisut akibat mulut menghasut. Malam kota ini tak tunduk mengadu kepada bayang matahari di gigir tengkukmu. Waktu menghapusku, sekam yang ditiup angin. Waktu memupusku, gunung terpasung laut dingin.

Seluruh rasa bersalahku menolak membungkuk-bungkuk selain kepada langit yang kelak memenjarakannya. Sejak pengajaran jadi pengejaran-pengejaran melelahkan dan kekosongan seolah tak pernah landai, tak pernah membuat ketidaktahuanku sampai.

Aku ingin mencintaimu tanpa perasaan waswas.

Kecemasan hanya boleh memberi lekuk pada tubuh malam.

Sedangkan aku cukup jadi pelintasan yang lapang.

Aku ingin mencintaimu dengan perasaan mawas para kerub yang berjaga di jalan pohon kehidupan.

Masihkah kau terima sungkur di antara lalai dengkurku, jika kenangan tak seharum nilam dan ranjang trauma tak berlapik tilam? Aku ingin memujamu dengan seribu dendam yang menyatu di tembikar tukang periuk. Aku ingin mencintaimu dengan sisa-sisa demam yang meleleh dalam nganga belanga murkamu, meski nantinya tertimbung dosa, dibusukkan rimbun suara, lupa sejuk embun di liang api selamanya.


Iman

 Iman adalah tentang bertumbuh,

mekar,

layu,

mati,

bertunas,

tumbuh, mekar, layu, mati,

bertunas,

tumbuh, mekar, layu, mati,

bertunas,

dan begitu saja terus

sampai kelopak bunga dari dirimu berhamburan dan,

dunia yang kita anggap menyebalkan ini sedikit lebih membahagiakan.


pkl. 6 pagi, tuhan masih bungkam

aku ingin jatuh cinta lagi. sekali lagi.

aku ingin puisi puisiku berhenti menyembunyikan namamu

(karena cinta kuat seperti maut?)

karena cinta kuat seperti maut.

(maut pun takut dan enggan membawa bangkaiku yang sudah mati berkali kali)

(karena cinta kuat?)

seperti maut.. seperti maut..


Doa 1

Aku percaya sekali doaku didengar olehNya, begitu pula dengan kutuk dan ucapan tidak sengaja lainnya karena entah mengapa meskipun kata kataku habis untuk puisi tiga tahun terakhir, kata yang mengeja namamu tetap berbaris di lidah, gigi gigi dan tenggorokanku yang sakit.


Aku berdoa semoga kau dijauhkan dari air mata karena cinta yang kau berikan kepadanya harus berhenti besok. Aku berdoa semoga darah yang keluar dari matamu, semoga sakit hatimu sampai ke kepala, semoga cinta yang menipu engkau terus bertahan, membakar dirimu sampai mati.


Aku berdoa semoga engkau sanggup berdiri lagi dan mencintai orang lain, sebesar engkau mencintai cinta yang harus kau akhiri besok. Mencintalah engkau sampai mati, mencintalah sendirian karena engkau tidak layak dicintai karena tafsir dan perangaimu terhadap cinta.


Aku berdoa supaya aku memaafkan dirimu dan engkau pula memaafkan aku karena doaku hari ini. Semoga Tuhan memaafkan engkau. Aku berdoa hanya supaya dunia, bumi, pohon yang kusandingkan, kujadikan nama dan doaku tidak pernah memaafkanmu. Dibencilah engkau oleh air, tanah, bumi, udara, daun dan angin di dunia ini karena engkau tidak sanggup memahami yang sungguh sungguh ada dan tidak ada.


Aku berdoa perasaanku ini berhenti besok sebagaimana engkau juga harus berhenti. Jalanku masih panjang sementara nafasku berhenti, tiga tahun yang lalu di kamar, menangis karena tanggungan puisi. Karena engkau begitu membenci puisiku 


Aku berdoa karena tulisan ini bukan sebuah puisi. Puisi menanggung amarahmu. Dan doa ini menanggung amarahku.


