Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Perempuan = Laki Laki = Perempuan!


Perempuan = Laki Laki = Perempuan!
Sebuah Tulisan Imajinasi Sosiologis Kritis Derrida Mengenai Oposisi Biner
Angel Jessica, Sastra Indonesia UNJ

Bisa dibilang tulisan ini memang dibuat karena setelah membaca beberapa pdf atau e-book yang membahas Derrida dan imbas dari menjadi panitia Women’s March Jakarta dua tahun berturut –turut. Meskipun tidak hadir saat march tahun ini, selalu saya sempatkan waktu saya untuk melihat perkembangan dan tentu saja, poster-poster yang dibawa peserta tahun ini. Dan setiap tahunnya saya selalu me-reposting poster-poster yang saya suka sebagai bentuk apresiasi dan dukungan yang sama.


1.        Perempuan = Laki Laki = Perempuan. Loh?

Jika saya melihat kalimat tersebut saat ini, yang ada di pikiran saya bukan lagi hanya sekadar kata perempuan dan laki laki secara makna leksikal atau makna-makna yang dirumuskan atau makna yang sudah disepakati bersama tentang apa yang ditandai oleh masing masing kata tersebut. Sekarang makna ujaran perempuan/kata perempuan dan makna ujaran laki-laki/kata laki-laki adalah seperti sebuah lingkaran yang beririsan di banyak titik.

Saya kemudian berpikir, kata perempuan dan laki laki sendiri, saat ini, bukan lagi permainan sederhana bagi saya sebagai seseorang yang mempelajari bahasa. Kata perempuan dan laki laki, adalah sebuah wacana sosial yang rentan dan abstrak.

Jika dalam kesusasteraan sendiri, jika saya memandang kata perempuan dan laki laki, tentu saja secara keseluruhan menjadi milik saya sebagai penulis ataupun pembaca dalam menafsirkannya. Tapi apa iya, saya pun sebagai seorang penulis atau pembaca mampu keluar dari strukturalisnya, dan berani menceburkan diri dalam keabstrakan kata kata tersebut?

2.      Derrida; pendukung kesetaraan gender?

Membicarakan perempuan dan laki-laki baik dalam lingkup humaniora, termasuk bahasa tidak lepas memang dari isu isu feminisme. Derrida, atau lengkapnya Jacques Derrida adalah sebuah filsuf posmodernisme yang mengkritik Saussurian, pendukung Ferdinand De Saussure, seorang linguis yang dianggap sebagai pembangun semiotika yang pada saat itu mencetuskan sebuah teori oposisi biner, yang sangat mengkotak-kotakan makna berdasarkan hierarki. Pada saat itu, kata perempuan dan laki-laki juga masuk dalam teori oposisi biner ini yang dimana laki-laki sebagai dominan dan perempuan sebagai submisif, atau kasarnya laki laki di atas dan perempuan di bawah. Derrida melihat bahwa sumbu bipolar yang digunakan Saussurian ini sebagai sebuah represi dalam pemaknaan. Jacques Derrida dengan ini membongkar struktur dan kode-kode bahasa, khususnya struktur biner, sedemikian rupa, sehingga menciptakan satu permainan tanda tanpa akhir dan tanpa makna akhir.

Brook dalam bukunya “Posfeminisme” mengatakan bahwa teknik dekonstruksi Derrida menjelaskan bahwa jika teori feminis ingin berhasil dalam penentangannya pada wacana alat kelamin sentris hal tersebut tidak bisa dilakukan dari posisi di luar falosentrisme (1997: 112). Falosentrisme adalah neologisme yang diajukan oleh Jacques Derrida yaitu mengistimewakan phallus atau penis sebagai simbol kekuasaan. Berarti, falosentrisme ini adalah suatu kecenderungan untuk memandang kehidupan dan mendefinisikan segala sesuatu dengan menggunakan perspektif laki-laki (Budianta, 2002: 207).

