Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Kisah Iseng Chandraningtyas (Sebetulnya ada lima, tapi dihapus semua, sisa satu ini)


Sudah beberapa minggu ini, aku, sebagai penulis berusaha mengenali figuran yang sudah terlanjur terjebak dalam beberapa tulisanku. Kubaca ulang, terus menerus. Sebagai penulis yang baik, menurutku, adalah kewajiban untuk mengenali setiap rekaannya. Bukan hanya kenal justru, memahami.

Aku, kebetulan juga, terjun langsung menjadi figuran, itu pun tidak sengaja, mungkin sudah takdirnya. Jadi figuran, begitu melelahkan. Kebetulan, aku dipilihkan untuk terjun ke cerita Ramayana, itu loh kisah cinta Rahwana, Shinta dan Rama. Bukan, bukan Ramayana sungguhan seperti di cerita wayang itu. Tapi menyerupai lah, anggap saja ini versi populernya. Jarang bukan, aku behubungan dengan karya tulis populer.

Jadi figuran sama sekali menyenangkan di awal, bahkan aku tidak tahu kalau aku seorang figuran. Aku terus saja hidup, mengimbangi tokoh utama, dan hampir lupa diri. Wah, bukan salahku kan jika pencerita juga tidak memberitahuku? Kasih semacam clue saja tidak. Sebut saja, namaku.. hmm Chandraningtyas? Chandraningtyas kulihat di salah satu website nama Jawa, artinya seorang perempuan yang hatinya seterang bulan. Aku tidak seperti itu sih, hanya suka saja namanya. Cantik. Inti cerita, adalah Rahwana mencintai Sinta, Rama mencintai Sinta, Sinta entah mencintai siapa, kalau di kisah Ramayana sih jelas, Sinta mencintai Rama, dan Aku mencintai Rahwana. Jangan tanya, siapa yang mencintaiku, sudah jelas ia tidak masuk dalam kisah ini. Atau mungkin figuran lainnya? Ah bodo amat. Awalnya, Chandraningtyas ini begitu menikmati perannya jadi figuran sampai sampai ia terlalu menyayangi semua tokoh dalam cerita ini, iya termasuk Shinta. Shinta memang agak menyebalkan, jelas, aku dan beberapa figuran seringkali gosipin dia. Tapi, Sinta kalau moodnya baik, itu baik banget loh. Dan Chandraningtyas diajarkan papanya untuk nggak melupakan perbuatan baik orang. Chandraningtyas juga sudah berani, berani buat dialog dengan tokoh utama satunya, ia Rahwana. Berani banget nggak sih? Itulah, figuran nggak tahu diri. Mau buat ceritanya sendiri, eh malah mati. Bukan, bukan karena perang, apalagi dikutuk seorang Brahmin. Ia memang harus mati, dan mematikan diri sendiri.

Bukan, bukan bunuh diri. Enak banget kalau bisa bunuh diri. Figuran memang harus begitu, harus mati. Masih bersyukur dikasih beberapa paragraf, pakai dialog lagi.

Sakit betul memang jadi figuran. Pertama, ia sudah jelas tidak ada dalam alur cerita, keberadaannya tidak akan digubris pembaca, masih syukur ada dua tiga orang yang ingat namanya, iya Chandraningtyas, kuulang biar kamu ingat. Kedua, dia terlanjur nyaman dengan tokoh tokoh yang ada dalam cerita itu, sayang lagi. Padahal, sebaris kalimat lagi, figuran sudah harus mati. Ketiga, ya itu, cinta bertepuk sebelah tangan dengan Rahwana saja sudah bikin demam dan nggak mau kemana mana, nah ini cintanya kepada Sinta juga bertepuk sebelah tangan, hampir hampir dia pikir cintanya juga bertepuk sebelah tangan dengan si Pencerita. Keempat, bukan hanya terlalu nyaman dengan tokoh tokohnya, ia juga terlalu nyaman dengan latar tempat, latar waktu, latar suasana yang ada di tiap tiap baris cerita. Latar tempat dalam cerita ini memang bukan istana Alengka, jelas bukan, tapi Chandraningtyas sudah terlalu lama ada di situ. Ia sampai bisa berjalan ke toilet, atau ruang apapun tanpa melihat. Latar waktu juga begitu, bayangkan bertahun tahun, ia terbiasa ada di situ setiap waktu, namun kini, ia sampai ngechat tiap orang untuk nanya apakah ada yang free malam minggunya biar bisa nemenin Chandraningtyas. Habisnya, kalau di rumah Chandraningtyas cuma bisa nangis, dasar bego. Latar suasana apalagi, ya bayangkan saja, Chandraningtyas sudah menganggap kisah Ramayana jadi jadian ini adalah rumah. Harus pergi dari rumah, adalah mati pertama yang dialami Chandraningtyas.

