Aruna

08.28 Pohon Belimbing 0 Comments

                     She's just a girl and she's on fire
Hotter than a fantasy, lonely like a highway
She's living in a world and it's on fire
Feeling the catastrophe, but she knows she can fly away – Alicia Keys

Begitu sepi, rupanya. Ia bergumam.

Telah berulang kali perempuan itu membuka kembali kenangan yang terlipat rapi di kotak yang dahulu digunakan sebagai meja belajar kecil sekaligus penyimpanan barang barang bekas yang ia suka, yang diam diam disembunyikannya sebelum dijual oleh ayahnya. Lama sekali ia menatap satu sudut yang sangat dikenalinya, yang mengenalnya pula. Ingin sekali perempuan itu mengucap sepatah dua patah kata untuk sudut yang sangat dikenalinya, yang mengenalnya pula, namun sulit sekali memilih kata kata, ia jadi bertanya tanya, apa sudut juga punya kata kata?

Aruna nama perempuan itu, berdiri dibawah temaram cahaya lampu tua yang mengingatkanmu, pasti, dengan lagu lagu lawas yang diputar dan berhenti ketika adzan maghrib berkumandang dan surau yang bernapaskan kopi dan riuh penonton sepakbola yang menanti kemenangan dengan setia, sementara lupa, di rumah ada yang jelas juga setia menanti kepulangan dan doa di tiap saku mereka.

Angin menggoyangkan lampu tua di atas kepala gadis itu, dingin sekali. Rumahnya yang hanya sepetak, tak pernah lebih luas dari yang bisa kau bayangkan, terbuat dari apa saja. Kayu kayu bekas, kardus, dan seng saling merajut dan mengokohkan diri mereka sendiri. Sebut saja begitu, ucap bapaknya dahulu.

Perempuan itu tidak pernah menyesali hidupnya, ia percaya hidup adalah kemungkinan kemungkinan yang disembunyikan di balik telapak tangan Tuhan.

Di bawah meja, ia menemukan kotak berisi surat surat yang tak pernah dikirimkan, atas nama Kunti, ibu.

Tiba tiba, ia merasa rindu.

Mother, how are you today?
Mother, don't worry, I'm fine. - Maywood

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2001

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Nak, doa doa yang kutitipkan dahulu di saku bajumu, apa masih kau simpan? Selipkan saja di sela sela rambutmu agar tidak ketinggalan atau tercecer atau kelupaan olehmu.

Kuingat pertama kali dengan bahagia aku memakaikan seragam pertamamu, yang membuat ayahmu menjual cincin pernikahan kami, lucu sekali, kau sangat bersemangat menyanyikan lagu yang kau sombongkan di depanku sambil berkata bahwa gurumu yang hebat sekali itu yang mengajarkannya, namun tetap saja kau selalu pulas di pangkuanku

(Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir)
(Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir)

***

She got both feet on the ground
And she's burning it down – Alicia Keys

Sudah ramai, pengajian akan segera dimulai.
Kenangan dan rindu adalah dua mata pisau yang berjingkat menembus setiap penjagaan air mata bagi manusia, begitu pun bagi Aruna, Temaram lampu menyiasati ingatan tentang kedua orang tuanya. Ia membayangkan, kedua orang tuanya sedang apa sekarang, berpakaian putih dan suci seperti cerita yang didengarnya sewaktu mengaji atau bersayap, seperti yang suka dikhayalkannya.
Runa pulang, pak, bu. Ia berbisik, entah pada siapa. Ia memandang ke seluruh penjuru, jelas ia rindu, jelas ia bohong. Ia tak pernah betul betul merasa pulang. Sepi sekali disini.

***

In her soft wind I will whisper
In her warm sun I will glisten
'Till we see her once again
In a world without end – Crowded House

Aku membenci tiga hal dalam hidup. Pertama, jatuh cinta. Jatuh cinta membuatku tak pernah merasa ingin pulang,  menyembunyikan masa lalu dengan ilusi yang sempurna, sempat aku curiga, jatuh cinta apa hanya kegetiran semata? Kedua, hujan. Dua kali ayah dan ibu pergi, dua kali hujan. Tanah licin dan daun gugur membuat hutan hutan baru di kepalaku, segalanya rumit dan tak tertebak. Lama lama, bisa jadi hutan akan tumbuh di sela sela jariku. Ketiga, hening. Apa rumah ini selalu seperti ini ketika aku pergi?
Segala makna adalah muslihat, dan kesepian di rumah ini juga.
“Dik, sudah waktunya ibu dimakamkan”
Mbak Rumi, begitu aku memanggilnya. Sungguh, kini aku menatap mata ibu di matanya.
“Dimana adik?” Tanyaku.

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2008

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Ini seragam keduamu. Seragam putih biru yang cantik berpadu dengan kulitmu yang kecoklatan, kulitmu yang hangat dan lembut. Kudengar, kau sangat cerdas dalam matematika dan bahasa inggris. Bahasa inggris itu seperti apa anakku? Seperti kata plis plis yang sering kau ucapkan itu? Aku bangga. Aku ibu yang bangga Bukan berarti bapakmu tidak ‘lho. Bapakmu itu memang bukan pria yang romantis, namun ketahuilah, kau selalu disebut dalam tiap igau dan sujud malamnya.

Nak, apa kamu sudah menemukan cinta pertamamu? Dulu, sewaktu pertama kali ibu jatuh cinta, jelas dengan laki laki yang bukan bapakmu, bapakmu itu cinta kesekian, itu saat seumur kamu. Seandainya, kamu mau bercerita pada ibu. Akan kuajari kamu memakai pupur, tenang saja, pasti akan kubelikan suatu hari.

