Tampilkan postingan dengan label Sanie B Kuncoro. Tampilkan semua postingan

Secangkir Teh


Apa yang bisa diharapkan dari secangkir teh? Seolah ada yang tak sederhana dari pertanyaan ini. Seperti diucapkan oleh Hercule Poirot, dalam nuansa redup ruangan, ketika aroma remah kelopak melati melayang-layang. Namun sesuatu yang samar seperti sedang atau telah terjadi. Sesuatu yang -oleh penggemar kisah misteri-menjadi awal ketegangan.

Ya. Dengan kandungan yang terdiri dari catechin, kafein teh, antibiotik dan entah apa lagi, maka diolah dengan cara apa pun, pastilah gizi dalam teh bukan sesuatu yang sebanding dengan susu. Tapi nenekku berharap terlalu banyak. Dirasanya teh cukup layak untuk diposisikan sebagai pengganti susu.

Maka, hampir setiap subuh, untuk mengawali hari, cerah atau tersaput mendung, yang dilakukan nenek pertama kali adalah menjerang air penyeduh teh. Sesudah itu baru dibukanya kandang ayam si burik dan si jago beserta anak-anaknya. Beberapa genggam jagung ditaburkan untuk sarapan ayam-ayam itu. Cukup sekali sehari, selebihnya keluarga besar ayam itu akan berkelana di kebun untuk mengais makan siangnya sendiri.

Sesaat kemudian air pun mendidih, lalu dituang untuk menyeduh sejumput daun hitam teh di teko. Dilengkapi beberapa sendok gula pasir, segera air panas itu akan menjadi cairan coklat pekat yang manis dan sepat serta menguapkan aroma wangi yang khas. "Minumlah." Nenek menuang secangkir teh untukku. "Tak ada cukup uang untuk membeli susu, tapi teh ini akan sanggup mengenyangkan perutmu sampai siang nanti."?

Berteman kue serabi atau ketan dengan taburan kelapa parut dan bubuk kedelai, itulah sarapanku boleh dikatakan setiap hari sebelum berangkat sekolah. Semacam ritual, atau upacara kecil yang membuat sukma menjadi lebih percaya diri dalam mengarungi hari.

Nenek selalu mengira bahwa rasa kenyang yang muncul sesudah melahap teh dan kue serabi itu akan memberikan manfaat yang sebanding dengan komposisi gizi yang terdapat dalam susu. Barangkali harapan yang berlebihan walau ternyata tidak terlalu keliru. Kenyataannya, aku cukup sehat selama itu. Tulangku juga tidak merapuh, meski kupakai berjalan sepanjang 2 km pergipulang ke dan dari sekolah tiap hari.

Sampai sekarang pun aku tidak merasa memerlukan susu untuk menu sarapanku, meski andai mau, bisa kubeli berlusin-lusin kotak susu. Gaji bulananku sebagai manajer keuangan cukup untuk membeli merk susu termahal sekalipun. Secangkir teh tetap menjadi menu sarapan pilihanku. Meski tak ada lagi kue serabi karena bukan hal mudah menemukan penganan lembut gurih itu, di kotasebesar ini.

***

Ayahku memiliki harapan yang berbeda pada secangkir teh. Setiap kali kutuangkan secangkir teh untuknya di sore hari, selepas pulang dari kantor di kecamatan, selalu dimintanya aku duduk bersamanya di beranda. Banyak hal diperbincangkan, kejadian seharihari yang menurutnya pantas dibagi kepada anak perempuan satu-satunya. Tentang kemarau yang terlalu panjang, misalnya. Atau perihal pohon-pohon tua di sisi lapangan kecamatan yang sudah saatnya ditebang dan digantikan dengan batang yang lebih muda. Kadang-kadang juga mengenai petani yang mengeluh karena pembagian air irigasi tidak merata dan harga pupuk semakin tinggi. Sesekali ayah mengizinkanku melihatnya membersihkan keris yang hanya sebilah itu, meski melarangku menyentuh warangan, serbukpembersih keris yang sangat jarang dipergunakannya.

