Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan

Percakapan Malam Hujan - Sapardi Djoko Damono

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik.

Katanya kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara
desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;

kembalilah,
jangan menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

(1973)

Di Restoran - Sapardi Djoko Damono

Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput
kau entah memesan apa.
Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras

Kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

Sapardi Djoko Damono



Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka, yang dikenal lewat berbagai puisi-puisinya, yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.

Sapardi merupakan anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah. Sadyoko adalah abdi dalem di Keraton Kasunanan, mengikuti jejak kakeknya. Berdasarkan kalender Jawa, ia lahir di bulan Sapar. Hal itu menyebabkan orang tuanya memberinya nama Sapardi. Menurut kepercayaan orang Jawa, orang yang lahir di bulan Sapar kelak akan menjadi sosok yang pemberani dan teguh dalam keyakinan.

Awal karir menulis Sapardi dimulai dari bangku sekolah. Saat masih di sekolah menengah, karya-karyanya sudah sering dimuat di majalah. Kesukaannya menulis semakin berkembang ketika dia kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM.

Dari kemampuannya di bidang seni, mulai dari menari, bermain gitar, bermain drama, dan sastrawan, tampaknya bidang sastralah yang paling menonjol dimilikinya. Pria yang dijuluki sajak-sajak SDD ini tidak hanya menulis puisi, namun juga cerita pendek. Ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola. Sapardi juga sedikit menguasai permainan wayang, karena kakeknya selain menjadi abdi dalem juga bekerja sebagai dalang.

Penyair yang tersohor namanya di dalam maupun luar negeri ini juga sempat mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Ia juga pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar serta menjadi redaktur pada majalah Horison, Basis, dan Kalam. Namun kini ia telah pensiun.

Hal lain yang membuat jasanya besar untuk sastra adalah berkat jasanya merintis dan memprakarsai Himpunan Sarjana Kesustraan Indonesia (Hiski), setiap tahun dewasa ini ada penyelenggaraan seminar dan pertemuan para sarjana sastra yang terhimpun di dalam organisasi tersebut

PENDIDIKAN

  1. Sekolah Dasar Kasatrian
  2. SMP II Mangkunagaran
  3. SMA II di Margoyudan
  4. Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM

KARIR

  1. Guru Besar Ilmu Sastra
  2. Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  3. Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  4. Ketua Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  5. Pendiri Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI)
  6. Dosen Universitas Diponegoro
  7. Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia
  8. Dosen tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
  9. Anggota Dewan Kesenian Jakarta
  10. Pelaksana harian Pusat Dokumentasi HB Jassin
  11. Anggota redaksi majalah kebudayaan Basis
  12. Country editor untuk majalah Tenggara
  13. Koresponden untuk Indonesian Circle
  14. Pendiri Yayasan Puisi dan menerbitkan Jurnal Puisi

PENGHARGAAN

  1. Cultural Award dari Australia (1978)
  2. Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1983)
  3. SEA Write Award dari Thailand (1986)
  4. Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990)
  5. Mataram Award (1985)
  6. Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI
  7. Penghargaan Achmad Bakrie (2003)



Ziarah Batu - Sapardi Djoko Damono


/1/

kami memutuskan untuk memulai ziarah
menjenguk perigi dekat gua
meski air di sana tak lagi
memantulkan wajah kami

kami sudah menguasai peta hari ini
tak akan tersesat ke kanan atau ke kiri

sekarat adalah bagian dari adegan yang nanti
kata-kata bijak yang mengalir di musim hujan
lewat begitu saja di sela jari-jari kami
tak sempat kaufahami setetes pun
kami saksikan sembilu mata itu

dongeng agung yang pernah kami bangun
bergoyang sebentar sebelum rubuh ke arus
yang tak baik jika kami ukur derasnya

sebuah tonggak yang kacau aksaranya
adalah satu-satunya saksi perhelatan ini


/2/

kami dulu suka menciptakan dewa-dewa
mereka-reka nama-nama yang susah dieja
dan merekamnya di jajaran batu
untuk menentramkan huru-hara

penatahnya tak kami ketahui lagi di mana

deretan sosok dewa tanpa kepala
adalah ajakan yang penggal di angan kami

pernah adakah sebenarnya rasa tenteram?

kami pernah suka merangkai perangai ksatria
agar kelak anak-anak bisa menafsirkannta

siapa telah menciptakan punakawan?