Alasan akhirnya saya menyimpulkan bahwa Derrida adalah seseorang yang mendukung kesetaraan gender adalah karena teori beliau menurut saya adalah akar dimana bahasa, bahkan wacana humaniora dapat dikritisi dan dijembatani agar menjadi wadah yang sama bagi seluruh kelompok atau sub di masyarakat. Dekonstruktif Derrida mengkritisi falosentrisme yang mendasarkan diri pada oposisi biner logosentrisme di mana privilege berada di tangan laki-laki. Dekonstruksi Derrida yang menghilangkan adanya dikotomi dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang bersifat marginal membantu feminisme mendukung perjuangan perempuan untuk melawan patriarki. Patriarki mengacu pada sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin bagi perempuan. Dengan demikian, langsung atau tidak langsung, tersurat atau tersirat, melakukan subordinasi terhadap perempuan.

Saya rasa sebetulnya tujuan dari Derrida ini memang pada akhirnya memang tujuan yang sama seperti yang saya cita citakan, seperti yang feminis dan pejuang kesetaraan gender cita-citakan, yakni  bebas dari penindasan, dominasi, hegemoni, dan ketidakadilan, dengan begitu tercipta masyarakat yang adil dan setara, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Tujuan akhir bukanlah kemenangan suatu kelompok atas kelompok lainnya (dalam hal ini perempuan atas laki-laki), atau pemusatan kekuasaan dalam satu pihak, melainkan penataan kembali kesamarataan semua kelompok dan sub masyarakat.


3.      Perempuan = Laki-Laki = Perempuan. Nah!

Seperti halnya yang dicanangkan Derrida, saya rasa teman saya, Viola dalam posternya juga menginginkan sebuah kritik atas strukturalisme oposisi yang sepertinya memang sudah kuno jika diterapkan pada masyarakat kini meskipun masih banyak juga yang masih berpegang pada makna biner tersebut. Kalimat ‘Perempuan=Laki-Laki=Perempuan’  ingin membongkar
hierarki oposisi biner. Jika kita cermati, Viola memakai tanda baca sama dengan (=) yang menandai kesamaan / kesejajaran antara perempuan dan laki-laki.

Kalimat yang ditulis dalam poster teman saya dalam Women’s March Jakarta 2019 kemarin seakan ingin mengkritisi, seperti halnya Derrida mengkritisi, budaya strukturalis kuno dimana perempuan telah didefinisikan sebagai ‘sesuatu’ yang lain dari laki-laki. Dengan kata lain, wanita secara historis ditentukan oleh hierarki oposisi biner, di mana wanita ditempatkan secara rendah dibanding pria. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru karena oposisi hierarkis ini sebetulnya mengakar pada pembagian tradisional peran pria dan wanita dalam sejarah. Dan kalimat ‘Perempuan=Laki-Laki=Perempuan’ menurut saya adalah kalimat yang paling tepat untuk membongkar budaya strukturalis tersebut.

Derrida dan pendukung teori dekonstruksinya, tentu saja juga pendukung feminisme berpandangan bahwa dekonstruktif atas hubungan perempuan dan laki-laki memang menegaskan perbedaan perempuan dan laki-laki secara gender ataupun seksualitas adalah sesuatu yang natural, tetapi pembagian peran berdasarkan gender dan seksualitas dapat digugat dan dipersoalkan sebagai akar masalah subordinasi atas perempuan di dalam sejarah. Dengan kata lain, Derrida dan teman saya tadi ingin membeberkan bahwa kenyataan bahwa hierarki perempuan dan laki laki dengan pembagian peran dan kerja yang sangat subordinatif atas perempuan yang pada dasarnya dibentuk oleh kuasa dan sejarah kaum pendukung patriarkis atau falosentris dapat dibongkar lewat pemberian keluasan makna kata perempuan dan laki-laki tanpat mengkotak-kotakan kata tersebut menjadi sebuah oposisi biner hierarkis yang maknanya itu-itu saja.


Daftar Pustaka
1.      Amminudin. 2002. “Pendekatan Pasca Struktrural: Jacques Derrida” dalam Kris Budiman
(ed), Analisis Wacana: Dari Linguistik sampai Dekonstruks. Yogyakarta: Kanal.
2.      Budianta, Melanie. “Pendekatan Feminisme terhadap Wacana” dalam Kris Budiman
(ed.), Analisis Wacana: Dari Linguistik sampai Dekonstruks. Yogyakarta: Kanal.
3.      Brooks, Ann. 1997. Posfeminisme dan Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra
4.      Howells, Christina. 1999. Derrida, Deconstruction from Phenomenology to Ethics. Blacwell Publishers Inc. USA
5.      Norris, Christoper. 2008. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.