Dan suatu senja ia menyampaikan semacam keinginan. "Kelak, temanilah selalu suamimu menikmati secangkir tehnya. Pasti hatinya tak akan berpaling ke mana pun. Dia akan selalu rindu rumah, tempat kamu berada di dalamnya. Sebuah tempat teduh yang tak ada duanya."

Itu kalimat bijak -atau doa?- seorang ayah untuk putrinya. Berharap nasihat sederhana itu akan berguna sebagai bekal si semata-wayang ketika mengarungi bahtera pernikahan. Ayah tahu bahwa biduk perkawinan itu akan melewati gelombang yang dahsyat sehingga diperlukan pengikat yang kuat untuk tetap bertahan di dalamnya. Ucapan yang ingin meyakinkan dirinya, namun entah kenapa, justru menampakkan rasa bimbang. Mengapa harus ada kekuatan itu?

Di kemudian tahun, ketika kutemukan seorang laki-laki yang akhirnya menjadi suamiku, kulaksanakan petuah bijak ayah. Selalu kuhidangkan seduhan teh terbaik untuk suamiku, sejak awal menjadi istrinya. Pagi atau petang hari. Aku berusaha tidak beranjak sekejap pun dari sisinya, kecuali untuk mengambil sesuatu yang diperlukannya dengan segera. Koran, misalnya, atau sigaret dan pemantiknya. Atau, ah, mengapa harus lekat dalam ingatan?

Agaknya perkiraan ayahku keliru. Sesuatu yang cukup kuat untuk mengikat hati beliau ternyata tidak berlaku untuk suamiku. Apa pun yang kulakukan tidak pernah cukup berarti untuk menghentikan keluhannya. Juga ketika dengan sabar aku menunggu dia menuntaskan hasrat biologisnya atas tubuhku.

"Tak adakah inisiatifmu untuk membalas gairahku? Ini lebih mirip bercinta dengan sebatang pohon atau guling, bedanya kau punya sesuatu yang basah dan mereka tidak," ucapnya terengah menyudahi keliarannya. Lebih mirip bentakan setajam karat kelewang.

Baiklah. Tanpa kata-kata aku mengaku keliru. Lalu kubaca banyak buku tentang hal-hal semacam itu. Juga bertanya pada teman-temanku. Aku bahkan berkonsultasi dengan pelatih kebugaran yang kutahu sering mengajarkan senam tertentu pada para perempuan.

Selanjutnya, mungkin aku pandai meliuk selentur balerina dalam keadaan berbaring. Kini aku, dengan sedikit rasa was-was, mulai pintar mengerang panjang, melenguh bagai sapi. Sesuatu yang aku sendiri tak berminat mendengarnya.

"Apa yang kaulakukan? Kau begitu liar mirip kuda binal yang tak menemukan pejantan di musim kawin. Ini lebih mirip bercinta dengan pelacur, bedanya aku tak perlu membayarmu," begitulah ungkapan reaksinya.

Aku tak hendak mengingatnya, sungguh. Rasa malu itu memberangus sekaligus wajah dan perasaanku. Karena aku seperti memerankan seorang penari tayub yang kesurupan. Aku lebih wirang ketimbang yang kupikirkan.

Untunglah masih kumiliki sisa-sisa kesabaran ayahku. Warisan yang aku syukuri dengan perasaan pedih. Aku kembali pada kesabaranku dan berpikir bahwa barangkali nasihat orang bijak tak selalu universal, melainkan hanya berlaku untuk orang dengan kebijakan yang setara. Suamiku rupanya memiliki kebijaksanaan yang berbeda.

***

Ibuku juga memiliki harapan yang berbeda pada secangkir teh. Ibu tidak pernah menikmati teh hangat. Secangkir teh hangat yang dituangkan nenek untuknya setiap pagi, selalu dibiarkan menjadi dingin hingga tengah hari. Lalu akan dicampurnya dengan potongan es baku, yang kemudian memunculkan titik-titik embun membasahi seputar dinding cangkir. Selepas makan siang baru direguknya dengan puas es teh itu. Dengan sekali teguk, biasanya, teh dingin di cangkir itu langsung tandas. Memang begitulah ibu, selalu melakukan sesuatu dengan serbacepat namun terencana. Ia menyesap minuman tidak memerlukan menit hingga cangkir atau gelasnya kosong. Namun untuk menyiapkan rasa nikmat tehnya, ia bersabar hingga tengah hari. Ia selalu merencanakan demi kenikmatan beberapa jam yang akan datang. Seperti yang selalu dilakukannya terhadapku.

