Perjalanan III

03.05 Pohon Belimbing 0 Comments

Akhirnya, saya sudah punya akhir cerita untuk "Perjalanan" yang sudah saya mulai ini, sebetulnya saya ingin langsung menulis akhirannya saja, toh perjalanannya juga tidak begitu berkesan. Tapi seseorang pernah berkata kepada saya, hal terburuk yang dilakukan seorang penulis adalah menghabisi ceritanya sebelum sempat menghidupkannya, cerita ini berhak hidup, dan aku menyetujuinya.

Laki laki itu, yang selalu kuingat tawanya yang memecah gerimis, entah Tuhan berkehendak apa, aku, laki laki itu, dan seorang teman pergi. Tapi, bukan itu yang ingin aku ceritakan. Hal yang paling berkesan bagiku adalah ketika kami pulang.

Kami pulang berdua, masih, masih menggunakan taksi, bedanya malam itu tidak ada hujan dan tak ada lagi kesepian. Selama perjalanan, kami berbicara banyak hal. Ia bercerita banyak padaku. Aku juga bercerita banyak padanya.  Tanpa sepengetahuannya, aku jatuh cinta lagi, mungkin bagimu lucu ketika kubilang aku bisa jatuh cinta berkali kali pada orang yang sama. Ia begitu jujur dan terbuka terhadap apa yang ia rasakan. Pemikiran dan ide idenya yang cerdas. Hatinya yang sensitif.

Apa kira kira suatu saat kelak, kami bisa lagi mengulangi hari ini, bukan di taksi, di depan dua cangkir kopi, dan membelakangi gerimis yang tak lagi membuat kesepian.


Angel Jessica

0 komentar:

Cinta yang Menyembunyikan - Adimas Immanuel

02.24 Pohon Belimbing 0 Comments

Aku tak ingin menceburkan cintaku ke dalam pengertian-pengertian yang disepakati orang-orang. Aku tak membiarkannya menerima konsensus karena alasan tertentu. Rumah dalam diriku tak dibangun dari tumpukan batu dan aku bukan keledai yang cukup dungu untuk mencintai berbekal segudang alasan dan bahkan kau tak perlu dan tak harus mengerti.

Aku tak ingin menjerumuskan cintaku ke dalam rumus-rumus, dalam penghitungan-penghitungan melelahkan. Aku tak  membagi cinta agar sama besar seperti yang dilakukan seorang pebisnis atau pun akuntan. Aku membiarkan cintaku lebih besar darimu atau sedikit lebih kecil darimu agar kau merasa mengungguliku.

Ketika seorang penguasa memutuskan penangkapan besar-besaran, cintaku masih akan jadi persembunyian yang aman, lebih licin dari akal dan pengepungan-pengepungan. Bertahan di ujung jalan sepi, di muka pintu penginapan-penginapan yang penuh, di berbagai pelosok jiwa yang kelak bersorak-sorai dan menyapa: mampirlah, bapa!


0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!