Jam 3 Pagi

Jam tiga pagi.

Tiga tahun dan masih menghitung beberapa kali tiga lagi.

Sampai aku benar benar mengubur jenazah puisi, lukaku paling dalam, dan dosa mencintai yang amat berat.

Mazmur 79:9 Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!


Jam tiga pagi.

Masih beribu kali disalib berulang kali.

Mazmur 119:139 Nyala cintaku menghabiskan aku.



PUISI TERBODOH KARENA SAYA BODOH DAN INSPIRASINYA JUGA KISAH YANG BODOH


Kubagikan resah dan kesedihanku kepada puisi, agar kelak kubaca kembali dan kumengerti
Betapa mencintai adalah luka, dan luka adalah tentang kata kata

Kubagikan cintaku yang adalah selalu tentangmu, dan tentang doa yang patah berserakan sejak mulanya.
Betapa cinta asing untuk diimani, dan kau usang untuk diingat kembali

(“Tuhan, apa aku jatuh cinta sama dia aja ya?”)

Kubagikan pertanyaan itu pada puisi, sebab tanda tanya ialah bodoh dan kepercayaanku hilang kendali
Betapa cinta adalah kaki kaki kursi yang patah dan ganjil untuk diduduki

“Angel cantik.”

Kubagikan kebohongan pertama itu pada puisi sebab wajahku asing dalam ingatanmu, dan sejak mulanya mataku bukan apa apa, dan air mata di ujung bulu mataku adalah ketidakingintahuanmu.

“Angel habis nangis. Kenapa?”

Kubagikan sekali lagi pada puisi sebab pertanyaan kenapa selalu tidak ada wujudnya. Ia ghaib dan asing dalam banyak kosakata, begitupun pada bibir dan ingatanmu.

“Kalau gue mau nganterin lo pulang belakangan emang kenapa?”
“Jangan main apa. Panas”
“Gedungnya cantik ya?”
“Lo lucu pake bandana itu”

Kubagikan kalimat itu sebab kita berdua lucunya selalu asing pada kesepian ternyata. Kalimat kalimat murahan ternyata padan dengan perasaan kita yang sia sia sejak mulanya. Perasaanku sebenarnya. Perasaanmu? Siapa tahu?

“Lah emang lo laku? Kayak ada yang mau aja sama lo”
“Jangan suka godain dia kenapa?”
“Terus aja. Jalan sama laki laki yang mana lagi?”

Kubagikan kebodohanku saat kupikir kalimat kalimat itu karena kamu cemburu. Lucunya, kau marah waktu itu saat ada laki laki yang mendekatiku. Kalau tidak salah, dua laki laki. Satu gugup saat kamu jawab semua pertanyaannya tentangku seakan paling tahu. Satu gugup karena kamu bilang untuk jangan menggangguku.

“Apaansih gue peka kok sama lo”
“Lo tuh nggak peka Ngel”
“Angel nanti mau punya anak namanya siapa?”

Kubagikan kalimat itu kepadamu, agar kelak kau baca, kau mengerti betapa kalimat yang keluar dari mulutmu tanpa dipikir itu sungguh, sungguh neraka

“Angel kalau nikah mau hari apa?”
“Bagus dong bisa masak. Jadi nanti kita nggak perlu beli.”
“Angel pakai baju putih kayak pengantin”

Iya, bodoh bukan? Imajinasi anak kecilku dibangunkan oleh kalimat yang tidak dipikirkan.