"Sudah selesai belajarmu? Selesaikanlah siang ini sebelum pergi bermain.Nanti sore jangan lupa hidangkan teh untuk ayahmu, gulanya sedikit saja."

"Mengapa bukan Ibu yang menyeduh teh sore untuk ayah? Seperti yang dilakukan ibu teman-temanku," tanyaku suatu kali.

"Tidak ada waktu untuk itu. Sore hari ketika para karyawan pulang dari pabrik, maka kios Ibu akan ramai pembeli. Dari mereka kita peroleh uang untuk membayar uang sekolahmu."?

"Bukankah sudah ada uang ayah, gaji dari kecamatan?"

"Sudah beruntung kalau gaji ayahmu cukup untuk makan tiga kali sehari, itupun cuma berlauk tempe-tahu atau kerupuk. Tak ada yang tersisa untuk uang sekolahmu, bayar listrik, obat nenek...," sergah ibu dengan suara mulai ketus.

Bila suara ibu beranjak naik begitu, maka nenek buru-buru datang menuang teh di cangkir ibu, ditambahkannya beberapa potong es batu dari termos. Segera, dingin es teh baru itu akan membasahi tenggorokan ibu dan merendahkan kembali nada suaranya yang meninggi. Lalu nenek akan mengisyaratkan aku untuk menjauh, sebelum kutemukan kembali pertanyaanpertanyaan lain yang bisa menyalakan kemarahan ibu. Karena hal itu akan membuat nenek memerlukan lebih banyak es teh untuk memadamkannya.

***

Apa yang bisa diharapkan dari secangkir teh? Berbeda dengan nenek, ayah dan ibu, aku menyimpan harapanku sendiri. Suatu hari kulihat suamiku berkemas dengan sibuk.

"Akan ke manakah?" tanyaku. Seolah kulihat pertanda buruk pada kehidupanku.

"Ke suatu tempat, ada urusan penting," jawabnya tanpa sekilas pun menoleh padaku.

"Jangan pergi," kataku dengan harapan setipis kabut. Bahkan ketika mengucapkannya, ada keraguan mendapat jawaban setimpal.

"Ini perjalanan terpenting dalam hidupku, tidak akan kubiarkan seorang pun menghadang langkahku."

"Sekalipun itu aku?" Suaraku menyimpan jerit yang tak tersampaikan. "Siapa pun itu!" tegasnya bergeming.?

Sebuah jawaban yang menyalakan kemarahanku. Nenek sudah lama berpulang sehingga tak mungkin lagi ia menyiapkan es teh bagiku untuk memadamkan bara kemarahan itu. Begitu pun ayahku, sehingga tak tersisa lagi kesabarannya yang pernah kumiliki, yang masih kusimpan adalah sisa warangan, serbuk yang dulu dijauhkan ayah dariku karena ternyata mengandung senyawa kimiawi arsenikum, zat berbahaya yang tidak layak untuk tangan kecilku. Kini hanya ibu yang masih bertahan mendampingiku, dengan rambut yang nyaris seluruhnya putih keperakan.

Lalu, kuseduh secangkir teh. "Minumlah dulu sebelum berangkat," kataku dengan kelembutan, yang entah dari mana datangnya, melewati tungku api keters inggungan. "Siapa tahu akan jauh perjalananmu dan tak tersedia minuman sepanjang perjalanan itu."

Suamiku ragu sejenak. Barangkali ia baru menyadari betapa istrinya begitu penuh perhatian. Namun terdengar suara mobil datang, rodanya gemeretak melindas kerikil di depan pagar. Tentu itu sebuah taksi yang telah diteleponnya dan tiba sebagai penjemput. Tanpa sempat menimbang keraguan lagi, segera diraihnya cangkir dari tanganku dan menandaskan isinya tanpa menyisakan setetes pun. Ah, barangkali ingin diberikannya kepuasan terakhir, sebagai penghargaan bagiku dengan mereguk teh hangat seduhanku.

