Mendambakan Lupa - Helvy Tiana Rosa

Angin yang merintih di jalan setapak itu
tak pernah istirah
mengirim bau tubuhmu yang laut
dalam riuh dalam hening
saat lampu-lampu dinyalakan
atau di matikan
Aku pun berjingkat ke beranda
mengambil parang
dan menggergaji kenangan
jadi serbuk jadi duri
lalu kularung dalam selokan
di samping taman tak bernama itu
Saban hujan aku yang menggigil
mendengar kau memanggil-manggil
dari dalam selokan
tapi wajah serupa engkau muncul di televisi
sambil bicara tentang seseorang
yang begitu mendambakan lupa

Your Laughter - Pablo Neruda

Take bread away from me, if you wish,
take air away, but
do not take from me your laughter.

Do not take away the rose,
the lance flower that you pluck,
the water that suddenly
bursts forth in joy,
the sudden wave
of silver born in you.

My struggle is harsh and I come back
with eyes tired
at times from having seen
the unchanging earth,
but when your laughter enters
it rises to the sky seeking me
and it opens for me all
the doors of life.

My love, in the darkest
hour your laughter
opens, and if suddenly
you see my blood staining
the stones of the street,
laugh, because your laughter
will be for my hands
like a fresh sword.

Next to the sea in the autumn,
your laughter must raise
its foamy cascade,
and in the spring, love,
I want your laughter like
the flower I was waiting for,
the blue flower, the rose
of my echoing country.

Laugh at the night,
at the day, at the moon,
laugh at the twisted
streets of the island,
laugh at this clumsy
boy who loves you,
but when I open
my eyes and close them,
when my steps go,
when my steps return,
deny me bread, air,
light, spring,
but never your laughter
for I would die. 

Feminis Berkebutuhan

Feminis Berkebutuhan
Angel Jessica

1.      Ladies First, dong!

Sekitar beberapa tahun yang lalu saat saya sedang sangat bersemangatnya mencari tahu lebih dalam mengenai apa itu feminisme, dan perannya dalam kehidupan, saya menemukan seseorang laki-laki, yang cerdas, yang sexist, tentu saja, menyindir salah satu teman feminis yang saya jumpai di internet. Laki-laki itu berkata, perempuan jika merasa direndahkan baru menyinggung nyinggung soal feminisme, tapi kalau sudah urusan hak dan kenyamanan, sepertinya perempuan justru ‘memanfaatkan’ situasi label ‘lemah’ yang melekat pada diri mereka. Namun, menurut saya, perkataan laki laki itu ada benarnya. Sering sekali saya melihat perempuan memanfaatkan situasi label ‘lemah’ yang melekat pada diri perempuan dengan ocehan ocehan ladies first.Mulai dari mengantri di supermarket, mengantri tiket kereta, sampai waiting list di restoran.

Saya sempat terkejut juga, ketika rupanya saya duduk bersebelahan dengan salah seorang yang saya jumpai mengoceh tentang ladies first di restoran itu ternyata mengaku sebagai seorang feminis. Kebetulan saja, saya mendengar percakapan perempuan itu dengan teman temannya. Dilihat dari penampilannya, jelas siapapun akan percaya bahwa ia seorang feminis. Penampilannya anggun, rambutnya dipotong mirip laki-laki, dan terlihat cerdas. Jadi saya mulai menimbang nimbang lagi, apa pengertian feminisme saya yang salah, atau presepsi masyarakat, salah satunya si mbak ‘feminis’ tadi yang salah?

Banyak sekali perempuan yang mengartikan posisi ladies first ini, sebagai hal yang menyenangkan. Banyak yang beranggapan bahwa laki-laki yang memanjakan kita dengan ‘ladies first’nya adalah seorang gentleman. Didahulukan saat berjalan, dibukakan pintu, dan sebagainya. Namun bukankah budaya ladies first itu malah menimbulkan sebuah label yang mengikat, karakter yang melekat bahwa perempuan itu butuh diperlakukan ‘istimewa’.

Sekarang saya mengajak anda melihat lebih jauh lagi. Apakah budaya ladies first, dan keistimewaan yang dilekatkan pada wajah perempuan itu sejatinya benar benar mengistimewakan perempuan? Atau melekatkan lebih tebal lagi label ‘lemah’ di wajah perempuan?

