Selalu Saja, Kau

Kau selalu menantiku pulang
Selalu saja, kau
yang setia menunggu segala keresahanku berpulang padamu,
meredam runtuk sakit dalam peluk dalam lekuk teluk tubuhmu
Selalu saja, kau
yang jadi tempat paling jaga setiap rintih letih sedihku
Selalu saja kau

Kau selalu jadi ciuman paling setia
dan bersikeras menjadi satu satunya dunia
dan satu satunya cinta.
Kau selalu jadi hanya paling nyata
yang selalu tabah menadah kesah
yang satu satunya arah

Kau selalu saja menantiku pulang
Selalu saja kau











02 November 2016

(Terinspirasi oleh lukisan J.W Godward “Violets, sweet Violets, 1906)

Separuh Kota

Aku tak benar benar yakin,
apa mungkin kita dapati penghujung kisah
sedang kita masih saja menyalin luka
senantiasa terjaga dengan cahaya berpendar lampu lampu temaram
kota yang tak pernah rela ditinggali redam

Tak ada lagi yang mampu menampung seluruh kita,
tanda baca dan ciuman yang tak habis habisnya itu
tergantung di hampir setiap lampu lampu jalan
bersama menyiasati kesepian yang bersikeras tahan

Sejak hiruk pikuk lantai dansa melengkungi tubuh kita,
kau tanggalkan segala rupa perkara kata
membiarkan ricik pikiranku mengenal tiap bait kesadaranmu
sampai suatu saat yang tak terduga
kota yang tak pernah rela,
memberikan separuh bisingnya
untuk jadi rumah yang ramah bagi sejumlah tanda baca

Namun aku tak benar benar yakin,
apa mungkin disana tak akan ada petang, tak akan ada sudah
sebab, bahasa tak pandai menyusun tubuhku

meski kau pandai hidup dalam genang darahnya

Pulang II

Segenggam doa kuselipkan di sakumu saat kau berjanji padaku untuk pulang,
namun sungguh, sejak awal kata kata tak pernah punya makna apa apa
Kau dan aku hanya menahan yang pura pura tahan
Bagimu penantian, meski paling lapang, hanya akan terasa kurang

Sungguh, sejak mulanya diantara kita mungkin tidak ada apa apa
Kau tanam di dadaku semuanya dengan siasat
Hutan, pohon berbuah, janji dan cita yang bekat
Apa pernah terpikir olehmu untuk memetiknya barang sesaat?

Bagimu, dialah muara suntuk letihmu
Namun apa bisa ia menjadi tempat penyangkalan nasib sedihmu
Sementara luka di tubuhmu hanya akan kering oleh air mataku

Aku masih disini, menggenggam doa yang akan kuselipkan di sakumu
Masih berharap angin yang mampir kerumah kita,
adalah jalan pulang untukmu dan suaramu yang masih akan terus kukenali
Aku masih disini, bersiap untuk terluka

(Terinspirasi oleh Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali - Adimas Immanuel)


Batu - Sutardji Calzhoum Bachri

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu janun
batu bisu

kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji ?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh
dengan seribu perawan hati tak jatuh
dengan seribu sibuk sepi tak mati
dengan seribu beringin ingin tak teduh.
Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai
mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai
mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai
mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai.
Kau tahu
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu

kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji ?

Senja Bertanya Kepada Malam - Rodhotul Jannah

Senja tiba dengan jingganya
membawa kabar bersama angin
menyampaikan pada awan kelabu
akan datang sebutan malam

Dengan awan, senja menanti malam
sambil bertutur perkara kelam.
Malam pun mendengar,
tapi ia terdiam
sungkan.

Senja menyadari namun ragu
"Malam, kenapa kamu belum bangun?"
Malam termenung manis
"Aku takut kamu hilang, senja."

Senja pun gelisah,
ia hampir lenyap
mempertanyakan jawaban malam dengan lengang.
Malam paham,
ia gemetar,
mulai samar.


"Warnamu buatku jatuh cinta, senja."

-Anaaarj
22 September 2016

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!