-untuk Theodora
sebuah hadiah kecil dari Tuhan
Seekor kunang-kunang kuhadiahi sebuah judul,
lengkap dengan sejumlah kata kerja yang cantik
dengan pita dari rangkaian amin di ujung-ujungnya.
Kunang-kunang memang sungguh luar biasa
tetap juga ia berpendar meski tubuhnya kini
terperangkap bahasa
Tak lupa kuhadiahi juga kebahagiaan kecil-kecil yang
terlipat untuk menemani air mata yang kering di kerat sayapnya.
Kunang-kunang itu tertawa, cahaya merona di sudut
pipinya.
Kunang-kunang, terakhir,
kuhadiahi kamu sajak,
yang tak terjangkau duka, dan sepi,
dan ngilu
yang barangkali menjadi doa yang
tak pernah kehabisan waktu
12 Februari 2017
Barangkali sepilihan perihal yang muncul terus
menerus di kepalaku adalah mukjizat
Muncul ketika hujan mengetuk kaca jendela, membuat
rindu yang basah,
dan tumpah.
Barangkali semua percakapan kita yang putus,
berdoa dengan caranya sendiri
agar kata kata yang
terlanjur jatuh menyelesaikan bahasanya.
(Sudah ribuan detik dan ketuk sejak kidung yang
berlembar-lembar menyesakkan paru-paru dan radio tua di rumahku,
menciptakan
senandung yang latah.)
Kau tak akan pernah tahu
sudah berapa pula dongeng yang
lahir lewat khayalan tentang ujung bulu matamu yang mengingatkanku akan cinta masa
kecil yang malu-malu.
Barangkali kita selalu melihat cinta sebagai
kesedihan yang setia dengan keluhnya
Barangkali kau dan aku tak akan pernah melihat
rumusannya dengan satu kata,
tak akan pernah selesai dengan satu cerita.
Angin yang merintih di jalan setapak itu
tak pernah istirah
mengirim bau tubuhmu yang laut
dalam riuh dalam hening
saat lampu-lampu dinyalakan
atau di matikan
Aku pun berjingkat ke beranda
mengambil parang
dan menggergaji kenangan
jadi serbuk jadi duri
lalu kularung dalam selokan
di samping taman tak bernama itu
Saban hujan aku yang menggigil
mendengar kau memanggil-manggil
dari dalam selokan
tapi wajah serupa engkau muncul di televisi
sambil bicara tentang seseorang
yang begitu mendambakan lupa