Perempuan = Laki Laki = Perempuan!

07.37 Pohon Belimbing 0 Comments


Perempuan = Laki Laki = Perempuan!
Sebuah Tulisan Imajinasi Sosiologis Kritis Derrida Mengenai Oposisi Biner
Angel Jessica, Sastra Indonesia UNJ

Bisa dibilang tulisan ini memang dibuat karena setelah membaca beberapa pdf atau e-book yang membahas Derrida dan imbas dari menjadi panitia Women’s March Jakarta dua tahun berturut –turut. Meskipun tidak hadir saat march tahun ini, selalu saya sempatkan waktu saya untuk melihat perkembangan dan tentu saja, poster-poster yang dibawa peserta tahun ini. Dan setiap tahunnya saya selalu me-reposting poster-poster yang saya suka sebagai bentuk apresiasi dan dukungan yang sama.


1.        Perempuan = Laki Laki = Perempuan. Loh?

Jika saya melihat kalimat tersebut saat ini, yang ada di pikiran saya bukan lagi hanya sekadar kata perempuan dan laki laki secara makna leksikal atau makna-makna yang dirumuskan atau makna yang sudah disepakati bersama tentang apa yang ditandai oleh masing masing kata tersebut. Sekarang makna ujaran perempuan/kata perempuan dan makna ujaran laki-laki/kata laki-laki adalah seperti sebuah lingkaran yang beririsan di banyak titik.

Saya kemudian berpikir, kata perempuan dan laki laki sendiri, saat ini, bukan lagi permainan sederhana bagi saya sebagai seseorang yang mempelajari bahasa. Kata perempuan dan laki laki, adalah sebuah wacana sosial yang rentan dan abstrak.

Jika dalam kesusasteraan sendiri, jika saya memandang kata perempuan dan laki laki, tentu saja secara keseluruhan menjadi milik saya sebagai penulis ataupun pembaca dalam menafsirkannya. Tapi apa iya, saya pun sebagai seorang penulis atau pembaca mampu keluar dari strukturalisnya, dan berani menceburkan diri dalam keabstrakan kata kata tersebut?

2.      Derrida; pendukung kesetaraan gender?

Membicarakan perempuan dan laki-laki baik dalam lingkup humaniora, termasuk bahasa tidak lepas memang dari isu isu feminisme. Derrida, atau lengkapnya Jacques Derrida adalah sebuah filsuf posmodernisme yang mengkritik Saussurian, pendukung Ferdinand De Saussure, seorang linguis yang dianggap sebagai pembangun semiotika yang pada saat itu mencetuskan sebuah teori oposisi biner, yang sangat mengkotak-kotakan makna berdasarkan hierarki. Pada saat itu, kata perempuan dan laki-laki juga masuk dalam teori oposisi biner ini yang dimana laki-laki sebagai dominan dan perempuan sebagai submisif, atau kasarnya laki laki di atas dan perempuan di bawah. Derrida melihat bahwa sumbu bipolar yang digunakan Saussurian ini sebagai sebuah represi dalam pemaknaan. Jacques Derrida dengan ini membongkar struktur dan kode-kode bahasa, khususnya struktur biner, sedemikian rupa, sehingga menciptakan satu permainan tanda tanpa akhir dan tanpa makna akhir.

Brook dalam bukunya “Posfeminisme” mengatakan bahwa teknik dekonstruksi Derrida menjelaskan bahwa jika teori feminis ingin berhasil dalam penentangannya pada wacana alat kelamin sentris hal tersebut tidak bisa dilakukan dari posisi di luar falosentrisme (1997: 112). Falosentrisme adalah neologisme yang diajukan oleh Jacques Derrida yaitu mengistimewakan phallus atau penis sebagai simbol kekuasaan. Berarti, falosentrisme ini adalah suatu kecenderungan untuk memandang kehidupan dan mendefinisikan segala sesuatu dengan menggunakan perspektif laki-laki (Budianta, 2002: 207).