Sebetulnya, Chandraningtyas bisa saja tidak pergi dari kisah ini dan menikmati terus perannya sebagai figuran. Tapi apa daya, hati Chandraningtyas nggak sekuat itu ternyata. Sudah ditolak Rahwana, dimarah marahi, dasar Dasamuka gila, lalu dibilang kalau perannya disitu pun justru membawa ketidakbahagiaan bagi Rahwana. Ironisnya, hampir seluruh monolog Chandraningtyas adalah doa agar Rahwana bahagia, itu saja. Memang sudah outlinenya kali ya Chandraningtyas itu bawa sial. Belum lagi harus melihat wajah Rahwana yang patah hati karena ditolak Shinta. Kalau bunuh diri nggak dosa dan menyangkal si Pencerita, sudah dari dulu Chandraningtyas lakukan. Belum lagi Shinta yang masih saja ngeledekin Chandraningtyas dengan Rahwana, sudah tahu Rahwana sukanya sama dia. Untuk apa lagi? Kepingin Chandraningtyas sakit hati seberapa lagi? Masih sempat juga lagi, kadang nyuekin kadang negor. Pakai ngeblock segala. Lucunya, Rahwana yang mengira Shinta suka sama dia. Mau sedih tapi rasanya kepingin mampus mampusin, tapi mau senang juga nggak bisa, siapa yang bisa ngeliat sepuluh wajah Rahwana sedih? Chandraningtyas bisa gila. Lah kita semua, juga tahu Shinta sukanya sama siapa, baru nolak Rahwana, besoknya makan Sumoboo sama Rama satu mangkok berdua, belum lagi Shinta juga ngodein Rama mulu di Whatsapp Group, Rama juga udah mikir mikir mau ngawinin Shinta. Tapi, Chandraningtyas bisa apa? Apapun yang ia lakukan sekarang juga tidak bermakna, nggak ngaruh apa apa. Nih ya, kalau apes, dan si Rahwana baca tulisan ini. Habis Chandraningtyas dimarahi, tapi bodo amat. Please, kalau baca dan geer kalau situ Rahwananya, diam aja. Ini tuh fiksi tau.

Chandraningtyas tahu lebih sakit untuknya kalau meninggalkan cerita ini, tapi apa gunanya bertahan jika ujung ujungnya mati, kemungkinan dihabisi pula. Kalau menurut pembaca, figuran seperti Chandraningtyas ini harus apa sih? Soalnya, Chandraningtyas sudah kehabisan teman yang free malam minggunya, dan rasa sakit yang cuma dibawa kabur kayak gini, nggak bakal sembuh. Pencerita, belum sebaik itu untuk melanjutkan cerita Chandraningtyas. Kalau boleh, kasih aja Chandraningtyas teenlit komedi yang latarnya sama, jadi Chandraningtyas bisa ketawa ketawa dan nggak perlu pergi dari situ. Itu pun kalau boleh, ini saja masih bisa curhat sudah alhamdulillah.

Chandraningtyas masih mau ada di situ kok Pencerita. Tapi Chandraningtyas mau bahagia. Sumpah.


