Tokoh Zaman Renaissance
Dante Aligheri
Kekaguman dan Kebesaran masa Renaissance
Sekarang saya lagi sangat mengagumi Renaissance. Iya, abad dimana ilmu pengetahuan, seni, kehidupan manusia menjadi modern. Abad setelah abad kegelapan. Alasannya adalah saya begitu kagum dan baru menyadari kehebatan manusia dan kemuliaan Tuhan.Jadi bermula dari James Watt, penemu sebuah mesin uap yang akhirnya menjadi cikal bakal revolusi Industri. Cikal bakal dimana manusia seakan baru tersadar akan kecerdasan dan ilmu pengetahuan dan kebebasan dan munculah Renaissance dan disitulah banyak sekali seniman seniman muncul, pemikir pemikir, revolusi, kemerdekaan, dan salah satunya Reformasi Gereja.
Intinya disitu, sebab saya tidak akan menceritakan tentang hal tersebut dengan lengkap. Kalau penasaran, nanti silahkan pelajari sendiri.
Tapi bayangkan, dahulu Eropa dikuasai oleh kekuasaan gereja, semua seakan pasrah dan tunduk. Tidak ada kebebasan untuk berkomentar tetapi seperti dalam jentikan jari, seakan akan manusia dicerahkan oleh pengetahuan. Dari situ, setaip aspek kehidupan berubah. Misal dalam aspek ekonomi, ada merkantilisme, ada pembentukan mata uang, ada sistem kredit debit. Semuanya itu adalah buah Renaissance. Terima kasihlah anda pembaca pada keluarga Medici, Rockfeller, Rothschild, dan lain lain.
Belum lagi dalam aspek agama, tentu saja, adanya Kristen Protestan dan berbagai aliran. Dan beberapa orang yang muak terhadap gereja atau mungkin terlalu memuja ilmu pengetahuan akhirnya menjadi atheis dan sejenisnya yang lain. Manusia dibebaskan untuk berpikir.
Tapi yang paling saya puja adalah seni, tentu saja. Siapa yang tidak kenal Leonardo Da Vinci atau Michelangelo, dan sebagainya.
Disinilah bisa kita lihat peradaban emas manusia. Kecerdasan dan kehebatan ilmu pengetahuan.
Dante - Michelangelo
What should be said of him cannot be said;By too great splendor is his name attended;
To blame is easier than those who him offended,
Than reach the faintest glory round him shed.
This man descended to the doomed and dead
For our instruction; then to God ascended;
Heaven opened wide to him its portals splendid,
Who from his country's, closed against him, fled.
Ungrateful land! To its own prejudice
Nurse of his fortunes; and this showeth well
That the most perfect most of grief shall see.
Among a thousand proofs let one suffice,
That as his exile hath no parallel,
Ne'er walked the earth a greater man than he.
Sebuah Pengantar Membaca Perempuan
Ini pengantar yang aneh. Aneh karena sesungguhnya pengantar ini tak mengacu kepada apa, tak mengarahkan agar kau menjadi siapa, dan tak memandu dengan bagaimana. Tetapi pengantar jenis ini kadang perlu untuk mengingatkan pada dasarnya setiap orang suka dipandu dan diarahkan meski tahu tak ada jalan di hadapannya, tetapi setiap orang menyukai perasaan seolah-olah ada jalan keluar itu, sebab kadangkala kebuntuan baru juga bisa jadi jalan keluar bagi kebuntuan lama.
Setidaknya yang menggembirakan dari menemu kebuntuan adalah setiap orang punya arah meski belum punya jalan. Tak seperti rindu yang meski punya jalur ia kadang tak punya arah, yang berkebalikan dengan kenangan, ia tak punya lintasan pasti tapi pasti melintas.
Tetapi kau harus berjanji tak akan terlalu khidmat membaca pengantar ini. Kata-kata yang kini menatap sepasang matamu begitu jahil dan senang mengajak bermain. Kata-kata jenis ini bandel dan tak menuruti siapa pun kecuali perintah dari yang tak terkatakan. Sampai di sini jika kau belum juga menemukan apa yang kau yakini akan menuntunmu, sebaiknya tanggalkan keyakinanmu dahulu.
Baiklah, saya bocorkan sedikit: sesungguhnya seribu buku pun tak akan cukup sebagai pengantar membaca perempuan. Sebab buku memberi pengetahuan dari yang terbaca, tetapi perempuan memberi pengetahuan dari yang tak terbaca. Mungkin ini pengantarnya, mungkin juga ini pengantar yang tak mengantarmu ke mana-mana,
kecuali kau betah berdiam dan menunggu ia menagih ciuman-ciumanmu.
Solo, 2014
http://www.adimasimmanuel.com/2014/08/sebuah-pengantar-membaca-perempuan.html?m=1
Kenalan dengan saya disini!
Hai pembaca!
Jendela Puisi
but it’s much better to be killed by a lover. - Charles Bukowski
About
Labels
- Aan Mansyur
- Adimas Immanuel
- Agus Noor
- Angel Jessica
- Bernard Batubara
- Buku
- Cerita Pendek
- Djenar Maesa Ayu
- Edgar Allan Poe
- Esai
- Feminisme
- Goenawan Mohamad
- Helvy Tiana Rosa
- Inspirational Video
- Joko Pinurbo
- Kesusasteraan Indonesia
- Linguistik Bahasa Indonesia
- Michelangelo
- Monolog
- Pablo Neruda
- Penyair Sastra Indonesia UNJ
- Perjalanan
- Poems
- Puisi
- Putu Wijaya
- Quote
- Renaissance
- Review Buku
- Sanie B Kuncoro
- Sapardi Djoko Damono
- Sitor Situmorang
- Songs
- Stilistika
- Sutardji Calzhoum Bachri
- Toto Sudarto Bachtiar
- Tulisan Lain
- William Shakespeare
- WS Rendra