“Angel belajar mangkanya nyuapin gue”
“Kucing aja diurusin”
“Angel harus belajar coba, potongin kuenya”
“Angel paling suka es teh.”
“Angel tuh emang kayak gitu coba. One and only.”
“Angel kayak daging gelonggongan”
“Angel kalau gue nyebur ke danau, lo nyebur juga nggak?”
“Angel sedih karena filmya tentang keluarga kan?”
“Jadi maksudnya Angel tuh gini..”
“Angel kukunya doang yang cantik”
“Iyalah, Angel sekarang cantik”
“Angel, kapan kapan nonton teater yuk”
“Lo tuh nggak bisa banget dibilangin ya?
“Oh gitu jadi bisa sakit tapi nyuekin satu orang doang bisa?”
“Mangkanya, kalau pulang hatinya tenang”
“Nggak ada arti bukan berarti nggak berarti”
“Gue tuh lebih emosional dari ini.”
“Kalau gue nggak kayak gii, lo nggak bakal liat gue lagi sekarang”
“Gue nggak suka kalo lo dikatain ya gajelas”
“Angel kamu mau makan apa jalan kaki aja sih?”
“Angel nggak kayak gitu. Lo aja lebay”
“Gue aja lebih inget apa yang lo omongin daripada lonya sendiri”
“Gue bahkan lebih kenal lo dari lo kenal diri lo sendiri”
“Kalau emang passion lo di situ, ya jalanin.”
“Bisa nggak sih nggak usah nyolot?”
“Minta maaf dengan dasar apa?”
“Gue nggak ngerti sama puisi lo”
“Iya bikinnya sambil nyolot. Bagus kan hasilnya?”
“Pamer”
“Maaci”
“Gue nangis kalau lagi marah.”
“Gue nggak apa apa kalo dihina, tapi jangan sampe gue denger orang yang gue sayang, orang tua gue yang dikatain”
“Bokap gue, itu berusaha untuk bisa tampil di depan Ngel. Bokap gue, walaupun emang nggak profesional tapi dia berusaha banget bisa melayani”
“Nyokap gue itu ngalahin penatua kali ya soal ilmu tentang alkitab. Kalah deh semua”
“Kayaknya dia berubah deh, jadi lebih gampang dibilangin”
“Iya gue suka banget sama dia. Itu sih gue kejar”
“Gue suka sama yang ini itu udah lama.”
“Long and complicated story, Ngel. Lo gatau aja”
“Angel benci sama gue?”
“Gestur lo aja benci sama gue”
“Asal dia bahagia. Gue turutin maunya apa.”
“Habis nangis ya?”
“Kasarnya, Ngel. Dia begini ke gue juga gara gara lo”
“Harusnya yang sakit hati dia, bukan lo. Dia begini ke gue gara gara nggak mau nyakitin orang yang suka sama gue. Kasarnya dia begini ke gue, juga gara gara lo”
“Bisa jadi dia begitu ke lo karena kasihan kepingin gue berubah, akhirnya suka ke lo”
“Lo nggak boleh sakit hati ke dia, dia mikirin lo”
“Lo bisa nggak sih suaranya alusin. Lo ngomong sama abang lo kasar begino]i lo pikir kuping gue nggak sakit?
“Lo cuma mikirin perasaan dia Ngel. Lo nggak mikirin perasaan gue”
“Lo adore sama dia, beda”
“Gue cuma pengen dia bahagia.”
“Segitunya gue nggak cocok sama dia?”
“Cobain deh eh tapi jangan deh mungkin nanti lo iris leher”
“Lo nggak peduli sama gue”

Kubagikan ini pada puisiku, agar kau baca. Seandainya bisa, terkasih. Semua pertanyaan dalam kalimat kalimat di atas, kamu jawab sendiri. Sisanya, memang tanggungan puisi ini. Bukan lagi tanggunganmu


Kamar


Kita amati langit langit kamarmu yang pucat
menonton film bisu, yang
kita reka reka sendiri dalam kepala
keberanian adalah tentang kita yang tergesa gesa, kau
menciptakan ciuman ciuman baru yang kusimpan di saku kemeja

Sudah kubilang berapa kali kalau kamarmu itu butuh warna,
mungkin jam dinding oranye, lampu kerlap kerlip atau
sekadar kalender gratis dari partai juga tak apa apa
sebab aku takut sekali, terbiasa mencari warna warna itu di matamu yang jatuh cinta itu kekasih
takut sekali

Aku amati langit langit kamarmu yang pucat
sebetulnya ketakutan dalam diriku, apa?
perkara yang mengada ada sekarang di kepalaku silau, kekasih
jika mencintaimu adalah pilihan paling berani, lalu mungkin
aku pengecut yang paling tidak tahu diri