Kusala Literary Award: Pontifikat dalam Kesusasteraan Indonesia


Kusala Sastra Khatulistiwa yang sebelumnya –2014 bernama Khatulistiwa Literary Award adalah sebuah ajang penghargaan bagi dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki dan mulai dilaksanakan sejak tahun 2001. Pemenang Kusala Literary Award didasarkan pada buku-buku puisi dan prosa terbit dalam kurun waktu satu tahun terakhir, yang kemudian diseleksi secara ketat oleh para dewan juri.

Latar Belakang Kusala Literary Award

Kusala Literary Award lahir dari sebagai bentuk apresiasi kepada para penulis Indonesia. Di tahun 2000, Richard Oh melontarkan sebuah gagasan untuk memberi penghargaan kepada penulis Indonesia. Richard Oh sangat prihatin dengah kondisi kehidupan kebanyakan penulis Indonesia. Kebutuhan untuk perangkat kerja seperti komputer dan tuntutan keseharian semakin menggerus waktu dan kenyamanan para penulis untuk meneruskan eksplorasi mereka dalam sastra. Keprihatinan itulah yang kemudian membuat Richard Oh berpikir sebuah anugerah sastra dengan pundi yang memadai dapat sangat membantu meringkan beban para penulis.
Dari sini terlahirlah Khatulistiwa Literary Award, yang pada tahun 2014, diganti namanya menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa. Selama 16 tahun, Kusala Sastra Khatulistiwa berkembang terus berkat masukan-masukan dari berbagai pihak di komunitas sastra. Sejak awal pendirian, Kusala Sastra Khatulistiwa dirancang sebagai sebuah anugerah sastra dari komunitas sastra untuk para penulis. Oleh karena itu, berbagai format penyeleksian dan penentuan dikembangkan agar Kusala Sastra Khatulistiwa tetap bertahan sebagai sebuah anugerah yang mencerminkan kehendak kebanyakan orang dalam komunitas sastra.

Sistem Penjurian

Sistem Penjurian dalam Kusala Literary Award, dalam kamus saya, seperti sangat rahasia. Tidak ditemukan artikel atau jurnal yang benar benar menjelaskan bagaimana pemenang Kusala Tilerary Award ini dipilih. Menurut sebuah wawancara, proses penjurian pertama kali adalah, Richard Oh sebagai penggagas Kusala Literary Award memilih sendiri ketua juri, lalu nanti ketua juri yang akan memilih juru juri lainnya. Juri juri lainnya tidak saling mengetahui dan mereka nantinya akan memilih karya sastra yang akan dijadikan kandidat. Keputusan akhir  akan diputuskan bersama.
Mengenai bagaimana penjurian dilakukan pun sepertinya menjadi bahan perdebatan, karena tidak seperti lomba-lomba pada umumnya, pertanggung jawaban juri ats proses penjurian tidak pernah dipublikasikan. Saya sendiri menyimpulkan, bahwa sejatinya, Kusala Literary Award ini hanya bersifat selera pribadi saja.