2.      Istimewa atau Beda?

Menjadi feminis, adalah tentang kesetaraan. Namun, ditengah tengah masyarakat patriarki yang kita jalani seperti ini. Apakah feminis dapat begitu saja menjalankan pemikiran dan tujuan tujuannya. Apakah feminis justru pada akhirnya tenggelam dalam kenyamanan menjadi manusia kelas dua yang di’istimewakan’?

Menjadi feminis di tengah masyarakat patriarki memang sangat sulit. Masyarakat dipaksa menerima perbedaan yang nyata sengaja diciptakan demi tetap bertahannya situasi patriarki. Masyarakat dibentuk sedemikian rupa, mulai dari hal-hal kecil sampai ke hal-hal besar, tentang perbedaan antara lakilaki dan perempuan. Masyarakat dipaksa menerima dan menjalankan begitu saja situasi patriarki dengan segala penindasan dan diskriminasi yang ada. Hal-hal ini, tentu saja, bukan hanya dirasakan oleh perempuan tetapi juga laki-laki. Mulai dari kecil, laki laki diajarkan memaknai semua hal atas dasar pemikiran yang sexist, mereka diajar untuk mulai men-gender-kan segala sesuatu, seperti warna pink itu warna perempuan, biru itu laki-laki. Boneka itu perempuan, Robot itu laki laki. Menangis itu perempuan, meninju itu laki-laki. Sejak dini, manusia yang hidup di tengah tengah situasi patriarki diajarkan untuk tidak bebas berpikir mengenai apa pun, semuanya terkotak kotak atas gender. Mereka seperti dipisahkan, dan dibelah menjadi dua golongan manusia yang berbeda. Dan pada akhirnya, manusia menjadi terbiasa untuk berbeda, manusia menjadi terbiasa mendominasi, dan didominasi hanya dengan atas pemikiran gender. Dan kita tahu, sejak dini itu siapa yang akhirnya, diharuskan memerankan peran didominasi itu. Betul, perempuan.

Bukan hanya itu, mulai di sekolah, perbedaan menjadi sangat signifikan, seperti pembagian tugas piket, harus dibedakan hal hal yang dianggap ‘tugas perempuan’ seperti menyapu, mengepel, dan merangkai bunga untuk meja kelas dan hal hal yang dianggap ‘tugas laki laki’. Perempuan dididik kembali untuk melihat perbedaan mana yang seharusnya dilakukan perempuan dan mana yang dilakukan laki-laki, dan melihat itu sebagai sebuah tanggung jawab yang dipegang perempuan. Sekali lagi, pemeranan yang dilakukan situasi patriarki, menunjukkan dominasinya.

Lalu, dewasa, masyarakat yang sudah melekat dengan situasi patriarki semakin menjadi-jadi. Situasi perempuan yang dibentuk, pada akhirnya, akan disebut dengan kodrat. Kodrat perempuan memang sudah seharusnya ini, itu, ini lagi, itu lagi. Perempuan menjadi manusia bentukkan. Perempuan menjadi boneka, sekali lagi, mainan mereka sendiri. Perempuan dimanjakan dengan perbedaan, yang dimanfaatkan pihak-pihak kapital dengan sangat cantik. Seperti barang barang khusus perempuan, yang berwarna pink, yang lainnya untuk laki laki.Perempuan dimanjakan dengan fasilitas fasilitas perempuan, seperti kereta khusus wanita, antrian khusus wanita, parkir khusus wanita. Pengkhususan dan pembedaan saat ini sudah mempunyai konotasi yang berbeda, hanya dengan pembedaan kata-kata, perempuan seakan dimanjakan dengannya. Padahal bukankah pengkhususan atau pembedaan tersebut hanya semakin membuktikan kekuasaan patriarki atas kita, atas perempuan?

3.      Jadi Feminis?

Menjadi feminis, adalah tentang kesetaraan. Kesetaraan. Feminis bukan hanya mencari kekuatan bagi perempuan, feminis bukan ada untuk menjadikan perempuan superior atau unggul, feminis ada bukan untuk keistimewaan. Feminis ada untuk kesetaraan. Feminisme bertujuan untuk menciptakan sebuah dunia di mana tida ada dominasi, di mana orang orang di hargai karena siapa mereka secara personal. Menjadi feminis, adalah menentang segala bentuk pengistimewaan.

