Tampilkan postingan dengan label Adimas Immanuel. Tampilkan semua postingan

Sefer Tehilim - Adimas Immanuel

 

Seluruh rasa bersalahku bukan milikmu lagi sejak parit di kota ini bertalu-talu menjerit, terimpit sajak yang sakit.
Sejak sel-sel darahku membeku seperti permata yaspis, doa dalam tanganku mengeras jadi bentangan gunung batu.

Kelemahanku luwung berlindung dalam bening getah kesumat, siap mengesumba kota dengan amarah imamat.

Kota ini tidak berlumut, tidak lisut akibat mulut menghasut. Malam kota ini tak tunduk mengadu kepada bayang matahari di gigir tengkukmu. Waktu menghapusku, sekam yang ditiup angin. Waktu memupusku, gunung terpasung laut dingin.

Seluruh rasa bersalahku menolak membungkuk-bungkuk selain kepada langit yang kelak memenjarakannya. Sejak pengajaran jadi pengejaran-pengejaran melelahkan dan kekosongan seolah tak pernah landai, tak pernah membuat ketidaktahuanku sampai.

Aku ingin mencintaimu tanpa perasaan waswas.

Kecemasan hanya boleh memberi lekuk pada tubuh malam.

Sedangkan aku cukup jadi pelintasan yang lapang.

Aku ingin mencintaimu dengan perasaan mawas para kerub yang berjaga di jalan pohon kehidupan.

Masihkah kau terima sungkur di antara lalai dengkurku, jika kenangan tak seharum nilam dan ranjang trauma tak berlapik tilam? Aku ingin memujamu dengan seribu dendam yang menyatu di tembikar tukang periuk. Aku ingin mencintaimu dengan sisa-sisa demam yang meleleh dalam nganga belanga murkamu, meski nantinya tertimbung dosa, dibusukkan rimbun suara, lupa sejuk embun di liang api selamanya.


Estuaria - Adimas Immanuel

Malam memudar setelah bulan merekatkan butiran cahaya
menusuk iris dengan karat aksara: tak jelas apakah gangsa
magenta atau malah lila, huruf-huruf itu tetap tak terbaca
langit masih akan kelabu dan kau tetap mengelabuiku.

Kita akan pulang. Aku menyeretmu seperti kepiting uca
menyeret hidupnya: sendiri dan terjaga. Di keluasan
pasir pesisir yang asing, mengendap dan menyelinap
menghindari sepasang mata yang membakar sunyiku.
Ia waktu: pokok-pokok hidup yang hangus itu.

Aku menyeret sejumlah kata-kata dalam karapas
melalui jaring kegilaan yang tak bisa kuterabas
tapi kau terus menuju ke laut, tak membiarkan
kata-kata pasang-surut dan terlepas.

"Tak ada yang tetap di estuari,
selain cinta dan ketabahan abadi."

(2016)

Sri Respati - Adimas Immanuel

Tak akan ada yang terambil darimu. Radio tua, daster kesayangan, obat batuk, dan kitab suci. Semuanya masih dan akan selalu milikmu, sepanjang hari besertamu. Masa tua masih akan jadi kepunyaanmu, telaga yang tak habis-habis kau timba setelah hidup mengurasmu: lahir, tumbuh, bekerja, kawin dan beranak-cucu. Selamat, kau melalui semua dengan sentosa.

Tak akan ada yang terambil darimu. Becak langganan, gereja, kantor pos, teman-teman lansia, dan anak-cucumu. Semuanya masih dan akan selalu membuka diri untukmu. Masa tua adalah pohon yang tumbuh jauh menerobos tingkap-tingkap langit, dan buah kebijaksanaan itu kini milikmu. Hanya usia, ulat sia-sia yang berusaha merenggutnya darimu, tapi kau mengalahkannya!

Tak akan ada yang terambil darimu karena kau tak pernah merasa memiliki apapun dari dunia ini,  kau tahu itu. Kau pasrahkan masa depanmu; kauserahkan seluruh jatuh uban, sakit dan sembuhmu. Dalam doa-doa malamku, kau adalah kata yang tak menemukan akhir sebuah tafsir. Jangan pernah redup sebelum pemilik terang sendiri memintamu. Sungguh, kau layak berbahagia.