Kusala Literary Award: Paus yang Tak Punya Kuasa

Kusala Literary Award, seberapa abstraknya dan seberapa banyak masalahnya, tetap sajapunya andil yang sangat besar dalam kesusateraan Indonesia. Selain hadiahnya yang memang lumayan, penghargaan Kusala Literary Award merupakan salah satu penghargaan sastra terbesar di Indonesia.
Namun, yang dipertanyakan adalah, jika visi dari pembentukan Kusala Literary Award adalah untuk membantu penulis agar terus mengeksplorasi sastra, mengapa justru karya satsra yang dianugerahi label terbaik ini justru tidak laku di pasar sastra?
Malam Penganugerahan Kusala Literary Award 2018 yang diselenggarakan Oktober 2018, mengumumkan pemenangnya, yakni dalam kategori puisi adalah Museum Masa Kecil karya Avianti Armand, kategori prosa adalah Kura-kura Berjanggut karya Azhari Ayyub, dan kategori karya pertama dan kedua adalah Ibu Susu karya Rio Johan.
Saat membaca judul pemenang Kusala Literary Award 2018, saya kembali mempertanyakan kekuasaan pengaruh Kusala Literary Award ini. Apakah penghargaan Kusala Literary Award  ini benar benar sebuah ajang berprestasi yang harus dibanggakan penulis, atau mungkin justru tidak. Kusala Literary Award, mungkin memang berpengaruh secara prestise, tetapi seakan tidak punya kuasa apa apa. Kusala Literary Award ini bagaikan raja terkenal yang sudah mati, membanggakan memang, tapi tidak punya kuasa dan disegani. Kenyataannya memang, semua judul karya sastra di atas tidak pernah ditemukan di rak best-seller di toko-toko buku, atau bahkan kutipannya mencuat di media sosial.
Jadi, Kusala Literary Award dalam kesusasteraan Indonesia khususnya, apakah benar benar punya kuasa dan prestise, atau justru kalah kuasa malah dengan kepausan toko buku besar dan pontifikat pontifikat kecil kesusateraan di media sosial.


Penggunaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik

Penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik memang sudah seharusnya menjadi isu penting. Hal ini dikarenakan munculnya suatu kebingungan baru, bahasa Indonesia kini lengser dari kedudukan utamanya yaitu menjadi bahasa utama. Bahasa Indonesia kini dianggap tidak begitu efisien lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Isu tersebut bukan karena tanpa alasan, bahasa Indonesia dianggap lambat dan kurang pas dalam menyampaikan suatu makna dalam komunikasi, misalnya masih banyak kosakata bahasa Indonesia yang belum ada untuk mewakili kosa kata bahasa asing tertentu. Meskipun sudah ada, sosialisasi bahasa itu pun masih lambat dilakukan sehingga masih banyak masyarakat Indonesia yang masih buta dan minim kosa kata.

Tidak hanya dalam komunikasi sehari-hari, bahasa Indonesia pun dianggap masih kurang pas penggunaannya dalam sektor ekonomi, contohnya saja iklan. Iklan di Indonesia hampir semuanya tidak menggunakan bahasa Indonesia, yang benar tentu saja. Alasannya sederhana, karena masih sebagian besar masyarakat Indonesia kurang mengerti bahasa Indonesia sehingga penggunaan bahasa Indonesia dalam iklan menjadi tidak menjual. Bahasa asing dan bahasa pergaulan masih lebih menjadi bahasa komunikasi utama dibandingkan bahasa Indonesia.


Ada banyak sekali sebetulnya hal-hal yang dapat kita lakukan agar bahasa Indonesia kembali menjadi bahasa utama, salah satunya adalah dengan membiasakan diri. Membiasakan diri, setidaknya menggunakan bahasa Indonesia yang benar, dalam maksud saya benar adalah sesuai dengan situasi dan kondisi, akan memberikan pengaruh juga setidaknya bagi orang sekitar kita, dan orang sekitar kita juga akan mempengaruhi, setidaknya orang di sekitar mereka, dan seterusnya. Efek domino. Iya, mari kita lihat seberapa besar pengaruh yang kita lakukan jika kita memulai membuat perubahan itu dari diri kita sendiri.

Pengasingan Bahasa Indonesia Dari Bahasa Pergaulan

Di tengah era globalisasi yang memadat, bahasa Indonesia dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Hal tersebut telah dibuktikan dalam kebijakan bahasa nasional yang merupakan hasil dari seminar politik bahasa tahun 1999 tentang bahasa asing atau khususnya, bahasa Inggris yang menyebutkan bahwa bahasa asing dapat diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Namun, penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia sendiri ternyata malah membuat tergerusnya bahasa Indonesia itu sendiri. Kosakata bahasa Inggris ternyata justru me-‘ninabobo’-kan kita dari bahasa milik kita sendiri. Dalam berkomunikasi, justru bahasa asing yang diserap itu seakan lebih menarik dan nyaman digunakan ketimbang bahasa Indonesia asli. Sebagai contoh sederhana, kita lebih sering menggunakan kalimat “Handphone saya sedang low battery.” daripada “Baterai telepon genggam saya sudah habis.”