Menjadi feminis, adalah sebuah gerakan melawan arus. Gerakan yang melawan. Melawan dan melepas label yang selama ini melekat di wajah perempuan. Namun walaupun begitu, feminis buka tentang pergerakan revolusioner yang keras, feminis bukan feminazi*. Banyak hal hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk menjadi seorang feminis. Hal yang pertama dilakukan adalah mengubah mindset. Berhenti menggunakan alasan dan ocehan yang membuat perempuan semakin tampak ‘lemah’ dan ‘tidak berdaya’, berhentilah menggunakan alasan alasan tersebut demi mendapatkan peng’istimewa’an yang sangat tidak istimewa.

Rahasia

Sejumlah kata terlipat dengan sisa sisa kesedihan di kantung matamu,
Sejumlah rasa, dan kata kerja kau jaga baik dalam rahim yang tak mudah dilesap ribuan tanda tanya, yang tak juga lenyap meski ribuan tanda koma tak pernah membiarkan waktu memberinya jeda.
Apa kabar kesedihanmu?


Sejumlah amin tak pernah lagi kau ucapkan saat imanmu tak lagi sanggup mengkhayalkan ketidakmungkinan dalam doa doa panjang yang sejak lama tak lagi kau rapalkan. Kau biarkan doamu menggantung di ranting pohon mangga di pekarangan rumahmu, mengingatkanmu akan takdir yang tak pernah akan kita ketahui ujungnya.

Aruna

                     She's just a girl and she's on fire
Hotter than a fantasy, lonely like a highway
She's living in a world and it's on fire
Feeling the catastrophe, but she knows she can fly away – Alicia Keys

Begitu sepi, rupanya. Ia bergumam.

Telah berulang kali perempuan itu membuka kembali kenangan yang terlipat rapi di kotak yang dahulu digunakan sebagai meja belajar kecil sekaligus penyimpanan barang barang bekas yang ia suka, yang diam diam disembunyikannya sebelum dijual oleh ayahnya. Lama sekali ia menatap satu sudut yang sangat dikenalinya, yang mengenalnya pula. Ingin sekali perempuan itu mengucap sepatah dua patah kata untuk sudut yang sangat dikenalinya, yang mengenalnya pula, namun sulit sekali memilih kata kata, ia jadi bertanya tanya, apa sudut juga punya kata kata?

Aruna nama perempuan itu, berdiri dibawah temaram cahaya lampu tua yang mengingatkanmu, pasti, dengan lagu lagu lawas yang diputar dan berhenti ketika adzan maghrib berkumandang dan surau yang bernapaskan kopi dan riuh penonton sepakbola yang menanti kemenangan dengan setia, sementara lupa, di rumah ada yang jelas juga setia menanti kepulangan dan doa di tiap saku mereka.

Angin menggoyangkan lampu tua di atas kepala gadis itu, dingin sekali. Rumahnya yang hanya sepetak, tak pernah lebih luas dari yang bisa kau bayangkan, terbuat dari apa saja. Kayu kayu bekas, kardus, dan seng saling merajut dan mengokohkan diri mereka sendiri. Sebut saja begitu, ucap bapaknya dahulu.

Perempuan itu tidak pernah menyesali hidupnya, ia percaya hidup adalah kemungkinan kemungkinan yang disembunyikan di balik telapak tangan Tuhan.

Di bawah meja, ia menemukan kotak berisi surat surat yang tak pernah dikirimkan, atas nama Kunti, ibu.

Tiba tiba, ia merasa rindu.

Mother, how are you today?
Mother, don't worry, I'm fine. - Maywood

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2001

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Nak, doa doa yang kutitipkan dahulu di saku bajumu, apa masih kau simpan? Selipkan saja di sela sela rambutmu agar tidak ketinggalan atau tercecer atau kelupaan olehmu.