Melihat wajahmu aku mengerti,
cinta memang diciptakan untuk mereka yang berani
dan siap kehilangan diri sendiri


Padova

Kita adalah sepasang burung hilang arah di tengah tengah kota
kita amati berbagai perangai manusia, dan saling merumuskan
:itu aku, itu kamu.
Kita tertawai karat yang usang, sebab
kita pikir hanya kita yang abadi.
Lelucon kita seringkali sekarat, namun
kita tidak pernah betul betul peduli.

Kita adalah sepasang burung yang hilang arah, mencoba pergi
mencoba mencari banyak kosakata yang tidak pernah kita ketahui:
aku mencari puisi, dan kau
jatuh hati dengan angin yang mengembara, mungkin juga mencari, entah apa

Mungkin tiang tiang kota, dan lampu, dan ramai perangai
akan jadi pendongeng yang yang kelak pandai bercerita
bagaimana aku yang mengeja cinta sampai apa,
dan kau yang mengejar cinta sejauh mana

Kita adalah sepasang burung yang hilang arah,
merumuskan cinta yang berisik di tengah tengah kita sebagai peringai manusia
:itu aku, itu kamu.

(1)


Sampai berapa lama lagi harus begini Tuhanku?
Sampai aku tak mengenal lagi siapa diriku

Sampai berapa lama lagi air mata dan sesak dan entah apa ini namanya bersarang di dadaku.
Sampai berapa lama lagi wajah dan kalimat kalimat usang itu akrab di ujung mata, telinga, dan ingatan yang anehnya, tidak lekas lekas hilang di kepalaku.
Sampai berapa lama lagi cinta seperti ini kutelan dan sekarang membakar isi perutku?

Sampai berapa lama lagi harus begini Tuhanku?
Sampai Kau tak mengenal lagi siapa diriku


Hastanta


Di ambang malam, dan tembang yang mengada ada
Angin menjadi jejak kesedihanku yang terus terusan kau amini, entah apa bahagianya jadi dirimu terkasih
Jika kuminta padamu sekali saja untuk betul betul pergi, bisakah kau?

Kusebut sebut kau dalam doa, kali ini agar pergi saja tanpa kenang apa apa
Kenang hanya sanggup membuka luka lama yang sebetulnya belum kering juga
Jika kuminta padamu sekali saja untuk tidak lagi menyebut namaku, bisakah kau?

Kepedihan ini memang bukan apa apa melainkan sesak di dada dan bukan apa apa selain air mata yang kering dan mengganjal, dan cinta yang seharusnya disangkal
Paru paruku yang tahu semuanya gemetar karena tahu
seluruh darahmu itu mengalir kemana

Sungguh, tak akan pernah kau mengerti betapa rumpang baris sajak yang kuisi dirimu
sebab kalimat kalimat patah ini mengerti,
kau tak pernah benar benar mengalir, dan ricik 
pada cinta yang berganti ganti aksara ini


Misyle

Kau tahu, seluruh perasaanku adalah perihal waktu yang tak pernah mengerti 
memupus dan memugar adalah soal doa doa yang telanjang. 
Sejak kau sangkal cinta yang menyala nyala ini dengan air lembah yang gigil, 
cinta adalah perihal bait kata yang beku tak selesai . 
Kau tahu, seluruh darahku adalah seluruh rasa sakit yang bukan apa apa tapi tak bisa dikendalikan sementara tanganku masih berusaha terlipat, 
meminta pengampunan dan kebahagiaan untukmu, sekali lagi, setiap saat. 
Kita warisi kelak dinding yang tak akan pernah kita tinggali juga sebab sepi sekali disini. 
Kelak kau akan mengerti bagaimana cinta yang kuat seperti maut adalah was was dan derita, 
bagaimana amarahmu mengikis tulang belulangku dan seluruh rasa cintaku membeku bagai sardis.

