Ilalang

12.50 Pohon Belimbing 0 Comments

Mungkin sejak danau itu berpusara di pundak dan lenganmu,
kunamai ilalang yang tumbuh satu satu di situ sama dengan namamu
sebab, sama seperti sunyi tak punya suara untuk ilalang
demikian aku tak punya bahasa untuk menjangkaumu

Terinspirasi oleh Water Lilies-Setting Sun, Claude Monet

0 komentar:

Almost Is Never Enough - Ariana Grande

01.14 Pohon Belimbing 0 Comments

I'd like to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right,
But that's a lie, that's a lie
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each others arms
Here we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
You'll be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve oh
Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
Truth is everyone knows
Almost, almost is never enough (Is never enough, babe)
We were so close to being in love (So close)
If I would have known that you wanted me, the way I wanted you, babe
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each others arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

0 komentar:

Malam II

04.48 Pohon Belimbing 0 Comments

Langit malam ini,
adalah bola matamu dengan bulan setengah, bundar setengah
cahaya terpercik percik membakar sunyi di kepalaku yang sakit

“Lihat ada satu bintang merah di kelopak matamu!”
“Itu planet.”
“Itu cantik. Itu kamu!”

0 komentar:

Sebuah Surat

03.29 Pohon Belimbing 0 Comments

I swear I don’t know how – Rosemary Clooney


Bersamaan dengan surat yang juga puisi atau mungkin menurutmu puisi yang juga surat ini, kulampirkan beberapa doa, daun pohon belimbing yang jatuh dan lantunan musik jazz yang manis saat kubentuk juga pada akhirnya kalimat-kalimat.
Aku mengemasnya dalam bentuk kalimat, karena kalimat sepatutnya harus selesai, juga perasaanku.
Perasaan dan kalimatku sekarat. Keduanya ingin selesai cepat-cepat.

Sungguh, sulit sekali mencari kosakata. Perasaanku, apa sudah ada rumusannya? Apa sudah ada maknanya? Perasaanku bukan perkara cerita, apalagi puisi-puisi cinta.
Perasaanku adalah perkara degup jantung yang liar berlari menembus hutan yang kini lebat di kepalaku setiap malamnya, perasaanku adalah perkara gelisah yang berombak-ombak menghabisi pantai di pagi harinya.
Sungguh, sulit sekali mencari bentuk bahasanya.

Intinya, perasaan perasaan itu selalu muncul dengan wajahmu sebagai latar belakang ceritanya. Perkara degup jantung itu? Kau darahnya. Perkara hutan? Kau akar akarnya. Perkara gelisah? Kau kumpulan sajaknya.
Kau adalah alasan Tuhan menguji kekuatan. Kau adalah tanda baca yang tak kelihatan.

Semoga, kau selalu berbahagia, aku juga. Sungguh, kau layak berbahagia

5 April 2017


0 komentar:

Dongeng Kukila Dan Pilang

10.00 Pohon Belimbing 0 Comments

1.
Aku mencintaimu sungguh.
Sungguh.
Kalimat itu akrab dan asing sekaligus lewat kenangan yang kau taruh di tepi jendela kayu akasia yang kita kenali sebagai tempat dimana ciuman dan air mata menjadi awal segala yang dahulu pernah ada yang dahulu kita sebut sebut sebagai cinta.


2.
Mata perempuan itu adalah tanda baca dalam bahasa yang entah darimana asalnya, kerikil yang berjatuhan di jalan setapak yang basah masa kecil yang merindu dan tumpah.
Mata perempuan itu adalah kenangan yang selalu mentahbiskanku agar kembali layak untuk pulang
Mata perempuan itu adalah reda yang paham segala cara agar selalu terkenang

3.
Aku masih sama, betul katamu
Aku masih burung yang rela berpulang ke ranting ranting yang kita kenang sebagai peluk
Kita adalah sepasang mantra yang hinggap sebagai takdir dalam air mata yang tak pernah kita amini sebagai penghujung kisah. Kita adalah sepasang puisi yang terikat bait yang terpisah, yang terpikat pada aksara dan irama

4.
Aku mencintaimu sungguh.
Sungguh.



Terinspirasi novel KUKILA karya M Aan Mansyur

0 komentar:

Perumpamaan Tuhan

09.52 Pohon Belimbing 0 Comments

Jika kesepian menabur ribuan tanda tanya,
Dengan apakah aku menuainya?

