Aku Ingin Memelukmu

07.41 Pohon Belimbing 0 Comments

Kutuliskan sajak ini berulang kali,
berulang kali juga menunggu untuk jadi sempurna.
Sajak yang terus merapal rindu,
Seperti mantra yang dahaga akan dirimu
Yang tersisa darimu
hanya serpihan serpihan ingatan yang lambat laun terhapus lupa dan usia.
Kucari dan kucari sumber haus rindu yang kian membuat ngilu
Kusebut sebut namamu

Aku ingin memelukmu,
Tapi aku pun sudah lupa wangi asli tubuhmu.
Kuingat darimu hanya setitik titik ingatan yang terus mempengaruhi
Dan sedikit deskripsi tentangmu.
Aku ingin memelukmu,
Karena begitu sama sepertiku.

Aku ingin memelukmu,
Sangat kuat seperti rasa sup ayam dan bubur yang sering kau buat.
Seperti kopi hitam yang pekat.
Seperti ucapan ucapanmu yang seketika menjadi doa khusuk yang lupa kuamini.
Seperti rasa kue karamel yang dulu tak kusukai dan kini kuingini.

Aku sangat ingin memelukmu,
Ketika kamu tahu, bahwa hidupmu sudah tidak lama lagi
Ketika kamu mengasihani anak umur sepuluh tahun ini

Aku sangat ingin memelukmu,
Saat pertama kalinya, kamu memarahiku dan menangis.
Memeluk seluruh keputusasaan, memeluk seluruh amarah, memeluk seluruh tangisan dan air mata.
Saat tubuhmu sendiri sebetulnya ragu untuk melemah dan hilang dalam tiada.

Aku sangat ingin memelukmu,
Namun aku yang sepuluh tahun itu hanya tahu,
Asap sabu, asap rokok, dan asap yang mengepul dari kopi hitam kesukaanmu
Yang mampu membahagiakanmu.




Aku sangat ingin memelukmu,
Namun aku yang sepuluh tahun itu hanya tahu,
Jika aku tak terlahir olehmu,
Dirimu takkan seputus asa itu.

Aku sangat ingin memelukmu,
Ketika kamu memarahiku di ruang terapi, di ruang rumah sakit.
Ketika kamu menyuruhku membeli peralatan untuk memakai sabu
Ketika kamu mengancamku untuk diam, karena
Aku yang sepuluh tahun itu,
Mengancam untuk melaporkanmu ke kantor polisi
Yang kamu pun sesungguhnya tahu, kalau aku juga tidak mungkin bisa melakukan itu.
Aku sangat ingin memelukmu,
Ketika bau asap tubuhmu berubah menjadi bau pengharum ruangan rumah sakit
Namun aku yang sepuluh tahun itu,
Pergi bersembunyi pada detik detik sebelum kamu masuk ke ruang operasi.
Karena seperti dalam acara televisi, kupikir kamu akan pergi.

Aku sangat ingin memelukmu,
Ketika malamnya aku melihatmu, dan seperti biasa kamu memarahiku.

Aku sangat ingin memelukmu.
Ketika aku diberitahu arti kemoterapi, oleh suster penjaga.
Setiap hari tubuhmu kian melemah dan aku tahu kamu membencinya
Dan aku juga membencinya.
Tubuhmu kian kurus dan sorot matamu kian redup
Dan kamu semakin sering tersenyum, dan jarang memarahiku.
Aku juga membencinya.

Aku sangat ingin memelukmu
Ketika rambut cantikmu yang dulu kubanggakan
Mulai habis.
Aku sangat ingin memelukmu
Aku sangat ingin memelukmu
Ketika lambat laun kamu menjadi bukan lagi manusia
Di hadapanku.

Aku sangat ingin memelukmu dan melihatmu menangis didepanku.
Melihatmu kesakitan
Namun kamu hanya bisa tersenyum saat itu
Dan aku yang terlalu kesal pergi meninggalkanmu.
Aku sangat ingin memelukmu,
Ketika kamu tersenyum melihatku ketakutan ketika darah mencuat karena infus yang terlepas dari tubuhmu
Kau selalu ingat, ketakutanku

Aku sangat ingin memelukmu,
Ketika tubuhmu kian kurus, dan di depanku
Malaikat maut membebaskanmu
Dan menjadikanku orang yang yang sama sepertimu

Aku tidak menangis
Aku tidak ingin memelukmu saat itu
Aku mengira ngira,
Apa yang bisa kulakukan tanpamu?
Sedang aku mengira ngira,
Bisakah aku sekuat dirimu?
Dan aku memutuskan saat itu,
Kalau aku begitu membencimu.
Langkah pasti untuk tanpa segan melupakanmu

Dan hebatnya sama sepertimu,
Semua orang mempercayaiku,
Namun
Kutuliskan sajak ini berulang kali,
yang berulang kali juga menunggu untuk jadi sempurna.
Sajak yang terus menerus merapal rindu,
Seperti mantra yang dahaga akan dirimu
Kutuliskan sajak ini selesai sampai disini,
Karena aku mulai membenci diriku,
Yang merindu tanpa henti.

Salamku untukmu,
Maaf karena sering berkata aku membencimu, namun aku tahu kamu pasti mengerti bukan?
Karena aku begitu sama sepertimu
Salamku untukmu,

Mamaku, yang tak henti hentinya kucinta dan kubenci.

Jakarta, 2 September 2015
Didedikasikan untuk Alm. Daryati
Ibu saya yang paling kuat

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!