Di Gereja

(1)
Kupilihkan beberapa batu yang basah di jalan setapak yang bau perkara,
yang tak habis diselesaikan selama waktu tak memberinya jeda.
Kusimpan, diam diam kutaruh satu atau dua di kantung celanamu.
Siapa tahu batu itu sewaktu waktu tumbuh menjadi  kata yang berdoa agar hujan tak pernah reda.
Kau adalah segala perasaan was was yang selalu tumbuh di setiap cuaca, kau adalah isyarat yang menggantung di daun jendela.

(2)
Kita dengarkan juga bunyi denting kesepian yang berdesik desik di kelopak matamu.
Nyanyian bukanlah tempat teraman menyimpan rahasia.
Aku diam saja. Kau sedang hilang, entah kemana.

(3)
Masih hujan. Lebih deras dari biasanya.
Dan aku masih menebak nebak kesedihanmu seperti apa rupanya?
Kau masih malam, masih gaib, masih igau dalam kantukku.


Demikianlah, rahasia masih tertinggal di bait bait sajakku, tak henti hentinya menatap teka teki tak terbaca, bersembunyi di air mata yang nampak asing di wajahmu.

Ilalang

Mungkin sejak danau itu berpusara di pundak dan lenganmu,
kunamai ilalang yang tumbuh satu satu di situ sama dengan namamu
sebab, sama seperti sunyi tak punya suara untuk ilalang
demikian aku tak punya bahasa untuk menjangkaumu

Terinspirasi oleh Water Lilies-Setting Sun, Claude Monet

Almost Is Never Enough - Ariana Grande

I'd like to say we gave it a try
I'd like to blame it all on life
Maybe we just weren't right,
But that's a lie, that's a lie
And we can deny it as much as we want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
The truth is everyone knows
Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me
The way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each others arms
Here we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough
If I could change the world overnight
There'd be no such thing as goodbye
You'll be standing right where you were
And we'd get the chance we deserve oh
Try to deny it as much as you want
But in time our feelings will show
'Cause sooner or later
We'll wonder why we gave up
Truth is everyone knows
Almost, almost is never enough (Is never enough, babe)
We were so close to being in love (So close)
If I would have known that you wanted me, the way I wanted you, babe
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each others arms
And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Malam II

Langit malam ini,
adalah bola matamu dengan bulan setengah, bundar setengah
cahaya terpercik percik membakar sunyi di kepalaku yang sakit

“Lihat ada satu bintang merah di kelopak matamu!”
“Itu planet.”
“Itu cantik. Itu kamu!”

Sebuah Surat

I swear I don’t know how – Rosemary Clooney


Bersamaan dengan surat yang juga puisi atau mungkin menurutmu puisi yang juga surat ini, kulampirkan beberapa doa, daun pohon belimbing yang jatuh dan lantunan musik jazz yang manis saat kubentuk juga pada akhirnya kalimat-kalimat.
Aku mengemasnya dalam bentuk kalimat, karena kalimat sepatutnya harus selesai, juga perasaanku.
Perasaan dan kalimatku sekarat. Keduanya ingin selesai cepat-cepat.

Sungguh, sulit sekali mencari kosakata. Perasaanku, apa sudah ada rumusannya? Apa sudah ada maknanya? Perasaanku bukan perkara cerita, apalagi puisi-puisi cinta.
Perasaanku adalah perkara degup jantung yang liar berlari menembus hutan yang kini lebat di kepalaku setiap malamnya, perasaanku adalah perkara gelisah yang berombak-ombak menghabisi pantai di pagi harinya.
Sungguh, sulit sekali mencari bentuk bahasanya.

Intinya, perasaan perasaan itu selalu muncul dengan wajahmu sebagai latar belakang ceritanya. Perkara degup jantung itu? Kau darahnya. Perkara hutan? Kau akar akarnya. Perkara gelisah? Kau kumpulan sajaknya.
Kau adalah alasan Tuhan menguji kekuatan. Kau adalah tanda baca yang tak kelihatan.

Semoga, kau selalu berbahagia, aku juga. Sungguh, kau layak berbahagia

5 April 2017



Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!