Kota ini pendulum raksasa. Sepi sesekali
melenting ke sini sesekali ke sana.
Malam meringkus kita lewat banyak tetapi.
Kota ini sejumlah kenyataan yang berlari,
sebab dalam lututku kutanam bahasa
yang kelak akan mengingatkanmu:
cinta yang kuat pun butuh kuda-kuda.
Kota ini mengalirkan sejumlah ingatan
dari hutan percakapan yang tak tersusuri,
sebab kau adalah bau getah damar
di kapak penebang itu: getir waktu.
Kota ini masih akan berselubung duri,
selama kita masih nada sambung telfon
yang putus asa dan terus mencari.
Jakarta, 2015
Seluruh rasa bersalahku bukan milikmu lagi sejak parit di kota ini bertalu-talu menjerit, terhimpit sajak yang sakit. Sejak sel-sel darahku membeku seperti permata yaspis, doa dalam tanganku mengeras jadi bentangan gunung batu. Kelemahanku luwung berlindung dalam bening getah kesumat, siap mengesumba kota dengan amarah imamat. Kota ini tidak berlumut, tidak lisut akibat mulut penghasut. Malam kota ini tak tunduk mengadu kepada bayang matahari di gigir tengkukmu. Waktu menghapusku, sekam yang ditiup angin. Waktu memupusku, gunung terpasung laut dingin. Seluruh rasa bersalahku menolak membungkuk-bungkuk selain kepada langit yang kelak memenjarakannya. Sejak pengajaran jadi pengejaran-pengejaran melelahkan dan kekosongan seolah tak pernah landai, tak pernah membuat ketidaktahuanku sampai.
Aku ingin mencintaimu tanpa perasaan waswas. Kecemasan hanya boleh memberi lekuk pada tubuh malam. Sedangkan aku cukup jadi pelintasan yang lapang. Aku ingin mencintaimu dengan perasaan mawas para kerub yang berjaga di jalan pohon kehidupan. Masihkah kau terima sungkur di antara lalai dengkurku, jika kenangan tak seharum nilam dan ranjang trauma tak berlapik tilam? Aku ingin memujamu dengan seribu dendam yang menyatu di tembikar tukang periuk. Aku ingin mencintaimu dengan sisa-sisa demam yang meleleh dalam nganga belanga murkamu, meski nantinya tertimbun dosa, dibusukkan rimbun suara, lupa sejuk embun di liang api selamanya.
2015
Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? -
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali
Akankah kita utamakan percakapan begini?
- Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? -
Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati
Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi
Bukankah dada hamparkan warna
Di pelaminan musim silih berganti
Padamu jua kelupaan dan janji
Akan kepermainan rahasia
Permainan cumbu-dendam silih berganti
Kemasygulan tangkap dan lari
Sitor Situmorang