Jakarta, 2016

Casa Raligian

Minggu berputar-putar dalam paru-paru kita.
Angin yang akrab mengembuskan ketaatan
masa kanak-kanak yang hampir kita lupakan.

Waktu: ruang haru, aku kenali sengal napas itu.
“Hari depan mungkin menghangat," kilahmu.
Tapi dingin ini tak terelakkan meski tubuh
berselimutkan lembar demi lembar Amsal.

Ada yang tak kekal di ruang ini, mungkin doa.
Kita, ricik tanpa arus, tidak menuju muara.
"Apakah bisa kita seperti ini saja,
tanpa harus menjadi apa dan siapa?” tanyamu.

Panjang atau pendek garis yang kita gores,
hari depan, kau tahu, menghapus percayamu.
Ragu bilah panjang tanpa ukuran dan ketetapan.

Dan aku memasuki dirimu sekali lagi,
untuk memastikan tak ada yang kekal di situ.
Tak ada yang pasti dari kecemasanmu.


Jakarta, 2016

http://www.adimasimmanuel.com/2016/02/casa-raligian.html

Setelah Petang - Adimas Immanuel

"Pulanglah, berdamailah" kata sebuah suara petang ini.
Suara yang terbang rendah setelah angin kota bersijingkat
ke arah hutan dan wangi cemara tak menghapus
bau hangus jalanan. Penciuman kita telah tahu
ada yang selalu terbakar dalam
perjumpaan dan perpisahan.

Setelah petang kenangan tentang rumah adalah rawa
muncul dan membenamkan kegamangan orang jauh:
ingatan tentang ranjang tua, gonggongan anjing,
foto ayah ibu, piring-piring beling, akuarium
kelokan gang sempit, lampu jalan dan kau.

wajahmu berkelebat seperti arwah para jagal
selepas jam tidur kota, menghantui kesadaranku
dengan kelebat cita, harap, doa dan putus asa:

kau telah
menjadi dongeng sebelum
para pencerita menemukan kata pembuka

kau telah
menjadi jendela yang setia
menantiku pulang untuk mengaku terluka

Jakarta, 2016

http://www.adimasimmanuel.com/2016/02/setelah-petang.html

Henokh - Adimas Immanuel

Apakah putih di sana sama seperti
guguran cahaya yang menusuk mata?
Sebab gelap tak lagi menggentarkannya.

Kau mungkin bisa mendekati kelemahannya
dengan langkah beribu-ribu orang kudus
tapi ketakterjangkauan ini telanjur ia cintai.

Sekiranya hidup tak hanya perihal fasik
dan tidak fasik, tentu salah dan benar
tak membuat cintanya kehilangan dasar.

Apakah putih di sana sama seperti
kilat bahasa yang tak kami mengerti?

Seandainya ketidakmengertian bisa diwarnai,
tentu tak dibiarkannya batas langit memudar.

2015

Cinta yang Menyembunyikan - Adimas Immanuel

Aku tak ingin menceburkan cintaku ke dalam pengertian-pengertian yang disepakati orang-orang. Aku tak membiarkannya menerima konsensus karena alasan tertentu. Rumah dalam diriku tak dibangun dari tumpukan batu dan aku bukan keledai yang cukup dungu untuk mencintai berbekal segudang alasan dan bahkan kau tak perlu dan tak harus mengerti.

Aku tak ingin menjerumuskan cintaku ke dalam rumus-rumus, dalam penghitungan-penghitungan melelahkan. Aku tak  membagi cinta agar sama besar seperti yang dilakukan seorang pebisnis atau pun akuntan. Aku membiarkan cintaku lebih besar darimu atau sedikit lebih kecil darimu agar kau merasa mengungguliku.

Ketika seorang penguasa memutuskan penangkapan besar-besaran, cintaku masih akan jadi persembunyian yang aman, lebih licin dari akal dan pengepungan-pengepungan. Bertahan di ujung jalan sepi, di muka pintu penginapan-penginapan yang penuh, di berbagai pelosok jiwa yang kelak bersorak-sorai dan menyapa: mampirlah, bapa!