0 komentar:

Pengasingan Bahasa Indonesia Dari Bahasa Pergaulan

17.13 Pohon Belimbing 0 Comments

Di tengah era globalisasi yang memadat, bahasa Indonesia dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Hal tersebut telah dibuktikan dalam kebijakan bahasa nasional yang merupakan hasil dari seminar politik bahasa tahun 1999 tentang bahasa asing atau khususnya, bahasa Inggris yang menyebutkan bahwa bahasa asing dapat diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Namun, penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia sendiri ternyata malah membuat tergerusnya bahasa Indonesia itu sendiri. Kosakata bahasa Inggris ternyata justru me-‘ninabobo’-kan kita dari bahasa milik kita sendiri. Dalam berkomunikasi, justru bahasa asing yang diserap itu seakan lebih menarik dan nyaman digunakan ketimbang bahasa Indonesia asli. Sebagai contoh sederhana, kita lebih sering menggunakan kalimat “Handphone saya sedang low battery.” daripada “Baterai telepon genggam saya sudah habis.”

Kecenderungan penggunaan bahasa asing diperparah dengan peraturan sejumlah sekolah yang mengharuskan bahasa asing sebagai bahasa komunikasi pertama. Para generasi muda dibentuk sedemikian agar berpikir bahwa seakan akan bahasa asing adalah bahasa yang dianggap superior dan bahasa dari kalangan terpelajar. Belum lagi, para orang tua yang sudah sejak dini mengenalkan bahasa asing kepada anak yang kenyataannya adalah tetap juga penerus bahasa Indonesia. Mereka berpikiran bahwa, penggunaan bahasa Inggris sejak dini akan berdampak bagus pada anak anak mereka di kemudian hari, tak peduli apa efek jangka panjang yang akan ditimbulkannya. Mereka seakan tak lagi peduli kepada bahasa Indonesia yang sejatinya adalah akar yang menghidupkan mereka.

Selain menganggap bahasa asing adalah bahasa yang superior, generasi muda juga menganggap bahasa asing lebih nyaman dan tepat untuk digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Generasi muda menganggap, penggunaan bahasa Indonesia, apalagi yang baik dan benar sangat tidak nyaman digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. Bahasa Indonesia dianggap sangat kaku dan tidak efisien untuk digunakan.

Sebetulnya kini pergeseran bahasa Indonesia tidak lagi hanya sekadar dalam  pergaulan dan komunikasi sehari-hari. Kini, media baik media televisi maupun media cetak juga sudah melakukan penggusuran bahasa Indonesia. Hampir seluruh tayangan film, sinetron, dan iklan menjajakan bahasa asing sebagai bahasa yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat. Sebagian sastrawan, yang seharusnya mengemas bahasa Indonesia juga kini mulai bermain main dengan bahasa asing.


Untuk mengubah cara pikir yang sudah sedemikian melekat dalam masyarakat ketika menghadapi bahasa asing bukanlah hal yang mudah. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk bisa mengembalikan sumpah yang dahulu pernah diucapkan dengan lantang, Sumpah Pemuda yang menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa nomor satu. Dimulai dari diri sendiri, lebih banyak mengenal kosakata bahasa Indonesia memudahkan kita dalam menggunakan bahasa Indonesia secara nyaman dalam komunikasi sehari-hari. Bukan tidak mungkin, kelak bahasa Indonesia akan tergerus sedemikian hingga tidak lagi dikenal oleh pemiliknya sendiri.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!