Dan, berangkatlah dia. Aku tahu, sangat tahu, ke mana dia akan pergi. Sebaris pesan singkat pada ponselnya terbaca olehku sesaat lalu, sewaktu dia mencukur jambangnya di kamar mandi.

"Persiapan pernikahan kita sudah beres. Kita bertemu di bandara sore ini. Datanglah segera, jangan membiarkanku menunggu, sayangku ..."?

Pengirimnya tercatat?dengan kode nama: kekasih. Alangkah indahnya nama itu, sebaris huruf yang tak pernah terucap untukku. Aku di dalam ponselnya tetaplah tertulis sebagai apa adanya namaku, sebanding dengan beratus nama lain yang tersimpan di sana.

Aku seorang perempuan dan juga seorang istri yang memiliki ideologi puritan, antipoligami. Tentu tidak akan kubiarkan suamiku menikah lagi dengan orang lain, sementara buku nikah yang sah masih berada di tanganku.

***

Apa yang bisa diharapkan dari secangkir teh? 
Barangkali setiap orang akan memiliki harapan yang berbeda pada secangkir tehnya masing-masing. Tapi ketika seduhan teh itu dilengkapi dengan setabur warangan, tiada lagi harapan yang tersimpan selain satu hal: sebuah penyelesaian. Dan, yang secangkir itu telah ditandaskan oleh suamiku. Melewati jalan licin kerongkongannya langsung menuju lambung.

Secangkir teh itu akan menunaikan tugasnya dengan baik, mengantar suamiku pada sebuah perjalanan yang terpenting dalam hidupnya. Bukan ke bandara, tempat seseorang yang akan dinikahinya tengah menunggu; melainkan pada sebuah perjalanan terakhir yang akan dilalui setiap manusia.

Untuk lebih melapangkan jalannya, tentu aku tak ingin terjadi kehebohan sehubungan dengan "keberangkatannya". Akan kujelaskan pada pihak yang berwenang bahwa suamiku memang mengidap penyakit tertentu, sehingga tidak perlu ada otopsi, visum atau apa pun yang semacam itu. Setidaknya, aku memang memiliki hasil periksa kesehatan lengkap tahunan dari kantornya, yang kebetulan mengandung banyak keluhan.

Sesungguhnya di sini, di ruangan ini, tidak ada Hercule Poirot. Tidak ada pertanyaan apa pun, dari siapa pun, walau memang ada aroma remasan kelopak melati yang melayang-layang, terbang bersama kepulan uap teh hangat yang kuseduh.


Aku duduk dengan tenang. Setenang patung peri yang ditatah dari batu onyx. Menunggu datangnya kabar hasil eksekusi itu. Entah melalui telepon dari bandara, dari rumah sakit, atau justru dari sopir taksi langganan yang gugup itu. Kureguk teh di cangkirku sendiri. Hangat, kental, wangi dan sedikit rasa pahit berpadu dengan sempurna. Yang ini tentu tanpa warangan. ***

(Secangkir terima kasih untuk Kurnia Effendi)

Cerpen Sanie B. Kuncoro
Copyright @2008 IT Dept. JAWA POS
Jl. Ahmad Yani 88, Surabaya 60234 Jawa Timur - Indonesia
Phone. (031) 8283333 (Hunting), Fax. (031) 8285555

Laki-Laki Ke-5

Pertanyaan pertama: apakah kau perempuan?

Pertanyaan kedua: apakah orientasi seksualmu hetero?

Bila kedua jawaban tersebut adalah ''ya'', maka inilah pertanyaan ketiga: pernahkah berpikir untuk menghitung berapa laki-laki yang berkelindan di dalam hidupmu?
Bila ada salah satu yang terjawab ''tidak'', maka tidak ada pertanyaan lanjutan. Pembacaan ini boleh saja dilanjutkan, atau bisa saya dihentikan. Terserah opsi mana yang terpilih.