Sepenggal Kisah Ayu dari Kisahnya yang Panjang Itu - Dua Bab Sebelum Epilog


“Waktu gue kecil, gue nggak banyak mau, nggak banyak minta. Sekalinya gue minta, waktu itu gue minta mainan mobil yang pakai remote control, pas nggak dikasih gue sakit.”

Aku mengerti.

+++

Bekas hujan yang basah di tapak kaki kita adalah bukan apa apa lagi, sejak waktu itu. Bukannya baru kali ini, aku sadari kalau jelas laki laki di hadapanku sekarang tidak mencintaiku. Hanya saja, selama ini aku terus saja yakin akan ada keajaiban, yang entah datang dari mana. Kupikir, cinta tidak pernah sia sia.

Iya jelas, sampai ada yang lain membawakan cinta yang diinginkannya.

Kalimat itu terus terngiang ketika aku teringat kembali, dulu kamu pernah sebegitunya mendekati perempuan, yang mungkin baru kaukenal dua hari itu. Kupikir, bodoh sekali cinta yang seperti itu. Tapi, dipikir pikir. Cinta mungkin, memang tidak butuh waktu. Dan seperti mobil remote control itu, laki laki yang kucintai itu mencintainya.

Bekas hujan yang basah di tapak kakiku adalah mengerti tentang aku yang seharusnya pergi, sejak lama sekali. Bekas hujan yang basah di tapak kakiku paham betul tentang cinta seharusnya butuh kuda kuda.

Bekas hujan yang basah di tapak kakiku adalah harusnya tidak bertanya tanya lagi, karena semua yang kau lakukan, sebaik yang bisa kupahami, adalah cinta yang putus asa dan tidak mengerti dan tidak percaya dan tidak ingin.

Kau jelas, tidak ingin mencintaiku.
Aku mengerti.

+++

“Ayu!”

Laki laki itu, yang kucintai itu, namanya Rangga. Seperti doa, dia jelas jelas adalah pelindung. Dia adalah pelindung kesepian yang dahaga, dan air mata yang selalu ada di ujung mata.

“Iya mas Rangga, kenapa?”
“Kamu kenapa?”

Ah pertanyaan yang sama, itu lagi. Kenapa.
Pertanyaan yang selalu itu itu saja. Awalnya kupikir itu adalah bentuk kepedulian, atau apa. Sudahlah aku tak mengerti.

“Nggak apa apa.”

Dan, kembali, jawaban yang sama.

Mas Rangga hanya tersenyum, lain kali ia bisa marah jika dijawab begitu. Dijelaskan, dijawab pun tak akan ada hasilnya. Dia akan selalu begitu. Selalu.

Bagaimana bisa kujawab, semua alasan kesedihanku adalah tentang dirimu, Mas.

Mungkin, dugaanku memang benar. Mungkin akulah yang sulit dicintai. Mungkin, aku tak akan pernah bisa dicintai.

“Ayu, lo kenapa? Nggak mungkin nggak kenapa kenapa.”

+++

Banyak hal yang kucintai tentang laki laki yang kucintai itu. Begitupun banyaknya pertanyaanku yang gila lompat lompat di kepala, tiap detiknya.

Salah satunya, ia pandai memungut hujan, apalagi kesedihan.
Begitupun juga, ia pandai memanggil hujan, sederas derasnya, juga kesedihan.

Rangga, memang bukan Pandawa Lima. Tapi asal tahu saja, ibunya secantik Dewi Kunti, dengan kewibawaan yang kira kira setara kisah legenda tentang Alengka. Rangga, adalah teka teki, lukisan tanpa pola, abstrak impresionis

“Kalau saya suka banget sama lukisan Cy Twmbly. Browsing deh”

Cy Twombly. Kau. Serupa

+++

Aku menghanyutkan diriku dalam angin yang menerpa bulu matamu, dan putus asa yang nyala dalam batinku.

Aku mengerti.

+++

“Ayu, ini perasaan gue doang atau memang perempuan itu berubah ya?”




Hujan Sudah Berhenti





 
Ilustrasi oleh Ida Bagus Gede Wiraga



Hujan Sudah Berhenti
Cerpen Bernard Batubara



“Hujan sudah berhenti, Annelies.”