Padahal Aku Ingin Memelukmu - Adimas Immanuel

Padahal aku ingin memelukmu, tapi kini aku
tak bisa melakukannya dan mulai berusaha
membayangkan seandainya aku memelukmu.
Toh aku sudah lupa wangi asli tubuhmu.
Aroma kulitmu lapuk ditimbun lima lapisan
kimiawi. Ia menimbun apa saja termasuk
percakapan kita. Kecantikanmu seperti bahasa
baru yang tak kupahami meski kubaca dengan
mata menyala. Sebab sorot mataku hilang daya
seperti salju terakhir di bulu lembut serigala.
Mendekam. Mendekat. Mendekap. Menekan.
Mendekat. Mendekap. Menerkam. Diterkam.
Aku lupa teknik terkaman pemangsa itu meski
hidup hanya perkara memangsa dan dimangsa.
Sebab hari ini aku mungkin runtuh karena waktu,
tapi siapa tahu esok ingatan menyusun tubuhku.

Padahal aku ingin memelukmu, tapi suatu pagi
aku terbangun dengan perasaan embun kota.
Tampak sebentar lalu hilang dua bentar lagi.
Jauh di bawah tubuhku pabrik-pabrik mengalirkan
limbah langsung ke ususku. Membuatku mual
hingga merapal sejumlah pemberkatan doa
dari kematian leluhurku agar menyertaiku.
Setiap malam seorang pertapa melewati tikungan
gelap di sana hanya untuk menguji ritma tarikan
napasnya sebab bau belerang di mana-mana.
Kesedihan di mana-mana.Yang ia hirup tak sesuai
dengan yang dihembuskan hidup. Maka berikan aku 
kata yang tak bisa melukai dirinya sendiri!
Hingga cinta membangunkan sebuah gergaji mesin
dalam perutku. Memotong lambung, memotong mesin
ketik macet, memotong lemari dan hal-hal yang rahasia.
Padahal aku ingin memelukmu, tapi bau belerang
begitu kuat. seperti trauma setengah penduduk jagat.


Jakarta, 2014

Singir Manggala - Adimas Immanuel

Aku hanya mengambilmu sejumput,
dari racik rupa, dilebur di ricik maka,
jadi daging dan tubuh kita yang lata.
Kenangan serupa buhul kenanga pada
telinga, mengaburkan bau langu dari
rambutmu, menghapus garis mangu.

Di ambang malam kusebut-sebut kau,
kubesut lagi, kau, runcing raut terpaut,
belah sebilah igau, sebab sepilah esok
bila cakrawala tak semurni lazuardi.

Kucari kau, kucari, di ladang kemuning
hasrat tak hanya jadi urat ruh ladiang,
tapi mengasapi kening, belukar pening.
Menyembunyikan gigil tuk berdiang.

Sementara tali nyawa bergetaran
dalam dada, sejuk mengangini suara,
menuntaskan rumpang baris sajak
pada alur usia di dahan angsana.

Betapa cinta tak membawa kita
ke mana-mana, meski berpindah
dari satu nama ke lain nama.

2014

Senja yang Teramat Merah Melihat dan Menyimpan Semuanya - Adimas Immanuel


Laut terus berusaha menciumi pantai 
melalui daya ombaknya. Ia bahagia meski 
mungkin cintanya tak pernah sampai.

Senja yang teramat merah melihat dan
mengawasi kita yang masih menerka-nerka:
siapa yang jadi laut, siapa yang jadi pantai
siapa yang pasang-surut, siapa yang sedia landai.

Senja yang teramat merah menyimpan amarah
di antara lemah dan lelah kita: sebuah cerita
untuk dibaca dan ditulis ulang pagi yang lain.

Wardhani - Adimas Immanuel

kau masih terus mencariku.
aku tahu sebab kau tapak kaki
yang membekas di tiap jejakku.

kau masih terus membangunku.
aku tahu sebab kau masih tunas
dalam setiap musim kemarauku.

kau masih terus mengenangku.
aku tahu sebab kau masih suara
yang menyusuri igau dan racauku.

sebab kalau bukan hangat kau
siapa lagi yang jadi nyala api
dalam setiap musim dinginku?

