Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Rangkuman The Art Of War karya Sun Tzu

Judul: The Art Of War 

Penulis: Sun Tzu

Penerbit: Shambhala


Mengetahui kapan menyerang dan kapan tidan menyerang, Menyadari kekuatan dan kelebihan dari kelemahan. Buku ini mengajarkan seni dari perang, seperti judulnya. Buku ini mengajarkan agar kita mengetahui kelebih dan kekurangan dan yang paling penting adalah mengetahun dan mengenali musuh dan diri sendiri. Dalam medan perang sangat penting untuk tidak terlihat, berhati hati adalah kuncinya. Bagaimana musuh bisa terpedaya dan percaya bahwa ketika kita mendekat, kita justru terlihat menjauh, dan saat kita menjauh musuh terpedaya dan percaya kalau kita dekat. Muslihat sangat penting. Tunjukkan kalau kita kuat meskipun kita dalam keadaan lemah dan terlihat lemah saat kita kuat. Dalam perang, hadapi musuh ketika ia sedang tidak siaga, ketika penyerangan tidak bisa ditebak oleh musuh. Negara yang berperang tidak mendapatkan keuntungan instan, bahkan kerugian mungkin yang terlihat, apalagi jika perang berlangsung sangat kama. Ada lima hal penting untuk mencapai kemenangan. Pertama, kemenangan berpihak pada mereka yang tau kapan harus menyerang. Kedua, pada mereka yang mengetahui cara mengontrol kekuatan dari yang paling kuat sampai paling lemah. Ketiga, mereka yang yang mempunyai semangat. Keempat mereka yang mempersiapkan diri untuk menunggu saat dimana musuh sedang tidak siaga dan terakhir, mereka yang memiliki kapasitas militer yang luar biasa dan tidak terpengaruh dan merdeka dari campur tangan penguasa. Jika kamu mengetahui musuh dan mengenali diri sendiri, kamu tidak perlu takut akan ratusan peperangan dan hasil akhirnya. Dan dalam peperangan ingatlah bahwa hanya ada dua metode yaqitu langsung dan tidak langsung. Dan yang paling penting, berani menantang kematian maka tak ada keberhasilan yang tak bisa kalian raih.



Resensi Buku Sintaksis karya Miftahulkhairah Anwar dan Sakura Ridwan

Judul : SINTAKSIS
Memahami Satuan Kalimat Perspektif Fungsi
Penulis : Miftahulkhairah Anwar dan Sakura Ridwan
Penerbit : PT Bumi Aksara
Tahun Terbit : Oktober, 2014
Tebal Halaman : 238 halaman





SINOPSIS BUKU

Ahli bahasa mulai menyadari banyaknya keragaman bahasa manusia dan mempertanyakan anggapan dasar mengenai hubungan antara bahasa dan logika. Untuk bisa menjelaskan bahasa secara logika, ditemukanlah aturan umum yang diterapkan pada setiap bahasa alami. Aturan tersebutlah yang dipelajari dan disebut sebagai ilmu sintaksis. Aturan umum yang dipelajari dalam sintaksis adalah dasar untuk membentuk kewacanaan. Sintaksis mengkaji hubungan antar satuan bahasa mulai dari frasa, klausa, kalimat, dan wacana.

Buku ini mengulas satuan-satuan bahasa tersebut mulai dari penjelasan, hubungan antar satuan, serta terdapat evaluasi berupa latihan di setiap akhir bab.

KELEBIHAN BUKU

Kelebihan dari buku ini adalah materi yang dijelaskan sangat detail dan dapat dipahami apalagi dengan adanya contoh-contoh oh yang dibuat dengan diagram pohon juga tabel. Ukuran buku yang hanya setebal 238 halaman sangat ringan dan mudah untuk dibawa kemana-mana. Ukuran huruf juga tidak terlalu kecil sehingga tidak membuat mata lelah.

KEKURANGAN BUKU

Kekurangan buku ini adalah ada beberapa yang salah ketik sehingga buku ini memerlukan panduan dari ahli. Lalu ada kolom atau lembar untuk menulis jawaban untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di bagian latihan akan tetapi halaman tersebut (yang cuma 1 halaman) tidak cukup untuk menuliskan jawabannya.