Kecenderungan penggunaan bahasa asing diperparah dengan peraturan sejumlah sekolah yang mengharuskan bahasa asing sebagai bahasa komunikasi pertama. Para generasi muda dibentuk sedemikian agar berpikir bahwa seakan akan bahasa asing adalah bahasa yang dianggap superior dan bahasa dari kalangan terpelajar. Belum lagi, para orang tua yang sudah sejak dini mengenalkan bahasa asing kepada anak yang kenyataannya adalah tetap juga penerus bahasa Indonesia. Mereka berpikiran bahwa, penggunaan bahasa Inggris sejak dini akan berdampak bagus pada anak anak mereka di kemudian hari, tak peduli apa efek jangka panjang yang akan ditimbulkannya. Mereka seakan tak lagi peduli kepada bahasa Indonesia yang sejatinya adalah akar yang menghidupkan mereka.

Selain menganggap bahasa asing adalah bahasa yang superior, generasi muda juga menganggap bahasa asing lebih nyaman dan tepat untuk digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Generasi muda menganggap, penggunaan bahasa Indonesia, apalagi yang baik dan benar sangat tidak nyaman digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. Bahasa Indonesia dianggap sangat kaku dan tidak efisien untuk digunakan.

Sebetulnya kini pergeseran bahasa Indonesia tidak lagi hanya sekadar dalam  pergaulan dan komunikasi sehari-hari. Kini, media baik media televisi maupun media cetak juga sudah melakukan penggusuran bahasa Indonesia. Hampir seluruh tayangan film, sinetron, dan iklan menjajakan bahasa asing sebagai bahasa yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat. Sebagian sastrawan, yang seharusnya mengemas bahasa Indonesia juga kini mulai bermain main dengan bahasa asing.


Untuk mengubah cara pikir yang sudah sedemikian melekat dalam masyarakat ketika menghadapi bahasa asing bukanlah hal yang mudah. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk bisa mengembalikan sumpah yang dahulu pernah diucapkan dengan lantang, Sumpah Pemuda yang menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nomor satu. Dimulai dari diri sendiri, lebih banyak mengenal kosakata bahasa Indonesia memudahkan kita dalam menggunakan bahasa Indonesia secara nyaman dalam komunikasi sehari-hari. Bukan tidak mungkin, kelak bahasa Indonesia akan tergerus sedemikian hingga tidak lagi dikenal oleh pemiliknya sendiri.

Feminis Berkebutuhan

Feminis Berkebutuhan
Angel Jessica

1.      Ladies First, dong!

Sekitar beberapa tahun yang lalu saat saya sedang sangat bersemangatnya mencari tahu lebih dalam mengenai apa itu feminisme, dan perannya dalam kehidupan, saya menemukan seseorang laki-laki, yang cerdas, yang sexist, tentu saja, menyindir salah satu teman feminis yang saya jumpai di internet. Laki-laki itu berkata, perempuan jika merasa direndahkan baru menyinggung nyinggung soal feminisme, tapi kalau sudah urusan hak dan kenyamanan, sepertinya perempuan justru ‘memanfaatkan’ situasi label ‘lemah’ yang melekat pada diri mereka. Namun, menurut saya, perkataan laki laki itu ada benarnya. Sering sekali saya melihat perempuan memanfaatkan situasi label ‘lemah’ yang melekat pada diri perempuan dengan ocehan ocehan ladies first.Mulai dari mengantri di supermarket, mengantri tiket kereta, sampai waiting list di restoran.

Saya sempat terkejut juga, ketika rupanya saya duduk bersebelahan dengan salah seorang yang saya jumpai mengoceh tentang ladies first di restoran itu ternyata mengaku sebagai seorang feminis. Kebetulan saja, saya mendengar percakapan perempuan itu dengan teman temannya. Dilihat dari penampilannya, jelas siapapun akan percaya bahwa ia seorang feminis. Penampilannya anggun, rambutnya dipotong mirip laki-laki, dan terlihat cerdas. Jadi saya mulai menimbang nimbang lagi, apa pengertian feminisme saya yang salah, atau presepsi masyarakat, salah satunya si mbak ‘feminis’ tadi yang salah?