Alasan akhirnya saya menyimpulkan bahwa Derrida adalah seseorang yang mendukung kesetaraan gender adalah karena teori beliau menurut saya adalah akar dimana bahasa, bahkan wacana humaniora dapat dikritisi dan dijembatani agar menjadi wadah yang sama bagi seluruh kelompok atau sub di masyarakat. Dekonstruktif Derrida mengkritisi falosentrisme yang mendasarkan diri pada oposisi biner logosentrisme di mana privilege berada di tangan laki-laki. Dekonstruksi Derrida yang menghilangkan adanya dikotomi dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang bersifat marginal membantu feminisme mendukung perjuangan perempuan untuk melawan patriarki. Patriarki mengacu pada sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin bagi perempuan. Dengan demikian, langsung atau tidak langsung, tersurat atau tersirat, melakukan subordinasi terhadap perempuan.

Saya rasa sebetulnya tujuan dari Derrida ini memang pada akhirnya memang tujuan yang sama seperti yang saya cita citakan, seperti yang feminis dan pejuang kesetaraan gender cita-citakan, yakni  bebas dari penindasan, dominasi, hegemoni, dan ketidakadilan, dengan begitu tercipta masyarakat yang adil dan setara, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Tujuan akhir bukanlah kemenangan suatu kelompok atas kelompok lainnya (dalam hal ini perempuan atas laki-laki), atau pemusatan kekuasaan dalam satu pihak, melainkan penataan kembali kesamarataan semua kelompok dan sub masyarakat.


3.      Perempuan = Laki-Laki = Perempuan. Nah!

Seperti halnya yang dicanangkan Derrida, saya rasa teman saya, Viola dalam posternya juga menginginkan sebuah kritik atas strukturalisme oposisi yang sepertinya memang sudah kuno jika diterapkan pada masyarakat kini meskipun masih banyak juga yang masih berpegang pada makna biner tersebut. Kalimat ‘Perempuan=Laki-Laki=Perempuan’  ingin membongkar
hierarki oposisi biner. Jika kita cermati, Viola memakai tanda baca sama dengan (=) yang menandai kesamaan / kesejajaran antara perempuan dan laki-laki.

Kalimat yang ditulis dalam poster teman saya dalam Women’s March Jakarta 2019 kemarin seakan ingin mengkritisi, seperti halnya Derrida mengkritisi, budaya strukturalis kuno dimana perempuan telah didefinisikan sebagai ‘sesuatu’ yang lain dari laki-laki. Dengan kata lain, wanita secara historis ditentukan oleh hierarki oposisi biner, di mana wanita ditempatkan secara rendah dibanding pria. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru karena oposisi hierarkis ini sebetulnya mengakar pada pembagian tradisional peran pria dan wanita dalam sejarah. Dan kalimat ‘Perempuan=Laki-Laki=Perempuan’ menurut saya adalah kalimat yang paling tepat untuk membongkar budaya strukturalis tersebut.

Derrida dan pendukung teori dekonstruksinya, tentu saja juga pendukung feminisme berpandangan bahwa dekonstruktif atas hubungan perempuan dan laki-laki memang menegaskan perbedaan perempuan dan laki-laki secara gender ataupun seksualitas adalah sesuatu yang natural, tetapi pembagian peran berdasarkan gender dan seksualitas dapat digugat dan dipersoalkan sebagai akar masalah subordinasi atas perempuan di dalam sejarah. Dengan kata lain, Derrida dan teman saya tadi ingin membeberkan bahwa kenyataan bahwa hierarki perempuan dan laki laki dengan pembagian peran dan kerja yang sangat subordinatif atas perempuan yang pada dasarnya dibentuk oleh kuasa dan sejarah kaum pendukung patriarkis atau falosentris dapat dibongkar lewat pemberian keluasan makna kata perempuan dan laki-laki tanpat mengkotak-kotakan kata tersebut menjadi sebuah oposisi biner hierarkis yang maknanya itu-itu saja.


Daftar Pustaka
1.      Amminudin. 2002. “Pendekatan Pasca Struktrural: Jacques Derrida” dalam Kris Budiman
(ed), Analisis Wacana: Dari Linguistik sampai Dekonstruks. Yogyakarta: Kanal.
2.      Budianta, Melanie. “Pendekatan Feminisme terhadap Wacana” dalam Kris Budiman
(ed.), Analisis Wacana: Dari Linguistik sampai Dekonstruks. Yogyakarta: Kanal.
3.      Brooks, Ann. 1997. Posfeminisme dan Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra
4.      Howells, Christina. 1999. Derrida, Deconstruction from Phenomenology to Ethics. Blacwell Publishers Inc. USA
5.      Norris, Christoper. 2008. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!