Sayap Sayap Patah - Sebuah Laporan Bacaan


Sebelum menuliskan keindahan dari buku ini, buku ini awalnya ditulis tahun 1912, didedikasikan untuk Mary Elizabeth Haskell, perempuan yang sungguh dicintai oleh Gibran. Mungkin memang fiksi, tetapi disini kita bisa melihat bagaimana seorang Kahlil Gibran menggambarkan cinta yang tidak membahagiakan.

Tokoh utama dari cerita ini adalah seorang pemuda, yang menggambarkan Kahlil Gibran itu sendiri, dan seorang perempuan bernama Salma Karama, yang berumur 20 tahun kala itu. Mungkin saja, ini adalah cinta pertama dan terakhir Kahlil Gibran. Salma adalah gadis cantik muda dari Beirut yang digambarkan begitu indah seperti kolam, begitu dalam sedalam lautan, dan menghidupi hidupnya. Cerita dimulai ketika Gibran pergi ke Lebanon untuk jalan-jalan dan bertemu dengan sahabat ayahnya, Farris Effandi Keremy. Farris berusia cukup tua dan sangat lembut dan baik hati dan telah kehilangan istrinya ketika Salma masih remaja. Dia mengundang Kahlil Gibran ke rumahnya. Suatu malam Gibran pergi ke sana dan bertemu dengan seorang gadis cantik Selma yang merupakan putri Farris, dan begitulah mereka saling jatuh cinta.

Cinta sejati mereka akhirnya tidak membahagiakan karena Salma dipaksa menikahi keponakan Uskup Bulos Galib yang bernama Mansour, yang meskipun tanpa restu dari ayahnya tetapi tetap dilaksanakan karena tidak ada yang bisa melawan Uskup. Kehidupan Salma berubah menjadi kesengsaraan setelah pernikahannya, sementara Gibran menderita kehilangan perempuan yang dicintainya.

Dan setelah lima tahun menikah. Salma melahirkan seorang anak laki-laki  yang meninggal segera setelah ia dilahirkan. Selma juga, pada akhirnya, meninggal.

Sungguh, cerita ini adalah cerita paling tragis, dan menyedihkan, menurut saya setelah Romeo & Juliet dari Shakespeare. Ini adalah adalah kisah cinta yang sederhana, sejuk, tenang, lembut, dan dengan akhir yang menyedihkan. Cerita ini memberitahu kita bagaimana mengekspresikan diri tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan bagaimana cara mendengarkan keheningan. Cerita ini memberi tahu kita apa arti kata “cinta”  yang sesungguhnya dan makna dari kebahagiaan dan juga kesedihan. Cerita ini menceritakan betapa mudahnya memahami cinta yang sesungguhnya namun betapa sulitnya kadang-kadang teguh memegangnya.

Dalam cerita ini juga, Kahlil Gibran mengatakan bahwa cinta itu seperti air, kita tidak bisa menahannya di tangan. Kita bisa menghirupnya di dalam diri kita, tetapi kita tidak bisa menahannya, air itu masuk ke dalam diri. Bahkan, air itu menghasilkan kehidupan di dalam diri kita. Cinta bukan tetntang mendapatkan, sebaliknya itu bukan kerajaan atau permainan yang kita butuhkan untuk menang, tetapi itu sebuah perasaan yang lebih menginginkan untuk memberi daripada mendapatkan atau berekspektasi. Kahlil menuangkan pikirannya yang murni dalam cerita ini.

Saya membaca buku ini pertama kali ketika kelas dua SMP, dan begitulah saya jatuh cinta dengan puisi dan prosa dan seluruh kata kata cinta yang apik dan bernilai. Sayap Sayap Patah bukan hanya sebuah buku, melainkan sebuah karya seni. Karya seni yang begitu mengesankan untuk bukan hanya sekadar dibaca, namun juga direnungkan, mengingatkan kembali diri kita sendiri tentang kemurnian jiwa dan cinta.

Salah satu kutipan yang paling saya suka dari buku ini adalah,
"The heart of a woman does not change with time and does not change with the seasons, the woman's heart is long but not dead. The heart of a woman resembles the wilderness that man takes as a battlefield for his wars and his escape. He uproots her trees, burns her herbs, stabs her rocks with blood and implants her bones and skulls, but remains calm, still and reassuring. The spring keeps spring and autumn to the end of the ages ... "



Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!