Banyak sekali perempuan yang mengartikan posisi ladies first ini, sebagai hal yang menyenangkan. Banyak yang beranggapan bahwa laki-laki yang memanjakan kita dengan ‘ladies first’nya adalah seorang gentleman. Didahulukan saat berjalan, dibukakan pintu, dan sebagainya. Namun bukankah budaya ladies first itu malah menimbulkan sebuah label yang mengikat, karakter yang melekat bahwa perempuan itu butuh diperlakukan ‘istimewa’.

Sekarang saya mengajak anda melihat lebih jauh lagi. Apakah budaya ladies first, dan keistimewaan yang dilekatkan pada wajah perempuan itu sejatinya benar benar mengistimewakan perempuan? Atau melekatkan lebih tebal lagi label ‘lemah’ di wajah perempuan?

2.      Istimewa atau Beda?

Menjadi feminis, adalah tentang kesetaraan. Namun, ditengah tengah masyarakat patriarki yang kita jalani seperti ini. Apakah feminis dapat begitu saja menjalankan pemikiran dan tujuan tujuannya. Apakah feminis justru pada akhirnya tenggelam dalam kenyamanan menjadi manusia kelas dua yang di’istimewakan’?

Menjadi feminis di tengah masyarakat patriarki memang sangat sulit. Masyarakat dipaksa menerima perbedaan yang nyata sengaja diciptakan demi tetap bertahannya situasi patriarki. Masyarakat dibentuk sedemikian rupa, mulai dari hal-hal kecil sampai ke hal-hal besar, tentang perbedaan antara lakilaki dan perempuan. Masyarakat dipaksa menerima dan menjalankan begitu saja situasi patriarki dengan segala penindasan dan diskriminasi yang ada. Hal-hal ini, tentu saja, bukan hanya dirasakan oleh perempuan tetapi juga laki-laki. Mulai dari kecil, laki laki diajarkan memaknai semua hal atas dasar pemikiran yang sexist, mereka diajar untuk mulai men-gender-kan segala sesuatu, seperti warna pink itu warna perempuan, biru itu laki-laki. Boneka itu perempuan, Robot itu laki laki. Menangis itu perempuan, meninju itu laki-laki. Sejak dini, manusia yang hidup di tengah tengah situasi patriarki diajarkan untuk tidak bebas berpikir mengenai apa pun, semuanya terkotak kotak atas gender. Mereka seperti dipisahkan, dan dibelah menjadi dua golongan manusia yang berbeda. Dan pada akhirnya, manusia menjadi terbiasa untuk berbeda, manusia menjadi terbiasa mendominasi, dan didominasi hanya dengan atas pemikiran gender. Dan kita tahu, sejak dini itu siapa yang akhirnya, diharuskan memerankan peran didominasi itu. Betul, perempuan.

Bukan hanya itu, mulai di sekolah, perbedaan menjadi sangat signifikan, seperti pembagian tugas piket, harus dibedakan hal hal yang dianggap ‘tugas perempuan’ seperti menyapu, mengepel, dan merangkai bunga untuk meja kelas dan hal hal yang dianggap ‘tugas laki laki’. Perempuan dididik kembali untuk melihat perbedaan mana yang seharusnya dilakukan perempuan dan mana yang dilakukan laki-laki, dan melihat itu sebagai sebuah tanggung jawab yang dipegang perempuan. Sekali lagi, pemeranan yang dilakukan situasi patriarki, menunjukkan dominasinya.

