(1)
Kupilihkan
beberapa batu yang basah di jalan setapak yang bau perkara,
yang
tak habis diselesaikan selama waktu tak memberinya jeda.
Kusimpan,
diam diam kutaruh satu atau dua di kantung celanamu.
Siapa
tahu batu itu sewaktu waktu tumbuh menjadi
kata yang berdoa agar hujan tak pernah reda.
Kau
adalah segala perasaan was was yang selalu tumbuh di setiap cuaca, kau adalah
isyarat yang menggantung di daun jendela.
(2)
Kita
dengarkan juga bunyi denting kesepian yang berdesik desik di kelopak matamu.
Nyanyian
bukanlah tempat teraman menyimpan rahasia.
Aku
diam saja. Kau sedang hilang, entah kemana.
(3)
Masih
hujan. Lebih deras dari biasanya.
Dan
aku masih menebak nebak kesedihanmu seperti apa rupanya?
Kau
masih malam, masih gaib, masih igau dalam kantukku.
Demikianlah,
rahasia masih tertinggal di bait bait sajakku, tak henti hentinya menatap teka
teki tak terbaca, bersembunyi di air mata yang nampak asing di wajahmu.
Mungkin sejak danau itu berpusara di pundak dan lenganmu,
kunamai ilalang yang tumbuh satu satu di situ sama dengan namamu
sebab, sama seperti sunyi tak punya suara untuk ilalang
demikian aku tak punya bahasa untuk menjangkaumu
Terinspirasi oleh Water Lilies-Setting Sun, Claude Monet
Langit malam ini,
adalah bola matamu dengan bulan
setengah, bundar setengah
cahaya terpercik percik membakar
sunyi di kepalaku yang sakit
“Lihat
ada satu bintang merah di kelopak matamu!”
“Itu
planet.”
“Itu
cantik. Itu kamu!”
I swear I don’t know how – Rosemary
Clooney
Bersamaan dengan surat yang juga
puisi atau mungkin menurutmu puisi yang juga surat ini, kulampirkan beberapa
doa, daun pohon belimbing yang jatuh dan lantunan musik jazz yang manis saat
kubentuk juga pada akhirnya kalimat-kalimat.
Aku mengemasnya dalam bentuk
kalimat, karena kalimat sepatutnya harus selesai, juga perasaanku.
Perasaan dan kalimatku sekarat.
Keduanya ingin selesai cepat-cepat.
Sungguh, sulit sekali mencari
kosakata. Perasaanku, apa sudah ada rumusannya? Apa sudah ada maknanya?
Perasaanku bukan perkara cerita, apalagi puisi-puisi cinta.
Perasaanku adalah perkara degup
jantung yang liar berlari menembus hutan yang kini lebat di kepalaku setiap
malamnya, perasaanku adalah perkara gelisah yang berombak-ombak menghabisi
pantai di pagi harinya.
Sungguh, sulit sekali mencari
bentuk bahasanya.
Intinya, perasaan perasaan itu
selalu muncul dengan wajahmu sebagai latar belakang ceritanya. Perkara degup
jantung itu? Kau darahnya. Perkara hutan? Kau akar akarnya. Perkara gelisah?
Kau kumpulan sajaknya.
Kau adalah alasan Tuhan menguji
kekuatan. Kau adalah tanda baca yang tak kelihatan.
Semoga, kau selalu berbahagia, aku
juga. Sungguh, kau layak berbahagia
5 April 2017