“Ya, Mama.”

Jika Mama sudah berkata seperti itu, maka aku harus berhenti menatap pada jendela. Setelah hujan pergi meninggalkanku sendiri, aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan titik-titik air yang masih membekas di permukaan kaca, dan menulis sebuah surat untuk kusampaikan kepada angkasa. Percakapan kami tak boleh didengar oleh siapapun. Termasuk Mama.

“Kamu harus berangkat kursus, Annelies.”

“Ya, Mama.”

Mama tak pernah tahu bahwa aku bisa berbicara kepada hujan. Percakapan kami memang tidak menggunakan bahasa manusia. Bahasaku dan bahasa hujan sungguh berbeda. Aku tak bisa bicara kepadanya menggunakan bahasaku dan dia tak bisa bercerita kepadaku memakai bahasanya. Maka kami bersepakat untuk menciptakan bahasa baru. Bahasa yang hanya dipahami oleh kami berdua.

Awan hitam adalah temanku yang lain. Dia yang selalu mengantarkan hujan kepadaku. Namun dia tidak pernah mengantarkan Papa.

Seandainya Papa masih ada di sini, mungkin dia akan mengerti bahasa yang kuciptakan bersama hujan. Sebab Papa menyukai awan-awan.

“Hujan sudah berhenti, Annelies.”

“Papa! Ayo kita berburu pelangi!”

Jika Papa sudah berkata seperti itu, maka aku akan menghambur ke dalam pelukan Papa dan menggamit lengannya dan kami akan berlari ke arah langit yang memiliki pelangi. Mama tidak ada di rumah, sedang bekerja. Kala hujan sudah berhenti, tak berapa lama lagi dia akan pulang, dengan wajah yang lelah, dan langsung rebah di kamar mengistirahatkan tubuh. Mama tak suka berburu pelangi.

Papa mengajariku mencintai hujan, sebab kata Papa, basah adalah anugerah. Dan setelah gemuruh beserta bising petir dan pemandangan kelam yang dibawa awan-awan hitam, ada pelangi yang selalu mengingatkanmu bahwa kehidupan selalu bisa dinikmati dengan cara yang lebih baik. Bahwa seburuk apapun nasib menimpamu, harapan tak pernah lenyap. Ketika itu aku hanya tersenyum menatap Papa yang tersenyum padaku dan mendekapku ke dalam tubuh hangatnya dan kami akan bermain tebak-tebakan tentang siapakah yang menciptakan pelangi dan hujan.

Aku menjawab, “Tuhan dong, Papa.”

Papa menyuruhku mencari jawaban yang lebih kreatif. Aku mengingat sebuah lagu yang diajarkan ibu guru di sekolah. “Agung, Papa, soalnya pelukismu Agung...” Dan Papa tertawa. Aku suka mendengar suara tawa Papa.

“Kamu pintar, Annelies. Tapi kamu tahu siapa sebetulnya yang menciptakan pelangi dan hujan? Atau sebaliknya, hujan dan pelangi?”

Aku hanya mendongak ke langit. Papa merangkulku. Wangi tubuh Papa seperti harum daun-daun basah.

“Kamu, Annelies, kamu lah yang menciptakan hujan dan pelangi.”

***

Aku menulis surat kepada angkasa untuk bicara dengan Papa. Seandainya Mama mengetahui hal itu, mungkin dia akan menyuruhku berhenti duduk di dekat jendela.

“Hujan sudah berhenti, Annelies.”

“Ya, Mama.”

“Kamu harus memotong rambutmu. Sudah terlalu panjang. Tidakkah kamu terganggu?”

“Tidak, Mama. Tapi aku akan memotongnya kalau Mama mau.”

“Mama akan pulang terlambat. Di kulkas ada telur dan sarden. Jangan lupa jemur pakaian, Annelies.”

“Ya, Mama.”

Langkah sepatu Mama mendekatiku. Dia memelukku dan mencium pada pipiku. Aku merasa seperti dicium sebongkah es. Wangi tubuh Mama seperti aroma akar pohon.