Ini sama sekali bukan sebuah uji statistik, bukan pula sebuah pikiran iseng yang mendatangi ketika keadaan diri sedang atau kosong tanpa berkegiatan. Tiba-tiba saja pertanyaan itu menghampiriku suatu ketika --tanpa merasa perlu untuk menjelaskan alasan yang melatarinya-- dan menggandengku untuk menelusuri jalur perjalanan masa silam dengan sosok laki-laki di beberapa perhentiannya.
Banyak laki-laki kutemui di sepanjang perjalanan, tidak semuanya mampu membuatku untuk benar-benar berhenti dan singgah dalam kehidupan mereka.

Di antara yang menghentikanku itu, tidak setiap kali kumaksudkan perhentianku sebagai sekadar singgah. Ada beberapa di antaranya yang membuatku ingin menetap. Membuatku tidak ingin pergi lagi. Bukan karena aku terlalu lelah untuk meneruskan perjalanan, melainkan lebih karena merasa telah menemukan sebuah ''rumah'' yang tepat, yang membuatku selalu merasa ingin berada di dalamnya.

Tapi agaknya dinamika kehidupan tidak selalu terwujud seperti yang kita inginkan. Banyak hal mengondisikanku untuk tidak menetap, melainkan hanya singgah untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Dengan atau tanpa keinginan. Meninggalkan luka atau sekaligus membawa kepahitan. Beberapa luka itu tersembuhkan dengan cepat, namun di antaranya ada yang memiliki sayatan begitu dalam sehingga meski di permukaan nampak pulih, namun sesungguhnya luka di dalamnya masih menyimpan kepedihan yang terbawa ke mana pun. Luka dalam ingatan yang tak beranjak pergi meski dihantam dengan antibiotik dosis tinggi sekalipun.

Persinggahan pertama itu tidak akan pernah kulupa.
Seorang berbeda iman, namun melakukan satu hal untukku yang melekat dalam ingatan hingga hari ini.

''Pukul berapa ibadahmu besok?'' tanyanya pada suatu akhir pekan
''Entahlah,'' jawabku ringan. ''Belum kutahu akan kupilih pagi atau sore hari.''

Namun ternyata aku bangun terlalu pagi hari itu hingga kusiapkan diri untuk mengikuti ibadah pertama.

Lalu kutemukan dirinya di depan pintu diam-diam menunggu untuk mengantarku beribadah. Pagi begitu muda ketika itu, bahkan kabut masih berserak di beberapa tempat dengan dingin yang menebar. Namun alangkah hangat perhatian yang disentuhkannya padaku.

Pagi itu aku merasa sangat dicintai, sekaligus sangat mencintainya. Ketika berada di boncengan motornya, alangkah ingin aku memeluknya. Namun aku terlalu rikuh untuk melakukannya, maka hanya kusandarkan diri pada punggungnya. Punggung yang hangat, yang menghadang angin menerpaku.

Sandaranku yang pertama.

Sampai suatu ketika dia absen beberapa lama dari kampus dan seorang teman tanpa prasangka memberitahu bahwa dia harus pulang kampung karena tunangannya sakit.

Tunangan?

Aku gemetar ketika itu, apalagi saat kudapati jawaban yang tanpa beban.

''Apa istimewanya pertunangan? Janur belum melengkung, aku masih punya hak untuk berganti pilihan, dan aku akan memilihmu,'' katanya tenang, meyakinkanku.

Namun tidak ada keyakinan di dalam diriku bahwa pilihannya padaku akan bertahan selama yang kuinginkan. Andai pun janur telah melengkung untukku, bisa terjadi akan dimilikinya dalih untuk menegakkan janur itu kembali demi mengesahkan hasrat untuk berganti pilihan.

Maka, aku memilih untuk tidak terpilih.

Aku berkemas dan beranjak pergi dari sandaran hangat itu, sembari membawa kepedihanku. Sayatan lukaku yang pertama.

***

Laki-laki yang kedua adalah seseorang yang pada mulanya menjadi sahabat.

Seorang dengan kecerdasan terbaik yang pernah kukenal, sekaligus memiliki nilai-nilai moral yang sedemikian lurus. Sedemikian rupa kelurusan itu teguh mengakar di dalam dirinya sehingga membuatnya terlalu keras pada diri sendiri dan orang lain.
Digariskannya satu keyakinan bahwa perempuan selayaknya tidak hanya mengoleksi indeks prestasi tinggi pada rapor hidupnya, melainkan juga keahlian meracik bumbu di dapur sekaligus melahap banyak literatur.