Kuingat pertama kali dengan bahagia aku memakaikan seragam pertamamu, yang membuat ayahmu menjual cincin pernikahan kami, lucu sekali, kau sangat bersemangat menyanyikan lagu yang kau sombongkan di depanku sambil berkata bahwa gurumu yang hebat sekali itu yang mengajarkannya, namun tetap saja kau selalu pulas di pangkuanku

(Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir)
(Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir)

***

She got both feet on the ground
And she's burning it down – Alicia Keys

Sudah ramai, pengajian akan segera dimulai.
Kenangan dan rindu adalah dua mata pisau yang berjingkat menembus setiap penjagaan air mata bagi manusia, begitu pun bagi Aruna, Temaram lampu menyiasati ingatan tentang kedua orang tuanya. Ia membayangkan, kedua orang tuanya sedang apa sekarang, berpakaian putih dan suci seperti cerita yang didengarnya sewaktu mengaji atau bersayap, seperti yang suka dikhayalkannya.
Runa pulang, pak, bu. Ia berbisik, entah pada siapa. Ia memandang ke seluruh penjuru, jelas ia rindu, jelas ia bohong. Ia tak pernah betul betul merasa pulang. Sepi sekali disini.

***

In her soft wind I will whisper
In her warm sun I will glisten
'Till we see her once again
In a world without end – Crowded House

Aku membenci tiga hal dalam hidup. Pertama, jatuh cinta. Jatuh cinta membuatku tak pernah merasa ingin pulang,  menyembunyikan masa lalu dengan ilusi yang sempurna, sempat aku curiga, jatuh cinta apa hanya kegetiran semata? Kedua, hujan. Dua kali ayah dan ibu pergi, dua kali hujan. Tanah licin dan daun gugur membuat hutan hutan baru di kepalaku, segalanya rumit dan tak tertebak. Lama lama, bisa jadi hutan akan tumbuh di sela sela jariku. Ketiga, hening. Apa rumah ini selalu seperti ini ketika aku pergi?
Segala makna adalah muslihat, dan kesepian di rumah ini juga.
“Dik, sudah waktunya ibu dimakamkan”
Mbak Rumi, begitu aku memanggilnya. Sungguh, kini aku menatap mata ibu di matanya.
“Dimana adik?” Tanyaku.

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2008

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Ini seragam keduamu. Seragam putih biru yang cantik berpadu dengan kulitmu yang kecoklatan, kulitmu yang hangat dan lembut. Kudengar, kau sangat cerdas dalam matematika dan bahasa inggris. Bahasa inggris itu seperti apa anakku? Seperti kata plis plis yang sering kau ucapkan itu? Aku bangga. Aku ibu yang bangga Bukan berarti bapakmu tidak ‘lho. Bapakmu itu memang bukan pria yang romantis, namun ketahuilah, kau selalu disebut dalam tiap igau dan sujud malamnya.

Nak, apa kamu sudah menemukan cinta pertamamu? Dulu, sewaktu pertama kali ibu jatuh cinta, jelas dengan laki laki yang bukan bapakmu, bapakmu itu cinta kesekian, itu saat seumur kamu. Seandainya, kamu mau bercerita pada ibu. Akan kuajari kamu memakai pupur, tenang saja, pasti akan kubelikan suatu hari.

Nak, apa sekiranya umurmu bertambah sewaktu waktu, berarti kau tidak lagi ingin memelukku?

***

Hujan turun dengan lembut seakan tahu perempuan itu akan tambah terluka jika hujan turun dengan lebat. Pemakaman berlangsung tanpa isak tangis. Semua terlalu sedih untuk menangis, dan terlalu terluka untuk mengucap apa apa. Sewaktu ayah perempuan itu dimakamkan, juga sama. Khidmat bukan hanya ada di upacara kepresidenan dan di sekolah sekolah. Khidmat beserta mereka yang mencintai dan dicintai bumi.

Tak ada yang lebih cinta dari tanah yang bersedia menerima dengan cara yang paling sederhana, dengan dirinya sendiri. Aruna, perempuan itu menatap tanah merah, cantik sekali, pikirnya.

Abyasa adiknya, diam saja. Mbak-nya pun begitu. Diam sekali. Satu satunya suara yang terdengar adalah suara adzan. Sudah waktunya pulang dan menyiapkan pengajian.

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2008

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Aku baru saja menangis, kau tahu. Ini pertama kalinya kau membentak dan melawan kata kataku. Tapi sudahlah nak, aku tak apa, aku jelas paham situasi dan keadaanmu saat ini. Aku menyayangimu, nak. Kau tahu itu.

