All The World's A Stage


All the world's a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances,
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages. At first, the infant,
Mewling and puking in the nurse's arms.
Then the whining schoolboy, with his satchel
And shining morning face, creeping like snail
Unwillingly to school. And then the lover,
Sighing like furnace, with a woeful ballad
Made to his mistress' eyebrow. Then a soldier,
Full of strange oaths and bearded like the pard,
Jealous in honor, sudden and quick in quarrel,
Seeking the bubble reputation
Even in the cannon's mouth. And then the justice,
In fair round belly with good capon lined,
With eyes severe and beard of formal cut,
Full of wise saws and modern instances;
And so he plays his part. The sixth age shifts
Into the lean and slippered pantaloon,
With spectacles on nose and pouch on side;
His youthful hose, well saved, a world too wide
For his shrunk shank, and his big manly voice,
Turning again toward childish treble, pipes
And whistles in his sound. Last scene of all,
That ends this strange eventful history,
Is second childishness and mere oblivion,
Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything. 

Lalu kami duduk diam, dan sebut saja itu cinta

Lalu
kami duduk diam,
dan sebut saja itu cinta
Dalam dia pukul lima sore itu,
kami duduk di sebuah bingkai jendela besar
di sebuah museum di kota Jakarta
kuselami setiap inci wajahnya
yang tergurat rahasia
meski tak tahu kedalamannya
Lalu kami duduk diam,
dan sebut saja itu cinta
walau kadang,
tanganku usil membenahi rambutnya
atau sekedar menyentuh bingkai kacamatanya
Namun, kami tetap diam,
dan barangkali, sebut saja itu cinta

Angel Jessica
Jakarta, berbulan bulan lalu dan di revisi pada 22 Mei 2015

Sebelum Sukmamu Tahu

Aku terlanjur berharap,
bahkan meski
harapan hanya ujian, dan
kenangan hanya beban
dari seorang laki laki teduh, menjelma manna dari sorga
hangat dan coklat
seperti matanya yang menatap
dari balik bingkai kacamatanya, hitam pekat
Laki laki yang menutupi wajahnya
dengan rahasia demi rahasia,
yang entah tak kuketahui maknanya
Dan jika aku menjelma,
sajak yang kelak terbaca olehnya,
akan tertulis disana
"Dalam diam kau telah merangkai kata demi kata,
yang sesungguhnya belum tahu akan jadi apa.
dalam jiwaku,
tak perlu jadi indah atau bermakna
karena, saat kau membaca sajak ini,
satu persatu huruf mulai memeluk tubuhmu,
sebelum sukmamu tahu"

Angel Jessica Siagian
Jakarta, 2 April 2015

Manusia Kini Mulai Lupa

Manusia kini mulai lupa,
Kepada siapa dahulu moyangnya belajar
Tentang rahasia demi rahasia
Kehidupan, doa, dan cinta

Manusia kini mulai lupa
Kemana ia harus belajar kesetiaan
     -Kepada akar pohon yang setia pada
      tanah yang menghidupinya
Kemana ia harus belajar cinta
     -Kepada bulan yang tanpa lelah menyinari
      yang percaya bahwa dirinya disinari tanpa lelah
Kemana ia harus belajar pengorbanan
     -Kepada awan yang menghabisi dirinya
      menuruti titah Penciptanya
      menghidupi seluruh ciptaanNya

Manusia kini mulai lupa,
Dan dengan angkuh berkata
"Nilai nilai adalah ciptaan kita, hasil interaksi dan sosialisasi,kawan."
Kita lupa bahwa dunia yang mengajarkan tentang
Kehidupan dan menghidupinya
Yang teorinya terus menerus dibisiki dalam gemerisik
Sawala* angin, dan daun dan ranting dan bunga

Pada akhirnya,
Manusia harus menolak untuk lupa
Dan mulai bertanya
Apakah manusia ciptaanNya yang paling mulia?


*sawala : debat

Angel Jessica 
Jakarta, 03  Mei 2015


Terima kasih

Terima kasih telah jadi laki laki pertama yang membuat saya merasa menjadi seorang perempuan yang layak dicintai.
Terima kasih karena kamu saya bisa menjadi perempuan yang apa adanya ditengah laki laki yang saya cintai.
Terima kasih karena begitu manis.
Terima kasih karena kamu telah mengisi episode episode kehidupan saya



Salam,


Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!