Sementara kutemukan di dalam diriku bahwa aktivitasku di dapur hanyalah merebus air atau telur. Indeks prestasi kumulatifku selalu tidak lebih dari 3 (dengan skala 4). Dan literatur yang kulahap hanyalah fiksi roman.

Maka, aku merasa menyusuri lorong labirin. Teduh lorong itu dengan dinding yang kuat. Mengamankan aku dari ancaman cuaca atau sergapan bahaya apa pun. Aku tak akan terhantam oleh angin, hujan, panas apalagi dingin. Setiap jengkal dinding bisa kusandari dengan rasa aman yang meyakinkan.

Namun sekaligus itu adalah labirin yang melelahkan, yang memberikan tekanan pada setiap langkah untuk menjadi sebagai seseorang dengan kualitas yang memenuhi standar-standar terpancang, sementara tidak kumiliki cukup daya untuk mencapai standar itu.

Maka aku menyerah.

Lalu dibukanya pintu dan dilepasnya aku pergi. Tanpa saling melukai atau menyimpan sakit hati. Kesepakatan bersama lebih karena terlalu banyak hal yang mesti dipertimbangkan demi keselarasan.
Namun ternyata kami tak pernah benar-benar saling pergi. Selalu ada kesempatan untuk saling mengunjungi beranda masing-masing, mengunyah remah-remah kedekatan yang tersisa. Meneguk minuman pertemanan yang tidak selalu manis dan hangat, melainkan terkadang pahit dan bahkan membuat tersedak. Namun keping persahabatan selalu tersedia dan tersimpan rapi di dalam stoples benak kami masing-masing. Jalinan persahabatan yang tak usai hingga kini.

***

Laki-laki ketiga adalah seorang anak bungsu yang mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian penuh dari seluruh keluarga, terutama ibunya. Sedemikian rupa perhatian itu menguasainya sehingga dia mengira akan mendapatkan hal yang sama dari semua orang. Bahkan merasa berhak untuk menuntut apa yang diinginkannya.

Ketika itu aku sedang dalam masa awal meniti karir, sehingga sedemikian bergairah mengerjakan tugas-tugas kantor, bahkan membawa pulang kertas-kertas kerja untuk lembur di rumah. Suatu ketika kertas kerja itu membuatku tidak terlalu mempedulikan kedatangannya. Maka, begitu saja direbutnya kertas kerjaku dan dihamburkannya berserak.

Kemarahan yang sama sekali tak terduga. Sangat mengejutkanku. Namun, kemarahan itu ternyata segera mereda dengan belaian dan kecupan yang kuberikan. Sama persis dengan seorang anak yang mereda tangis dan rengekannya ketika mendapatkan permen atau mainan yang diinginkannya.
Tidak sulit sebetulnya mengendalikan tipikal laki-laki semacam itu, yang diperlukan hanya kesabaran. Tapi, masalahnya tidak kumiliki persediaan kesabaran yang memadai.

Suatu kali aku dikejar oleh deadline sebuah tugas yang sangat mendesak. Kukerjakan tugas itu di dalam mobil sementara dia mengemudi. Kupikir tugas itu bisa selesai sebelum kami sampai di tujuan sehingga acara kami tidak akan terganggu, sekaligus tugasku selesai dengan rapi tepat waktu.

Tapi, mendadak kemudian direnggutnya kertas-kertasku, dirobek, dibuang, dan diusirnya aku dari mobilnya. Aku turun dengan segera, tanpa sempat terkejut dan mengejar lembaran kertasku yang terbuang. Aku tidak ingin kehilangan kertas-kertas itu karena tidak ada waktu lagi untuk mengulang mengerjakannya. Lalu kucari angkutan umum, meski dia memohon padaku untuk kembali ke mobilnya.

Tidak. Aku tidak hanya tidak kembali masuk dalam mobilnya, melainkan pergi dari seluruh kehidupannya. Kuyakinkan pada diri sendiri bahwa tidak kumiliki kesabaran seorang ibu, apalagi pengabdian seorang pengasuh.