Ketika hujan sudah berhenti dan Mama telah pergi, aku akan menyelesaikan urusan-urusanku. Urusan yang diberi oleh Mama dan urusan yang kususun untuk Papa. Sebuah surat lagi kepada angkasa yang muram. Karena semenjak pada suatu hari Papa pergi dan tak pernah kembali, aku hanya bisa bicara kepada hujan dan berharap dia menyampaikan kata-kataku untuk Papa.

Aku ingin berkata kepada hujan bahwa aku rindu Papa. Namun, Papa bilang, kata “rindu” memiliki gelombang yang terlalu kuat dan aku khawatir meski aku bicara dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh aku dan hujan, Mama bisa mendengarnya dari kejauhan dan bergegas pulang ke rumah untuk memukuliku. Sebab di suatu malam saat hujan sudah berhenti dan suaraku tak terhalau lagi oleh ribut air bertumbuk dengan atap rumah, aku bilang kepada Mama, “Aku rindu Papa…” Mama berubah menjadi gemuruh petir dan menyambar sebelah pipiku dengan sebelah tangannya yang putih namun keras.

Saat melakukannya, sepasang mata Mama menjadi kilat. Aku tahu, semenjak Papa pergi, di dalam dada Mama takkan pernah lagi tumbuh pelangi.

***

“Hujan sudah berhenti, Annelies.”

Aku tak sempat mengajak Papa berburu pelangi. Mama menghampiri kami dan berbicara kepada Papa dengan suara yang begitu nyaring sehingga aku merasa hujan akan segera turun lagi.

“Ke mana saja kau kemarin?”

“Bekerja. Kenapa?”

“Jangan bohongi aku! Kemarin kulihat kau masuk ke dalam hotel bersama seorang perempuan!”

“Ayo, Annelies, kita berburu pelangi. Hujan sudah berhenti.” Ayah menggamit tanganku, namun aku masih menatap Mama. Dia masih berdiri dengan mata yang berkilat-kilat menatap Papa yang tak menatapnya.

Saat aku melangkah keluar pintu rumah, Mama melempari punggung Papa dengan remot televisi. Papa tak bersuara dan tersenyum kepadaku. Mama melempari jendela dengan piring dan gelas. Di luar, hujan sudah berhenti. Tetapi aku membalikkan badan dan aku melihat ada halilintar di dalam rumah.

***

Setiap hujan turun, aku merasa bisa bicara dengan Papa. Tetapi Mama membenci Papa seperti dia membenciku setiap mendapatiku sedang duduk diam di dekat jendela. Beberapa waktu lalu, ketika aku sedang bercakap-cakap dengan hujan dan tentu saja dengan bahasa rahasia yang kami ciptakan, hujan memberitahuku bahwa Papa merindukanku dan ingin sekali bertemu denganku.

Aku tersenyum dan dadaku terasa hangat. Seolah Papa sedang memelukku dengan tubuhnya yang mengantarkan hawa perapian.

“Hujan sudah berhenti, Annelies.”

“Ya, Mama.”

“Bereskan barang-barangmu Annelies, kita akan pindah.” Bunyi sepatu Mama mengusik percakapan terakhirku dengan hujan. “Dan, Annelies, berhenti duduk di dekat jendela itu. Oh, sungguh! Apa yang kamu lakukan, bicara dengan jendela?”

Tidak, Mama, aku bicara dengan hujan.

“Ayo anakku, berhenti melamun dan kemasi barang-barangmu. Kita akan meninggalkan rumah ini.”

“Kita mau ke mana, Mama?”

“Kamu selalu mencari Papa, bukan? Kamu akan bertemu dengan Papa.”

“Sungguh?”

“Kemasi barang-barangmu!”

Aku menulis surat terakhir kepada hujan: Dear, hujan, terima kasih telah menemaniku semenjak Papa pergi. Sekarang, aku akan bertemu lagi dengan dia. Papaku, Papaku sendiri. Papa yang mengajariku untuk mencintaimu. Terima kasih, titik-titik air di jendela, telah menyimpan bahasa rahasiaku dan tetap tinggal di sana meski hujan sudah berhenti. Aku takkan merepotkan kalian lagi. Terima kasih.