Kau cantik sekali, sayang. Seragammu yang baru, hidupmu yang baru. Kau sudah dewasa sayang, Diam diam, kau kecilkan rok abu abu yang kujahit untukmu, mengikuti teman teman. Tapi aku masih bangga, sayang. Piala dan medali penghargaan atas kerja keras dan kepandaianmu masih memenuhi meja makan, yang akhirnya kita gunakan sebagai meja tempat memajang semuanya itu. Kita makan di lantai meskipun mbakmu,  Rumi sering marah, makanannya jadi berdebu, katanya.

Nak, apa kamu makan dengan baik disekolah. Sepertinya tidak, uang yang kuberikan padamu untuk makan dan ongkos kau habiskan dengan membeli buku dan koran koran yang menumpuk di balik baju baju di lemarimu yang berjejal. Aku tahu juga, seringkali pada akhirnya kau harus berjalan kaki untuk pulang. Maafkan aku, anakku.

Sayang, banyak doa yang kutitipkan pada Tuhan untukmu, banyak sekali, tapi kutahu, Ia mencatat semuanya. Doa adalah bentuk cinta yang sering kuaduk bersama teh yang menemani perutmu setiap pagi. Maafkan ibu, janjiku padamu untuk membelikanmu pupur belum juga bisa kupenuhi. Tapi wajahmu yang cantik, mungkin sebetulnya tidak perlu.

Sayang, maafkan aku dan bapakmu yang belum bisa memberikan masa muda untukmu. Maafkan aku  dan bapakmu yang tak punya apa apa yang bisa kuberikan padamu, selain pelukan dan tempat pulang.

***

Many things happened while I was away.
Mother, how are you today? – Maywood

Aruna menangis dengan bisik yang tidak kentara di balik suara gerimis yang jatuh ke atap masjid. Ia membenci segala perasaan bersalahnya. Tak adakah hukuman untuk dirinya? Tak adakah yang membenci dirinya selain dirinya sendiri?


Dingin, nafasnya dingin. Hujan membuatnya tambah mual. Ia rindu ibunya,  rindu sekali.

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2015

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Aku yang pertama kali membaca surat yang diantarkan pak pos yang bertuliskan Universitas Indonesia dengan huruf yang besar besar di amplopnya. Aruna Pramusita, kau tahu, betapa terkejutnya ibu? Ilmu Politik. Nak, ketahuilah politik adalah ilmu paling jahat di dunia ini, dan jelas kutahu, kau bukan orang yang seperti itu. Dalam amplop juga tertulis kau mendapatkan beasiswa penuh dan asrama di kota, meninggalkan ibu.

Sudah tahun keberapa sekarang semenjak kau pergi ke kota, dan tak pernah kembali. Aku penasaran, apa kau makan dengan baik? Apa sekarang kamu sudah punya kekasih sayang? Apa kuliahmu berjalan dengan baik?

Kemarin, ayahmu sudah dimakamkan. Aku ingin sekali memberi tahumu, tapi ibu tak punya ponsel dan uang untuk membayar jasa petugas pos. Mbakmu juga sama, tak pernah kembali, tak apa, ia memang perempuan dan isteri yang baik. Ia harus menjaga suaminya. Mbakmu juga belum tahu kabar tentang bapak. Pulang nak, ibu sendirian menangung kesepian sementara adikmu, masih belum tahu apa apa.

Nak, pulanglah. Kamu memang benar, ibu juga mencintai angin. Angin yang selalu beranjak pergi, tak pernah lupa jalan untuk kembali. Kembalilah, nak. Apa masih kau kenali suaraku? Apa masih kau kenali jalanan berbatu yang kusiasati agar kau tak pernah lupa jalan kembali.

***

Dedaunan gugur menyentuh rambutnya, sudah malam, ia harus pergi.
Perempuan itu menyisipkan surat surat itu di tasnya yang berat. Masih banyak surat yang belum sempat ia baca.Sementara temaram cahaya lampu tua di atas kepalanya masih berduka, senja telah jatuh dan sebentar lagi sepi yang terduga akan menyala dan aku hampir tiada, gumamnya.

This girl is on fire...
She's walking on fire... – Alicia Keys

Desember, 2016

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!