Lalu, dewasa, masyarakat yang sudah melekat dengan situasi patriarki semakin menjadi-jadi. Situasi perempuan yang dibentuk, pada akhirnya, akan disebut dengan kodrat. Kodrat perempuan memang sudah seharusnya ini, itu, ini lagi, itu lagi. Perempuan menjadi manusia bentukkan. Perempuan menjadi boneka, sekali lagi, mainan mereka sendiri. Perempuan dimanjakan dengan perbedaan, yang dimanfaatkan pihak-pihak kapital dengan sangat cantik. Seperti barang barang khusus perempuan, yang berwarna pink, yang lainnya untuk laki laki.Perempuan dimanjakan dengan fasilitas fasilitas perempuan, seperti kereta khusus wanita, antrian khusus wanita, parkir khusus wanita. Pengkhususan dan pembedaan saat ini sudah mempunyai konotasi yang berbeda, hanya dengan pembedaan kata-kata, perempuan seakan dimanjakan dengannya. Padahal bukankah pengkhususan atau pembedaan tersebut hanya semakin membuktikan kekuasaan patriarki atas kita, atas perempuan?

3.      Jadi Feminis?

Menjadi feminis, adalah tentang kesetaraan. Kesetaraan. Feminis bukan hanya mencari kekuatan bagi perempuan, feminis bukan ada untuk menjadikan perempuan superior atau unggul, feminis ada bukan untuk keistimewaan. Feminis ada untuk kesetaraan. Feminisme bertujuan untuk menciptakan sebuah dunia di mana tida ada dominasi, di mana orang orang di hargai karena siapa mereka secara personal. Menjadi feminis, adalah menentang segala bentuk pengistimewaan.

Menjadi feminis, adalah sebuah gerakan melawan arus. Gerakan yang melawan. Melawan dan melepas label yang selama ini melekat di wajah perempuan. Namun walaupun begitu, feminis buka tentang pergerakan revolusioner yang keras, feminis bukan feminazi*. Banyak hal hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk menjadi seorang feminis. Hal yang pertama dilakukan adalah mengubah mindset. Berhenti menggunakan alasan dan ocehan yang membuat perempuan semakin tampak ‘lemah’ dan ‘tidak berdaya’, berhentilah menggunakan alasan alasan tersebut demi mendapatkan peng’istimewa’an yang sangat tidak istimewa.

Feminisme hanya tentang perempuan?

Feminisme hanya tentang perempuan?

Feminisme juga membela laki –laki!

Feminisme percaya bahwa patriarki melahirkan suatu pemikiran yang disebut “Toxic Masculinity”. Maskulinitas yang tidak wajar dan tidak sehat yang ditanamkan pada pikiran laki – laki.
Patriarki menempatkan laki – laki pada kasta teratas di masyarakat. Namun, hal ini bukannya tanpa “pengorbanan”. Karena laki laki menempati kasta teratas, maka laki laki diharapkan untuk menjadi sosok “laki – laki sejati alias bersifat maskulin. Laki laki harus memiliki semua unsur maskulin agar disebut “laki -  laki sejati” dan jika tidak, mereka akan dipandang aneh, tidak normal, ceroboh, dicibir, dicemooh, atau bahkan disisihkan dari masyarakat. Patriarki menganggap hal ini sebagai “kodrat” untuk laki laki.
Namun pernyataan itu justru menimbulkan masalah. Kodrat adalah sesuatu yang tidak dapat ditentang, dan berisfat mutlak. Api, mengapa banyak laki – laki tidak bersifat maskulin?
Disinilah kodrat maskulinitas dipertanyakan.
Laki – laki diharapkan untuk bersifat dominan, mengontrol, dan agresif. Menunjukan emosi yang bersifat ”feminin” dianggap sesuatu kelemahan yang tidak boleh dimiliki pria. Laki laki tidak boleh bersikap “lemah seperti perempuan”, seakan akan “bersikap layaknya perempuan” adalah sesuatu penghinaan yang sangat rendah.
Masyarakat mengharapkan laki laki untuk bersikap tangguh dan melindungi, dan tuntutan ini seolah olah diidentikan dengan kekerasan’ Dan tak jarang laki – laki melakukan kekerasan hanya untuk membuktikan maskulinitasnya.
Padahal, tidak semua laki laki menghendaki dirinya sendiri untuk menjadi apa yang dituntut oleh masyarakat pada dirinya. Apa itu salah? Jelas tidak. Baik perempuan maupun laki laki memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan jati diri mereka dan tidak mendapat paksaan dari orang lain.
Laki laki juga manusia yang memiliki perasaan dan emosi manusiawi. Sedih, iba, bahkan menangis bukanlah suatu kelemahan. Tetapi merupakan tanda yang membuat diri kita tampak manusiawi. Manusia tidak dapat menjadi tangguh terus menerus. Siapapun dapat merasa sedih, kecewa, lelah dan lain lain dan rasa itu tidak mengenal jenis kelamin.
Patriarki juga menyebabkan laki laki dianggap tidak mampu dalam mengerjakan pekerjaan domestik (seperti memasak dan mengurus keluarga), membesarkan anak sendirian dan merawat diri sendiri, dan mengabaikan fakta bahwa banyak laki laki yang bisa melakukan hal – hal diatas.
Untuk itu, feminisme juga tentu saja berjuang melawan “Toxic Masculinity” dan patriarki, agar baik perempuan dan laki laki dapat mengekspresika diri dan menjadi dirinya sendiri dengan bebas.