***
Hujan sudah berhenti.

Aku duduk di hadapan jendela rumah yang baru. Di rumah ini suara hujan tak terdengar. Teredam oleh atap. Di hadapan mata jendela *), aku mengingat Papa. Mama telah membawaku ke tempat yang asing dan kata-katanya tak pernah terbukti. Aku tak pernah bertemu dengan Papa. Alih-alih, aku bertemu dengan lelaki lain. Lelaki itu baik tapi tubuhnya tak seperti Papa, tak beraroma daun-daun basah. Lelaki itu memiliki harum kulit kayu.

Rumah ini jauh lebih besar dari rumah Papa yang telah kami tinggalkan dan kini menjadi milik orang lain. Setelah lima tahun berlalu, aku mulai terbiasa dengan segala keterasingan yang mengelilingiku. Lelaki asing yang kini bersama Mama semakin hari semakin terasa asing. Bahkan, Mama kini tampak asing bagiku. Mungkin, lelaki asing itu juga akan selamanya asing di dalam mata Mama. Sebab setiap kali aku melihat Mama memeluknya dan menciuminya dan memanggilnya dengan kata-kata sayang, aku hanya merasakan kekosongan dalam setiap hal yang Mama lakukan.

Aku melihat ke balik jendela. Kini, semuanya terasa kian asing. Satu-satunya yang masih terasa akrab bagiku hanyalah hujan. Tetapi hujan sudah berhenti. ***




*) judul puisi M Aan Mansyur



Dongeng Putri Kencur dan Tomat


Pada suatu hari, hiduplah seekor Putri Kencur yang hidup di kerajaan megah di sebuah halaman nenek nenek di Negeri Utara. Putri Kencur ini suka sekali makan makanan enak, belajar sulap dan bernyanyi untuk pohon pohon sahabatnya. Putri Kencur memang anak yang baik, semuanya bilang begitu. Putri Kencur adalah anak yang manis, dan disayangi semua orang. Siapa yang bisa nggak sayang sama Putri Kencur? Begitu kadang ucap orang orang di sekeliling Putri Kencur.

Tapi Putri Kencur, punya satu rahasia. Rahasia yang nggak semua orang tahu tentang Putri Kencur. Putri Kencur jatuh cinta dengan Tomat. Iya Tomat. Aneh bukan? Kencur mencintai Tomat. Padahal, kata Raja Kencur, ayah Putri Kencur, Putri Kencur harusnya menikah dengan Kencur juga, entah, pangeran kencur dari negeri mana. Harus pangeran, bisa hancur kerajaan megah ini kalau Putri Kencur menikah dengan Putri Kencur juga, nggak boleh kan ada dua puteri dalam satu istana? Apalagi Raja Kencur juga, nggak boleh. Nah Ratu? Juga nggak boleh. Apalagi kencur kencur lainnya, pokoknya harus Pangeran Kencur. Lah ini malah Tomat, duh Putri Kencur mau taruh mukanya dimana, mahkota yang ia jaga mengkilat di kepalanya tidak boleh sampai jatuh, Putri Kencur ini harus tetap jaga image, Putri Kencur adalah putri yang gagah dan tahu diri, memegang prinsip, kalau ia harus menjaga dan membentuk dirinya sendiri dengan kokoh di dunia yang menyebalkan ini.

Tapi ia jatuh cinta dengan Tomat. Duh kuulang sekali lagi ya biar kalian semua tahu betapa mengejutkannya seorang Kencur jatuh cinta dengan Tomat. Tomat yang berbeda sama sekali dengan Kencur, segalanya berbeda! Negerinya, pola hidupnya, sampai mungkin, definisi jatuh cintanya juga berbeda. Tapi Tomat ini, duh Putri Kencur suka sekali Tomat ini. Tomat yang ini itu baik sekali, warnanya merah seperti warna lipstick kesukaan Putri Kencur, matanya besar seperti mata anak anak dan Putri Kencur suka sekali anak anak, Tomat yang ini itu walaupun suka cheesy dan annoying tapi ya begitu, bikin kesel kesel gemas.