Aku juga mengerti bahwa cinta adalah lalai antara sadar dan keberanian yang mengada ngada. 
Aku ingin mencintaimu dengan keberanian meski 
aku tahu juga kalau cinta dengan keberanian adalah kebodohan. Aku cemas dan terjaga. 

Seharusnya kucintai  kamu dengan sejuk embun dan sajak yang merdu di telingamu. Seharusnya kucintai kamu dengan paras dan kecantikkan, sebab pemazmur tak pernah tahu sepertinya kalau itu tak sia sia. Seharusnya kucintai kamu dengan lekuk tubuh malam yang penuh rahasia, yang selalu dijaga teruna kota. Seharusnya kucintai kamu dengan senyum sejuk embun yang dicari penjaga penjaga kebun anggur. Aku ingin mencintaimu tanpa perasaan sangkal dan masygul. Aku ingin mencintaimu dan mengerti kalau cinta adalah mawas dan ingin mencoba berkali kali, meski siap kehilangan diri sendiri.


Naenia


Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu

Jika cinta adalah kidung, adalah amsal
Maka benar aku sudah betul betul percaya
Tapi apa sanggup, jika suaraku sesak dan
loh batu pada hatiku adalah pasir padang gurun Sinai

Jika cinta adalah kidung, adalah amsal
Terkasih, Salomo apakah mengerti gemuruh di kepalaku yang belum selesai?

Karena cinta kuat seperti maut

Sekali lagi, kutanyakan padamu, apakah Salomo sanggup mengerti?
Iya aku mengerti, terkasih
Maut seperti apa lagi, jika bukan kau?

nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!

Jika cinta adalah kidung, adalah amsal
Firman Tuhan sungguh tak dapat kumengerti
sebab adakah tertulis, terkasih?
cinta pun dapat disangkal, disalib, dan bangkit berkali kali

Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina

Jika cinta adalah kidung, adalah amsal
Tuhanku, tolong buat aku mengerti

(karena cinta kuat seperti maut)


Dolorem


Katamu, kesedihanku bukan apa apa
Kesedihanku bukanlah apa apa selain cinta yang berdiam diri,
ingin pergi, tapi tak bisa kemana mana

Kesedihanmu, lalu, seperti apa rasanya?

Tanggungan Puisi II


Kubagikan resah dan kesedihanku kepada puisi, agar kelak kubaca kembali dan kumengerti
Betapa mencintai adalah luka, dan luka adalah tentang kata kata

Kubagikan cintaku adalah selalu tentangmu, dan tentang doa yang patah berserakan sejak mulanya.
Betapa cinta asing untuk diimani, dan kau usang untuk diingat kembali

(“Tuhan, apa aku jatuh cinta sama dia aja ya?”)

Kubagikan pertanyaan itu pada puisi, sebab tanda tanya ialah bodoh dan kepercayaanku hilang kendali
Betapa cinta adalah kaki kaki kursi yang patah dan ganjil untuk diduduki

“Angel cantik.”

Kubagikan kebohongan pertama itu pada puisi sebab wajahku asing dalam ingatanmu, dan sejak mulanya mataku bukan apa apa, dan air mata di ujung bulu mataku adalah ketidakingintahuanmu.

“Angel habis nangis. Kenapa?”

Kubagikan sekali lagi pada puisi sebab pertanyaan kenapa selalu tidak ada wujudnya. Ia ghaib dan asing dalam banyak kosakata, begitupun pada bibir dan ingatanmu.

“Kalau gue mau nganterin lo pulang belakangan emang kenapa?”
“Jangan main apa. Panas”
“Gedungnya cantik ya?”
“Lo lucu pake bandana itu”

Kubagikan kalimat itu sebab kita berdua lucunya selalu asing pada kesepian ternyata. Kalimat kalimat murahan ternyata padan dengan perasaan kita yang sia sia sejak mulanya. Perasaanku sebenarnya. Perasaanmu? Siapa tahu?

“Lah emang lo laku? Kayak ada yang mau aja sama lo”
“Jangan suka godain dia kenapa?”
“Terus aja. Jalan sama laki laki yang mana lagi?”