Sumber:
Line @ Wall Of Feminism
Beberapa artikel di google


Apa itu Feminisme?

Menurut wikipedia, Feminisme adalah berbaai gerakan dan ideologi yang berbagi tujuan bersama; untuk menentukan, membangun, dan mencapai hak-hak politik, ekonomi, budaya, personal dan sosial yang sama bagi perempuan. Ini termasuk berusaha untuk mendirikan kesempatan yang sama bagi perempuan dalam pendidikan dan pekerjaan.
Feminisme berusaha untuk mengakhiri diskriminasi, eksploitasi, dan penindasan orang karena jenis kelamin, orientasi seksual, ras, kelas, dan perbedaan diferensiasi lainnya dan mendukung orang untuk menjadi bebas menentukan kehidupan mereka sendiri. Ini membantu kita berdiri melawan penindasan dan menuntut keadilan.
Feminisme bertujuan untuk menciptakan sebuah dunia di mana tida ada dominasi, di mana orang orang di hargai karena siapa mereka secara personal dan utuh. Untuk membuat dunia menjadi seperti itu, segala bentuk penindasan perlu diakhiri, seperti seksisme, rasisme, classism, homofobia, transfobia, usia, ableism, dll.
Femisime bukan hanya tentang perempuan. Ini adalah tentang kesetaraan gender; baik perempuan dan laki laki adalah sama dan tidak ada gender yang lebih unggul dari yang lain. Feminisme percaya bahwa perempuan harus diperlakukan sama dengan laki laki. Feminisme bukanlah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin arus ditingkatkan dalam kekuasaan di atas yang lain. Feminisme berjuang untuk menghancurkan stereotip masyarakat yang mengakibatkan munculnya seksisme yang menentang feminisme.
Feminisme tidak membenci laki laki, pada kenyataannya, feminisme ditujukan untuk laki laki juga. Feminisme menentang patriarki, bukan manusia. Feminisme mengakui bagaimana patriarki dan bentuk lain dari hirarki sosial dapat menyakiti orang sementara juga memberi mereka manfaat pada saat yang sama. Hal ini membuat mereka terpanggil untuk mendominasi, melecehkan, mengeksploitasi, dan lain lain untuk mempertahankan keunggulan dan peran tradisional untuk perempuan dan laki laki. Tapi kebanyakan pria, seperti yang saya tahu, sebetulnya enggan untuk memperlakukan wanita seperti itu.
Laki laki juga didorong utnuk masuk kedalam peran gender tradisional dan sosial, bahkan ketika merekka sebetulnya tidak mau. Misalnya, mereka seakan akan diharapkan untuk tidak mengungkapkan perasaan mereka secara nyata dengan kalimat “Anak laki laki tidak menangis”. Kehidupan sosial mendorong mereka untuk mengungkapkan ketakutan mereka, nyeri, stress dalam bentuk kemarahan dan kekerasan. Contoh lainnya, adalah ketika peran gender tradisional membuat masyarakat berpikir bahwa perempuan tua secara otomatis lebih baik dari pada laki laki, meskipun kenyataannya banyak contoh ibu yang buruk dan ayah yang hebat.
Feminisme percaya setiap orang harus berdiri pada kaki mereka sendiri dan tidak harus selalu bersandar pada norma norma sosial dan meraih cita cita mereka.
Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Feminism
(Line@) Wall Of Feminism

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!