Jatuh cinta dengan Tomat, adalah pengecualian paling berani yang pernah dilakukan Putri Kencur. Ya bayangkan saja kalau sampai Raja Kencur, atau sahabat sahabat Putri Kencur tahu. Apalagi Tomat ini tuh bukan dari sebuah kerajaan, dia bukan Pangeran Tomat, bukan juga Putri Tomat, apalagi Banci Tomat. Ah Putri Kencur juga tidak begitu peduli. Ia tidak peduli Tomat itu apa, Tomat ya Tomat.
Sampai suatu hari, Putri Kencur dan Tomat sedang berjalan jalan di Kerajaan Raja Kencur, Putri Kencur dan Tomat bertemu KoliKoli, Brokoli teman Raja Kencur. KoliKoli ini curiga pada Tomat, tapi Putri Kencur bilang kalau mereka hanya berteman. Putri Kencur takut ketahuan oleh KoliKoli. Putri Kencur lupa, kalau ia menyakiti hati Tomat.

Tomat juga ternyata jatuh cinta dengan Putri Kencur. Tomat begitu sedih ketika ia tidak diakui oleh Putri Kencur. Sebetulnya ia tahu juga kalau sesuatu seperti ini akan terjadi, entah sampai kapan. Tapi, tetap saja mereka berdua sedih. Putri Kencur sedih karena menyakiti hati Tomat, dan Tomat sedih, jelas, iyalah kan Tomat yang disakiti.
Putri Kencur menerima Tomat, dengan seluruh tubuh Tomat yang bulat dan merah itu. Cuma ya, Putri Kencur nggak bisa terima dengan masyarakat Kerajaan Raja Kencur yang nantinya tidak menerima dirinya yang mencintai Tomat, membingungkan ya. Putri Tomat menerima Tomat, dan berharap Tomat juga dapat menerima dirinya, dirinya sendiri maksudnya. Putri Tomat tidak peduli kok kalau suatu saat Putri Kencur tidak diterima lagi oleh Tomat asal Tomat bisa menerima dirinya sendiri, itu cukup bagi Putri Kencur, setidaknya supaya mereka bisa hidup bahagia, meskipun sendiri sendiri nantinya. Kisah cinta mereka toh juga tidak bisa dibawa kemana mana nantinya, entahlah, pengetahuan dan kecerdasan Putri Kencur belum sampai situ. Putri Kencur cuma berharap ia melakukan sesuatu yang baik, apalagi untuk Tomat.

Putri Kencur masih mau melakukan banyak hal dengan Tomat, meskipun seringkali cuma bikin kesal Tomat. Tapi kadang, bikin kesal Tomat juga menyenangkan sih. Putri Kencur mungkin cuma bisa menunggu Tomat, dan membiarkan Tomat menyelesaikan masalahnya sendiri. Putri Kencur memang seharusnya sadar, cara pikir Kencur nggak bisa selamanya diterapkan ke Tomat, lah pupuknya aja sudah beda. Putri Kencur percaya, Tomat sudah dewasa dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Putri Kencur Cuma ingin Tomat tahu, kalau ia cuma khawatir, kalau ia Cuma menginginkan yang baik baik aja untuk Tomat. Putri Kencur juga ingin Tomat tahu, kalau Putri Kencur kepingin lagi diajak ke Ancol, pas Ancol lagi sepi. Putri Kencur juga kepingin makan seblak pedes level tiga lagi.

Sekarang pencerita bingung nih, mau tulis “Akhirnya mereka hidup bahagia selama lamanya” atau nggak. Putri Kencur dan Tomat nggak peduli selama lamanya kok, kalau kata Tomat sih, mau mecahin rekor dua tahun, kalau Putri Kencur sih percaya garis tangan, kita lihat saja, garis tangan Putri Kencur dan Tomat bakal sampai mana.