The Miserly Knight - Adimas Immanuel


Dari utara terdengar,
bunyi oboe yang melengking
meninggalkan bayangan hutan ini.

Kita saksikan sedih memang dinanti,
ketika seorang pemuda memekik:
“dunia hanya perkara melunasi utang-piutang!”.
Ia kutuki dunia. Harum delima yang mengalir
dalam kapilernya membuat ia merasa
berkepentingan mengutuki dunia.

Amarah dilumurkan di ujung tombak,
awali permainan tiga babak:
medan laga tiga pembuluh darah
yang mengalir dari sungai Utara.

Sebonggol darah daging hancur
di antara geraham kekuasaan
ketika suara lirihnya berujar
“Anakku, o Anakku, yang sulung
dari dunia hanyalah kepicikan!”

Seketika melankoli
mengeras di tengkuknya.


Études Tableaux - Adimas Immanuel


Aku alirkan tubuhku ke tubuhmu agar tahu seperti apa wajah dunia
jika tak mengenal cakrawala, agar rasa laparku kehilangan nafsu
karena telah tuntas pengembaraannya: ia tak bersekat darimu.
Namun angin yang bersarang dalam paru-paruku gamang
memilih akan menuju pembuluhmu yang mana. 
Sungguh,
ia hanya ingin berkunjung dan menanyakan kabarmu,
siapa tahu rindu yang purba berpapasan di pernapasan.


Di Bawah Pohon Mahoni - Adimas Immanuel


Aku pernah duduk di bawah pohon mahoni
dan melihat dunia berlari teramat lambat
dan awan-awan senantiasa berkejaran, 
melarikan diri dari kesedihan dan luka
yang ajek menuntut tepati perintah 
untuk menjaga bumi dan seisinya.

Kala itu, aku yakin pohon mahoni
pelindungku dari pertempuran ini.

Mengapa harus ada pertempuran
yang musuhnya tak aku ketahui?

Batangnya tidak berbanir, memanggil
pulang masa kecil yang bertahun-tahun
dilarikan cuaca, rutinitas dan jam kerja.
Kulit luar berwarna cokelat kehitaman, 
beralur dangkal seperti sisik yang biasa
muncul di wajah yang disekap trauma.

Mengapa harus ada trauma
jika kesedihan seperti minum kopi,
seperti kebiasaan sehari-hari?

Ia tumbuh liar di hutan dan di jalanan
tumbuh sendiri dalam dunia yang
menuntut semua berpasang-pasangan,
seperti kata aduh yang ditunda keluar
dari mulut kita yang senantiasa lapar.

Apakah jika manusia tersedu-sedan
Tuhan juga butuh perlindungan?

Rupanya kau hembus angin itu,
membakarku dalam jerat api
yang panasnya kucintai.

Jakarta, 2015

Yang Berkejaran di Kota Ini - Adimas Immanuel


Kota ini pendulum raksasa. Sepi sesekali 
melenting ke sini sesekali ke sana.
Malam meringkus kita lewat banyak tetapi.

Kota ini sejumlah kenyataan yang berlari,
sebab dalam lututku kutanam bahasa 
yang kelak akan mengingatkanmu:
cinta yang kuat pun butuh kuda-kuda. 

Kota ini mengalirkan sejumlah ingatan
dari hutan percakapan yang tak tersusuri, 
sebab kau adalah bau getah damar 
di kapak penebang itu: getir waktu. 

Kota ini masih akan berselubung duri,
selama kita masih nada sambung telfon 
yang putus asa dan terus mencari.


Jakarta, 2015


Antara - Adimas Immanuel

Sejumlah cerita tak punya
katup pernapasan yang baik.
Sejumlah nasib harus tersedak:
tersangkut pangkal lidah kemarin
dan gelap kerongkongan esok.

Tapi Tuhan terjaga di batas antara
padang sungkur dan lapang syukur
para buruh. KuasaNya bergemuruh
menjaga lantur dan dengkur mereka.

Jakarta, 2015

http://www.adimasimmanuel.com/2015/05/antara.html

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!