Sayap Sayap Patah - Sebuah Laporan Bacaan

01.54 Pohon Belimbing 0 Comments


Sebelum menuliskan keindahan dari buku ini, buku ini awalnya ditulis tahun 1912, didedikasikan untuk Mary Elizabeth Haskell, perempuan yang sungguh dicintai oleh Gibran. Mungkin memang fiksi, tetapi disini kita bisa melihat bagaimana seorang Kahlil Gibran menggambarkan cinta yang tidak membahagiakan.

Tokoh utama dari cerita ini adalah seorang pemuda, yang menggambarkan Kahlil Gibran itu sendiri, dan seorang perempuan bernama Salma Karama, yang berumur 20 tahun kala itu. Mungkin saja, ini adalah cinta pertama dan terakhir Kahlil Gibran. Salma adalah gadis cantik muda dari Beirut yang digambarkan begitu indah seperti kolam, begitu dalam sedalam lautan, dan menghidupi hidupnya. Cerita dimulai ketika Gibran pergi ke Lebanon untuk jalan-jalan dan bertemu dengan sahabat ayahnya, Farris Effandi Keremy. Farris berusia cukup tua dan sangat lembut dan baik hati dan telah kehilangan istrinya ketika Salma masih remaja. Dia mengundang Kahlil Gibran ke rumahnya. Suatu malam Gibran pergi ke sana dan bertemu dengan seorang gadis cantik Selma yang merupakan putri Farris, dan begitulah mereka saling jatuh cinta.

Cinta sejati mereka akhirnya tidak membahagiakan karena Salma dipaksa menikahi keponakan Uskup Bulos Galib yang bernama Mansour, yang meskipun tanpa restu dari ayahnya tetapi tetap dilaksanakan karena tidak ada yang bisa melawan Uskup. Kehidupan Salma berubah menjadi kesengsaraan setelah pernikahannya, sementara Gibran menderita kehilangan perempuan yang dicintainya.

Dan setelah lima tahun menikah. Salma melahirkan seorang anak laki-laki  yang meninggal segera setelah ia dilahirkan. Selma juga, pada akhirnya, meninggal.

Sungguh, cerita ini adalah cerita paling tragis, dan menyedihkan, menurut saya setelah Romeo & Juliet dari Shakespeare. Ini adalah adalah kisah cinta yang sederhana, sejuk, tenang, lembut, dan dengan akhir yang menyedihkan. Cerita ini memberitahu kita bagaimana mengekspresikan diri tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan bagaimana cara mendengarkan keheningan. Cerita ini memberi tahu kita apa arti kata “cinta”  yang sesungguhnya dan makna dari kebahagiaan dan juga kesedihan. Cerita ini menceritakan betapa mudahnya memahami cinta yang sesungguhnya namun betapa sulitnya kadang-kadang teguh memegangnya.

Dalam cerita ini juga, Kahlil Gibran mengatakan bahwa cinta itu seperti air, kita tidak bisa menahannya di tangan. Kita bisa menghirupnya di dalam diri kita, tetapi kita tidak bisa menahannya, air itu masuk ke dalam diri. Bahkan, air itu menghasilkan kehidupan di dalam diri kita. Cinta bukan tetntang mendapatkan, sebaliknya itu bukan kerajaan atau permainan yang kita butuhkan untuk menang, tetapi itu sebuah perasaan yang lebih menginginkan untuk memberi daripada mendapatkan atau berekspektasi. Kahlil menuangkan pikirannya yang murni dalam cerita ini.

Saya membaca buku ini pertama kali ketika kelas dua SMP, dan begitulah saya jatuh cinta dengan puisi dan prosa dan seluruh kata kata cinta yang apik dan bernilai. Sayap Sayap Patah bukan hanya sebuah buku, melainkan sebuah karya seni. Karya seni yang begitu mengesankan untuk bukan hanya sekadar dibaca, namun juga direnungkan, mengingatkan kembali diri kita sendiri tentang kemurnian jiwa dan cinta.

Salah satu kutipan yang paling saya suka dari buku ini adalah,
"The heart of a woman does not change with time and does not change with the seasons, the woman's heart is long but not dead. The heart of a woman resembles the wilderness that man takes as a battlefield for his wars and his escape. He uproots her trees, burns her herbs, stabs her rocks with blood and implants her bones and skulls, but remains calm, still and reassuring. The spring keeps spring and autumn to the end of the ages ... "


0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!