/3/

jiwa yang mencari bayang-bayangnya
menabrak cermin
terserak berkeping-keping

watakmu aksara yang tanpa petanda
gambar yang tak hendak dideretkan
dalam tontonan yang digelar hari ini
sebelum sirak-sorai usai menutup tirai

jiwa yang penggal dari bayang-bayangnya
bergetar di kelir yang tumbang

sendirian saja

ya, jiwa kami hari ini


/4/

kami telah memutuskan hubungan
dengan juru gambar itu

tak ada lagi yang percaya pada jiwa kami

gulungan kertas yang tertinggal di gudang
telah memalsukan perangai kami
meriap pasukan rayap menyobek-nyobeknya
berbaris membawanya ke lubang
yang tak mempercayai sejarah

kami telah memutuskan hubungan
dengan juru gambar itu


/5/

(mereka melecut ribuan kuda ke arah barat
jangan sampai keduluan matahari terbenam!
bentak sang senapati)

tak terdengar ringkik dalam gambar
yang dilukis oleh orang yang tak kami kenal
yang konon hanya senyampang saja
turun dari jung untuk membisikkan dongeng
kepada nelayan yang berangkat ke laut

kami tak kenal kuda
            kami tak pernah mendengar lecutan
            hanya teriakan yang segera dihapus ombak laut


dan orang-orang yang turun dari perahu
membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda
di lembah-lembah perbukitan

dan orang-orang asing yang hanya tinggal sebentar
mencatatnya di kitab-kitab
sekedar bukti bahwa mereka memang pesiar

dan para pesiar yang hanya tinggal sebantar
mengawini istri dan anak-anak kami


/6/

perempuan-perempuan menanti kami
di pantai: membayangkan keringat dan mani
tapi yang berlabuh adalah para pelawat
tak pernah terekam dalam gambuh dan kinanti

kami masih mengayuh jauh di laut
semakin sayup semakin sepi

kami tak lagi yakin apakah yang berkeliaran itu
adalah anak-anak yang lahir dari benih
yang menetes bersama anyir keringat kami

betapa cantiknya mereka! kami jatuh cinta
dan menulis puisi panjang di pasir dan angkasa



/7/

kami diajari berdoa dengan irama ganjil
sambil mendirikan kuil demi kuil
agar sogra tak teram-temaram
ketika mendengar permohonan kami

kurban yang selalu memuntahkan sendawa

di dinding kuil kami semburkan gambar
yang senyampang dipamerkan pelawat
yang tidak sepenuhnya bisa kami maknai
sapuan dan garisnya, warna dan aromanya

tidak kami temukan sawah dan margasatwa

mereka menyebutkan kitab yang dibisikkan
dari angkasa purba

nun jauh di sana



/8/

jerit pedang dan denting darah dan jilat api
berloncatan dari babad
yang ditata dalam larik-larik rapi di kitab
rekaan juru tulis di kala senggang
ketika tak ada lagi sisa teriak perang dan kebodohan
di sela-sela pesta raja dan sembah punggawa

kami tidak mendengar sendawa dewa

ia tinggal di kuil yang jauh terpisah
dari menara tempat senapati menanti
kekasih dari samudra



/9/

di urat darah berseliweran ikan pari
kalau ombak menyeret perahu kami:
lukisan yang ditorehkan dengan jampi-jampi
di sekujur pinggirnya
ternyata tak mampu bernyanyi

(ah, yang menjadi saksi hanyalah lintah
ketika kami menanam benih di sawah)

bergantian kami bernyanyi
butir demi butir menetes dari atap rumah

kami tak lagi mempercayai janji pembebasan itu



/10/

dewa ternyata tak ikhlas berbagi
doa yang kami persembahkan adalah kurban
membusuk di kuil yang dibangun agak ke bukit
sesuai tata cara yang dulu menciptakan langit
sesuai tanda yang berupa gundukan bumi

jiwa kami adalah layang-layang berekor
yang talinya ditarik, disendal, dan diulur
oleh anak laki-laki yang akan kami kurbankan



/11/

beberapa gunduk pasir, ikan-ikan berkelejotan
(deretan galur, cacing yang padah di mata bajak)
amis keringat, langit yang terhapus sebagian
adalah latar yang direka dalam janturan

sekarat kami meloncat-loncat dalam sabetan
ketika kelir tumbang –
doakan agar kami tenteram



/12/

jejak yang bergeser-geser
di sela-sela kata
tidak untuk dieja, ternyata

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!