(Belum Diberi Judul, Tidak Tahu Harus Kasih Judul Apa)


“Waktu gue kecil, gue nggak banyak mau, nggak banyak minta. Sekalinya gue minta, waktu itu gue minta mainan mobil yang pakai remote control, pas nggak dikasih gue sakit.”

Aku mengerti.

+++

Bekas hujan yang basah di tapak kaki kita adalah bukan apa apa lagi, sejak waktu itu. Bukannya baru kali ini, aku sadari kalau jelas laki laki di hadapanku sekarang tidak mencintaiku. Hanya saja, selama ini aku terus saja yakin akan ada keajaiban, yang entah datang dari mana. Kupikir, cinta tidak pernah sia sia.

Iya jelas, sampai ada yang lain membawakan cinta yang diinginkannya.

Kalimat itu terus terngiang ketika aku teringat kembali, dulu kamu pernah sebegitunya mendekati perempuan, yang mungkin baru kaukenal dua hari itu. Kupikir, bodoh sekali cinta yang seperti itu. Tapi, dipikir pikir. Cinta mungkin, memang tidak butuh waktu. Dan seperti mobil remote control itu, laki laki yang kucintai itu mencintainya.

Bekas hujan yang basah di tapak kakiku adalah mengerti tentang aku yang seharusnya pergi, sejak lama sekali. Bekas hujan yang basah di tapak kakiku paham betul tentang cinta seharusnya butuh kuda kuda.

Bekas hujan yang basah di tapak kakiku adalah harusnya tidak bertanya tanya lagi, karena semua yang kau lakukan, sebaik yang bisa kupahami, adalah cinta yang putus asa dan tidak mengerti dan tidak percaya dan tidak ingin.

Kau jelas, tidak ingin mencintaiku.
Aku mengerti.

+++

“Ayu!”

Laki laki itu, yang kucintai itu, namanya Rangga. Seperti doa, dia jelas jelas adalah pelindung. Dia adalah pelindung kesepian yang dahaga, dan air mata yang selalu ada di ujung mata.

“Iya mas Rangga, kenapa?”
“Kamu kenapa?”

Ah pertanyaan yang sama, itu lagi. Kenapa.
Pertanyaan yang selalu itu itu saja. Awalnya kupikir itu adalah bentuk kepedulian, atau apa. Sudahlah aku tak mengerti.

“Nggak apa apa.”

Dan, kembali, jawaban yang sama.

Mas Rangga hanya tersenyum, lain kali ia bisa marah jika dijawab begitu. Dijelaskan, dijawab pun tak akan ada hasilnya. Dia akan selalu begitu. Selalu.

Bagaimana bisa kujawab, semua alasan kesedihanku adalah tentang dirimu, Mas.

Mungkin, dugaanku memang benar. Mungkin akulah yang sulit dicintai. Mungkin, aku tak akan pernah bisa dicintai.

“Ayu, lo kenapa? Nggak mungkin nggak kenapa kenapa.”

+++

Banyak hal yang kucintai tentang laki laki yang kucintai itu. Begitupun banyaknya pertanyaanku yang gila lompat lompat di kepala, tiap detiknya.

Salah satunya, ia pandai memungut hujan, apalagi kesedihan.
Begitupun juga, ia pandai memanggil hujan, sederas derasnya, juga kesedihan.

Rangga, memang bukan Pandawa Lima. Tapi asal tahu saja, ibunya secantik Dewi Kunti, dengan kewibawaan yang kira kira setara kisah legenda tentang Alengka. Rangga, adalah teka teki, lukisan tanpa pola, abstrak impresionis

“Kalau saya suka banget sama lukisan Cy Twmbly. Browsing deh”

Cy Twombly. Kau. Serupa

+++

Aku menghanyutkan diriku dalam angin yang menerpa bulu matamu, dan putus asa yang nyala dalam batinku.

Aku mengerti.

+++

“Ayu, ini perasaan gue doang atau memang perempuan itu berubah ya?”

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!