Kubagikan kebodohanku saat kupikir kalimat kalimat itu karena kamu cemburu. Lucunya, kau marah waktu itu saat ada laki laki yang mendekatiku. Kalau tidak salah, dua laki laki. Satu gugup saat kamu jawab semua pertanyaannya tentangku seakan paling tahu. Satu gugup karena kamu bilang untuk jangan menggangguku.

“Apaansih gue peka kok sama lo”
“Lo tuh nggak peka Ngel”
“Angel nanti mau punya anak namanya siapa?”

Kubagikan kalimat itu kepadamu, agar kelak kau baca, kau mengerti betapa kalimat yang keluar dari mulutmu tanpa dipikir itu sungguh, sungguh neraka

“Angel kalau nikah mau hari apa?”
“Bagus dong bisa masak. Jadi nanti kita nggak perlu beli.”
“Angel pakai baju putih kayak pengantin”

Iya, bodoh bukan? Imajinasi anak kecilku dibangunkan oleh kalimat yang tidak dipikirkan.

“Angel belajar mangkanya nyuapin gue”
“Kucing aja diurusin”
“Angel harus belajar coba, potongin kuenya”
“Angel paling suka es teh.”
“Angel tuh emang kayak gitu coba. One and only.”
“Angel kayak daging gelonggongan”
“Angel kalau gue nyebur ke danau, lo nyebur juga nggak?”
“Angel sedih karena filmya tentang keluarga kan?”
“Jadi maksudnya Angel tuh gini..”
“Angel kukunya doang yang cantik”
“Iyalah, Angel sekarang cantik”
“Angel, kapan kapan nonton teater yuk”
“Lo tuh nggak bisa banget dibilangin ya?
“Oh gitu jadi bisa sakit tapi nyuekin satu orang doang bisa?”
“Mangkanya, kalau pulang hatinya tenang”
“Nggak ada arti bukan berarti nggak berarti”
“Gue tuh lebih emosional dari ini.”
“Kalau gue nggak kayak gii, lo nggak bakal liat gue lagi sekarang”
“Gue nggak suka kalo lo dikatain ya gajelas”
“Angel kamu mau makan apa jalan kaki aja sih?”
“Angel nggak kayak gitu. Lo aja lebay”
“Gue aja lebih inget apa yang lo omongin daripada lonya sendiri”
“Gue bahkan lebih kenal lo dari lo kenal diri lo sendiri”
“Kalau emang passion lo di situ, ya jalanin.”
“Bisa nggak sih nggak usah nyolot?”
“Minta maaf dengan dasar apa?”
“Gue nggak ngerti sama puisi lo”
“Iya bikinnya sambil nyolot. Bagus kan hasilnya?”
“Pamer”
“Maaci”
“Gue nangis kalau lagi marah.”
“Gue nggak apa apa kalo dihina, tapi jangan sampe gue denger orang yang gue sayang, orang tua gue yang dikatain”

“Kayaknya dia berubah deh, jadi lebih gampang dibilangin”
“Iya gue suka banget sama dia. Itu sih gue kejar”
“Gue suka sama yang ini itu udah lama.”
“Long and complicated story, Ngel. Lo gatau aja”
“Angel benci sama gue?”
“Gestur lo aja benci sama gue”
“Asal dia bahagia. Gue turutin maunya apa.”
“Habis nangis ya?”
“Kasarnya, Ngel. Dia begini ke gue juga gara gara lo”
“Harusnya yang sakit hati dia, bukan lo. Dia begini ke gue gara gara nggak mau nyakitin orang yang suka sama gue. Kasarnya dia begini ke gue, juga gara gara lo”
“Bisa jadi dia begitu ke lo karena kasihan kepingin gue berubah, akhirnya suka ke lo”
“Lo nggak boleh sakit hati ke dia, dia mikirin lo”
"Alasan pertama, dia masih ada urusan yang belom selesai sama dia. Kedua dia nggak mau nyakitin orang yang suka sama gue."
"Enak ya bisa nangis."
"Biar lo tau Ngel, nggak cuma lo yang ngerasain kayak gini"
“Lo bisa nggak sih suaranya alusin. Lo ngomong sama abang lo kasar begini lo pikir kuping gue nggak sakit?
“Lo cuma mikirin perasaan dia Ngel. Lo nggak mikirin perasaan gue”
“Lo adore sama dia, beda”
“Gue cuma pengen dia bahagia.”
“Segitunya gue nggak cocok sama dia?”
“Cobain deh eh tapi jangan deh mungkin nanti lo iris leher”
“Lo nggak peduli sama gue”