Benar bahwa suatu kali nanti aku akan menjadi ibu dan akan kuasuh anak-anakku dengan kesabaran dan kasih sayang. Tapi aku tidak akan menjadi ibu dan pengasuh bagi seorang laki-laki berumur seperempat abad yang selayaknya menjadi sandaranku.

***

Lalu, perkembangan karirku menyita hari-hariku hingga bertahun-tahun kemudian. Seakan kujejaki dunia baru yang membuatku sedemikian bergairah, memberiku kecukupan dalam banyak hal dan tidak memberi jeda untuk mencari hal-hal yang menggelisahkan sekaligus merepotkan semacam laki-laki.

Hingga kemudian kutemukan laki-laki keempat itu.

Seseorang yang membawaku kembali pada dunia dan komunitas yang lama kutinggalkan. Seorang laki-laki bukan bujangan yang bertahun kemudian masih mengingat gaun yang kukenakan kala pertama kali bertemu dengannya. Seorang laki-laki yang pada pertemuan kedua telah menempatkan aku di dalam pelukannya. Pelukan yang mengembalikan ingatanku tentang kenyamanan rasa bersandar. Rasa yang telah terlupa dan seakan tak kuperlukan lagi.

Seorang laki-laki yang keberadaannya membuatku harus melakukan permainan serupa layang-layang. Tarik ulur lambungan rasa antara kangen dan dirindui serta perasaan terhempas ketika terjauhi.
Permainan yang sesungguhnya mengasyikkan, memicu adrenalin sekaligus membimbangkan ketika ingatan pada etika moral memberikan peringatan. Berapa lama permainan semacam ini akan bertahan?
Lalu pada suatu ketika kuputuskan untuk mengakhiri permainan itu. Kurenggangkan tali dari genggaman, dan kurasakan benang bergerak perlahan menelusuri telapak tangan dan akhirnya terlepas, mengikuti gerak layang-layang melayang pergi terbawa arah angin. Tak ada kesedihan ketika itu, serupa melepas kertas melayang tak berarti.

Sampai kemudian pemilik layang-layang itu datang dan memberiku sebuah buku cerita dengan tokoh utama memiliki nama yang sama persis dengan nama lahirku, sekaligus tahi lalat pada posisi yang serupa dengan yang kupunya. Itu adalah tahi lalat air mata. Setitik bercak hitam persis di bawah garis mata sebelah kanan. Dan, nama lahir itu, adalah nama lahir yang tidak lagi kupakai dan sangat sedikit orang mengetahuinya. Laki-laki itu tidak termasuk di antara yang sedikit itu.

Barangkali itu hanya semacam kebetulan. Namun alangkah mengharukan ''kebetulan'' itu bagiku.

Maka, kemudian kutemukan sesuatu yang berserak di dalam diriku. Serakan serupa kepingan yang berasal dari patahan bernama hati. Patahan yang senantiasa memunculkan luka. Maka kupungut kepingan berserak itu, bukan untuk disusun kembali -karena niscaya akan terlalu banyak retakannya- melainkan untuk disimpan sebagai kenangan.

Kepatahan yang memicu kesendirian, yang menghampiri dan menggigitku dengan ketajaman taring-taringnya. Untuk pertama kalinya aku merasa gentar menghadapi kesendirian, yang selama ini kunikmati bahkan kucari dengan gagah berani. Kali ini aku gentar, oleh suatu kesadaran betapa getir kesendirian itu sesungguhnya.
Lalu rasa takut itu merayapiku, dan menggerakkanku untuk menemukan laki-laki kelima, yang suatu kali pernah kuabaikan.

Serupa menemukan plester penutup luka, aku tahu bahwa seseorang ini akan mengatasi lukaku untuk sementara. Sementara, karena aku tahu dengan pasti laki-laki itu memiliki banyak hal yang tidak kusuka. Tipikal pemberontak yang tak pernah memiliki basa-basi, namun menyimpan koleksi puisi yang memabukkan.
Tanpa basa-basi apalagi permisi, laki-laki itu menyergapku pada sebuah dini hari dengan sebuah pagutan. Pagutan yang sangat telak sekaligus kurang ajar. Namun justru menjadikannya sebagai pagutan menggetarkan yang membekas lama dalam ingatan.