Nak, apa sekiranya umurmu bertambah sewaktu waktu, berarti kau tidak lagi ingin memelukku?

***

Hujan turun dengan lembut seakan tahu perempuan itu akan tambah terluka jika hujan turun dengan lebat. Pemakaman berlangsung tanpa isak tangis. Semua terlalu sedih untuk menangis, dan terlalu terluka untuk mengucap apa apa. Sewaktu ayah perempuan itu dimakamkan, juga sama. Khidmat bukan hanya ada di upacara kepresidenan dan di sekolah sekolah. Khidmat beserta mereka yang mencintai dan dicintai bumi.

Tak ada yang lebih cinta dari tanah yang bersedia menerima dengan cara yang paling sederhana, dengan dirinya sendiri. Aruna, perempuan itu menatap tanah merah, cantik sekali, pikirnya.

Abyasa adiknya, diam saja. Mbak-nya pun begitu. Diam sekali. Satu satunya suara yang terdengar adalah suara adzan. Sudah waktunya pulang dan menyiapkan pengajian.

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2008

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Aku baru saja menangis, kau tahu. Ini pertama kalinya kau membentak dan melawan kata kataku. Tapi sudahlah nak, aku tak apa, aku jelas paham situasi dan keadaanmu saat ini. Aku menyayangimu, nak. Kau tahu itu.

Kau cantik sekali, sayang. Seragammu yang baru, hidupmu yang baru. Kau sudah dewasa sayang, Diam diam, kau kecilkan rok abu abu yang kujahit untukmu, mengikuti teman teman. Tapi aku masih bangga, sayang. Piala dan medali penghargaan atas kerja keras dan kepandaianmu masih memenuhi meja makan, yang akhirnya kita gunakan sebagai meja tempat memajang semuanya itu. Kita makan di lantai meskipun mbakmu,  Rumi sering marah, makanannya jadi berdebu, katanya.

Nak, apa kamu makan dengan baik disekolah. Sepertinya tidak, uang yang kuberikan padamu untuk makan dan ongkos kau habiskan dengan membeli buku dan koran koran yang menumpuk di balik baju baju di lemarimu yang berjejal. Aku tahu juga, seringkali pada akhirnya kau harus berjalan kaki untuk pulang. Maafkan aku, anakku.

Sayang, banyak doa yang kutitipkan pada Tuhan untukmu, banyak sekali, tapi kutahu, Ia mencatat semuanya. Doa adalah bentuk cinta yang sering kuaduk bersama teh yang menemani perutmu setiap pagi. Maafkan ibu, janjiku padamu untuk membelikanmu pupur belum juga bisa kupenuhi. Tapi wajahmu yang cantik, mungkin sebetulnya tidak perlu.

Sayang, maafkan aku dan bapakmu yang belum bisa memberikan masa muda untukmu. Maafkan aku  dan bapakmu yang tak punya apa apa yang bisa kuberikan padamu, selain pelukan dan tempat pulang.

***

Many things happened while I was away.
Mother, how are you today? – Maywood

Aruna menangis dengan bisik yang tidak kentara di balik suara gerimis yang jatuh ke atap masjid. Ia membenci segala perasaan bersalahnya. Tak adakah hukuman untuk dirinya? Tak adakah yang membenci dirinya selain dirinya sendiri?


Dingin, nafasnya dingin. Hujan membuatnya tambah mual. Ia rindu ibunya,  rindu sekali.

***

Sumurejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, 2015

Aruna, senja kemerah merahan
yang kukasihi

Aku yang pertama kali membaca surat yang diantarkan pak pos yang bertuliskan Universitas Indonesia dengan huruf yang besar besar di amplopnya. Aruna Pramusita, kau tahu, betapa terkejutnya ibu? Ilmu Politik. Nak, ketahuilah politik adalah ilmu paling jahat di dunia ini, dan jelas kutahu, kau bukan orang yang seperti itu. Dalam amplop juga tertulis kau mendapatkan beasiswa penuh dan asrama di kota, meninggalkan ibu.

Sudah tahun keberapa sekarang semenjak kau pergi ke kota, dan tak pernah kembali. Aku penasaran, apa kau makan dengan baik? Apa sekarang kamu sudah punya kekasih sayang? Apa kuliahmu berjalan dengan baik?

Kemarin, ayahmu sudah dimakamkan. Aku ingin sekali memberi tahumu, tapi ibu tak punya ponsel dan uang untuk membayar jasa petugas pos. Mbakmu juga sama, tak pernah kembali, tak apa, ia memang perempuan dan isteri yang baik. Ia harus menjaga suaminya. Mbakmu juga belum tahu kabar tentang bapak. Pulang nak, ibu sendirian menangung kesepian sementara adikmu, masih belum tahu apa apa.

Nak, pulanglah. Kamu memang benar, ibu juga mencintai angin. Angin yang selalu beranjak pergi, tak pernah lupa jalan untuk kembali. Kembalilah, nak. Apa masih kau kenali suaraku? Apa masih kau kenali jalanan berbatu yang kusiasati agar kau tak pernah lupa jalan kembali.

***

Dedaunan gugur menyentuh rambutnya, sudah malam, ia harus pergi.
Perempuan itu menyisipkan surat surat itu di tasnya yang berat. Masih banyak surat yang belum sempat ia baca.Sementara temaram cahaya lampu tua di atas kepalanya masih berduka, senja telah jatuh dan sebentar lagi sepi yang terduga akan menyala dan aku hampir tiada, gumamnya.

This girl is on fire...
She's walking on fire... – Alicia Keys

Desember, 2016

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!