Kubagikan ini pada puisiku, agar kau baca. Seandainya bisa, terkasih. Semua pertanyaan dalam kalimat kalimat di atas, kamu jawab sendiri. Sisanya, memang tanggungan puisi ini. Bukan lagi tanggunganmu

P.S iya terkasih jika iris leher nggak dosa, dan sanggup memberikan bahagia untukmu. sudah kulakukan sejak jam dua pagi itu. maaf karena saya ada. maaf karena saya pernah ada. maaf karena saya kamu nggak bahagia. maaf

Hujan, Di Gereja: Epilog



(Hujan deras mengguyur lamunanku yang berserakan di udara.
Desah mengulum amarah dan tanda tanya ternyata bukan apa apa)

Kau, terkasih
Adalah bagaimana mazmur meminta hari penghakiman datang segera

Allahku, Allahku!

Kau bilang aku membencimu.
Aku bilang aku mencintaimu
Kau bilang.. ah,

Kau terkasih, adalah bahaya neraka yang bisa dinubuatkan dengan puisi cinta paling indah yang bisa direka.
Apakah yang lebih bahaya dari cinta yang kau bangkitkan tanpa memikirkan nyawa dan cinta adalah dua ujung nafas manusia?

Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem, demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!

Dan, apakah, terkasih?
Yang lebih berbahaya dari membiarkan seorang anak manusia mencintaimu, membuatnya berpikir bahwa kau juga mencintainya
lewat kata, lewat tangan, lewat mata, lewat mantra

(Itu sama sekali nggak mikir. nggak ingat)

Kau terkasih, jauh lebih berbahaya dari neraka

Dan apakah yang lebih berbahaya, terkasih
Selain membiarkan kepercayaan yang disia siakan
Iya, perempuan itu terkasih
Kusayangi ia bagai kakak dan puteri Yerusalem yang kubaca di kisah peri dan dongeng dan mimpi
Dia tahu jelas, aku mencintaimu dan kau mencintainya.

Perempuan itu hanya tersenyum

Aku jelas, dungu di kepala kalian.

Kalian terkasih, kekasih. Jauh lebih berbahaya dari neraka

Kalian terkasih, kekasih.

Dengan apalagi aku bisa berkata kata. Padahal sejak awal sudah jelas, kebohongan selalu jadi bagianku. Dan puisi, selalu jadi milikmu.

Iya puisi ini terakhir yang jadi milikmu.

Kalian terkasih, kekasih. Bahagia selalu.

Amin.

(Hujan deras mengguyur lamunanku yang berserakan di udara.
Desah mengulum amarah dan tanda tanya ternyata bukan apa apa)

Hujan 2


Pernah kubilang kalau tak akan ada yang tersisa dari kita
waktu itu, hujan
kau dengan sebotol bir
dan aku dengan segelas kosong, entah apa isinya
waktu itu, kita cuma menjelma kepulan asap rokok
menggantung kecemasan di udara, tanda tanya
dan cinta yang sudah sejak semulanya memang sia sia

Tak akan ada memang yang tersisa dari kita
selain waktu itu, dan waktu waktu lainnya
selain cinta, yang sebetulnya tidak ingin kemana mana

Tak akan ada memang yang tersisa dari kita
selain aku, dengan segelas kosong, entah apa isinya
dan cinta yang sudah sejak semulanya memang sia sia


Pahlawan Tak Dikenal - Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda.

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!