Lalu, ditemukannya kemulusanku yang menakjubkannya, dan kemudian dijelajahinya tanpa mampu kucegah.
''Kau milikku dan aku akan menjadi laki-laki pertama yang menelanjangimu,'' katanya sepenuh keyakinan.

Sangat kurang ajar.

Namun yang kudapati pada diriku bukan rasa marah, melainkan rasa tertaklukkan. Sebuah rasa yang tak pernah kupunya. Kini aku mencecapnya, menikmatinya dan bahkan menghendakinya kembali pada suatu ketika. Dominasi laki-laki itu atasku menjejakkan sebuah rasa yang tak pernah kupunya. Dominasi itu entah bagaimana, tidak terasa menjajah, namun justru melenakan.

Alangkah ambigunya perempuan.

Selalu tidak ingin dianggap lemah, kerapkali merasa dilecehkan, namun pada sisi yang lain muncul keinginan untuk ditaklukkan, mencari sebuah dekapan yang mampu membuat diri ingin menyerah pasrah.
Tapi mengapa aku harus menyerah oleh karena sebuah interaksi yang bahkan tidak melibatkan cinta di dalamnya, selain hanya ketakjuban sesaat? Namun pada saat yang sama aku juga tidak ingin kehilangan, sekaligus pula aku bukan pula seorang yang bisa sungguh-sungguh menyerah. Kontradiksi yang membimbangkan, memicu segala gerak yang tanggung.
Dengan segera penyerahanku yang tanggung membuatnya gusar.

''Kau perempuan paling tidak jelas yang pernah kutemui,'' katanya habis sabar. Lalu pergi.

Apakah kalian tahu rasanya ditinggalkan?

Itu adalah perasaan yang membuatmu serupa jerami, batang padi yang kosong tak berguna setelah masa panen. 


Merasa sia-sia setelah dieksplorasi tuntas selama masa pertumbuhan.
Maka, aku tidak mau ditinggalkan.
Aku hanya mau meninggalkan.
Aku tidak sudi ditinggalkan, apalagi oleh seseorang yang telah menelusuri sudut-sudut terjauh di dalam diriku.
Tapi, laki-laki itu berlalu dariku.

Aku diam, sendirian, dengan perasaan tersayat. Lalu lelatu, bunga api dendam mulai memercikkan api yang melayang ....

Tidak mudah menyingkirkan seseorang dari ingatan. Otak manusia tidak terkonfigurasi serupa perangkat komputer bertombol delete, yang akan menunaikan tugasnya menghapus sebuah file, ketika tombol itu ditekan atau diklik. Program ingatan di benak manusia memiliki sistem tak terjelaskan untuk mengingat atau melupakan sesuatu atau seseorang.
Aku tidak menghendaki seorang yang telah meninggalkanku, berdiam di dalam ingatanku, sementara tombol delete itu tidak kupunya dan ingatan tidak selalu menaati kehendakku.
Maka, cara terbaik menyingkirkan laki-laki itu adalah dengan membunuhnya. Itu cara tepat menyingkirkan seseorang dari duniaku, meski belum tentu akan terenyah dari ingatan.

Ya, laki-laki itu harus kubunuh.

Kuhembuskan napas panjang. Kureguk sisa kopi di cangkir.
Baiklah, akan kupikirkan beberapa alternatif cara terbaik untuk membunuh laki-laki ke-5 itu, dalam beberapa hari ini. Sebuah cara membunuh yang elegan, rapi, dan tak berjejak.

Lalu, kumatikan laptop dengan satu sentuhan.

Aku yakin redaksi yang baik hati itu akan sabar menungguku menemukan cara membunuh yang terbaik.
Deadline surat kabar itu masih beberapa hari lagi. (*)


Cerpen Sanie B. Kuncoro
Copyright @2008 IT Dept. JAWA POS
Jl. Ahmad Yani 88, Surabaya 60234 Jawa Timur - Indonesia
Phone. (031) 8283333 (Hunting), Fax. (031) 8285555


http://cerpeninspirasi.blogspot.com/

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!