September

08.34 Pohon Belimbing 0 Comments

Rintik hujan semakin berisik ketika perempuan itu mengaduk-aduk kopinya yang semakin dingin. Perempuan itu jelas putus asa. Ia teringat, penulis kesukaannya pernah berkata bahwa penulis bisa menciptakan apa saja. Terbukti, penulis kesukaannya sangat ingin punya seorang kakak laki laki, dirangkainya sebentuk manusia dengan aksara aksara yang tepat dan betul saja, seorang kakak laki laki yang baik hadir begitu saja, tercipta. Penulis adalah pengerajin firman, begitu pikir perempuan itu. Toh memang bisa saja begitu. Di alkitab pun tertulis, Allah menciptakan segalanya dengan firman, dengan kata kata. Maka, semuanya jadi.

Perempuan itu ingin mencobanya. Ia rangkai satu demi satu bunyi bahasa, bahasa apa saja, ia tak peduli. Diambilnya setetes kopi dari cangkirnya yang putih untuk warna mata, sedangkan warna-warna bagian yang lain, ia serahkan kepada cahaya. Ia ingin menciptakan seorang laki laki, seorang kekasih. Dan jadilah, laki laki yang sekarang duduk di hadapannya.

Perempuan itu terkejut. Seisi kafe apalagi. Namun, mereka diam diam memperhatikan itu. Mereka juga sangat terkejut, namun gempar bukanlah budaya kafe mahal. Mereka kembali pura pura tidak peduli, seperti yang selalu mereka lakukan. Suara yang terdengar adalah bisik samar dan denting sendok yang beradu dengan pinggir cangkir yang panas.

Laki laki itu ia namai, September. Sebab ia tercipta di bulan September. Sangat tidak kreatif, memang. Sesuai juga dengan kemarau panjang yang terbias dari warna kopi di matanya.

September dengan cepat belajar bicara, tentu saja, memang ia lahir dari kata kata dan hidup lewat suara. Ditanyainya nama perempuan penciptanya.

“Namamu siapa?”
“Bulan.”

Mereka lalui malam itu bersama. Tak lupa, perempuan itu ciptakan juga malam yang lebih panjang agar mereka tetap dapat berbincang di bawah rembulan dan bintang bintang, kali ini, cerita yang ia buat harus romantis. Namun, ia tak merangkaikan rumusan rumusan manusia pada September. Biar tokoh rekaan nyatanya itu yang menentukan alur dan tanda baca dalam ceritanya. Ia lepaskan September seumpama burung gereja yang terbang tak ditentukan arah. Ia mau September menjadi manusia yang manusia.

September. Laki laki itu hanya tokoh rekaan. Bagaimana tokoh rekaan bisa menjadi nyata dan begitu ada? Perempuan itu masih takjub sendiri dengan apa yang telah dilakukannya. Memang, sejak kecil ia percaya dengan keajaiban, ia juga percaya dengan kata kata. Tapi tetap saja, percaya memang bukan perkara mudah.

Perempuan itu tak bisa menahan malam lebih lama. Matahari datang dengan anggun, seperti biasanya. Dan jelas, Matahari mengenal September. Ia mengenal cahaya berkilau yang terbias di kulit, dan ujung bulu mata laki laki itu. Matahari mengenal hangat angin yang berhembus ke dalam kulit laki laki itu. Matahari mengenalnya.

Bulan. Perempuan itu. Memang tak tahu banyak tentang hangat angin, tak tahu banyak tentang cahaya, dan sejuk pagi. Namun yang ia tahu adalah, ia jatuh cinta. Ia jatuh cinta.

Jangan dipikir perempuan itu bisa dengan mudahnya, mengganti cerita. Ia sudah mulai kehilangan kata kata. Jelas, pagi bukan bagiannya. Ingin sekali ia ganti alur cerita ini agar lebih romantis, bisa saja. Namun cintanya pada September tak punya lagi kosakata. Ia tak ingin cintanya melebur kedalam pengertian kamus kamus bahasa. Ia bahkan tak lagi bisa bersuara.

September dan Matahari. Mereka adalah sepasang yang selalu dinanti burung-burung dan layang-layang yang jatuh hati. Mereka adalah bahagia tersendiri bagi mereka yang jatuh hati. Kesepian dan kesedihan bukanlah perkara pagi hari.

Ingin sekali perempuan itu memasrahkan September, membiarkannya jatuh entah kemana, ia tak lagi mau peduli. Namun ia tak  bisa memberi cerita itu titik atau membiarkannya begitu saja. Ia harus bertanggung jawab. Ini sudah bagiannya. Ia harus menyelesaikan ceritanya.

Ia tak ingin September terluka. Ia rumuskan takdir yang hinggap di ujung jari-jari mereka sebagai cinta. Entah pakai kosa kata mana, biar saja, biar cerita itu cepat selesai, sebelum malam tiba. Ia rangkaikan bahagia yang mulai banyak ia lupa maknanya. Tentu saja, ia bubuhkan sedikit konflik agar cerita itu dapat hidup selamanya.

Aku pun berjingkat ke beranda
mengambil parang
dan menggergaji kenangan
jadi serbuk jadi duri
lalu kularung dalam selokan
di samping taman tak bernama itu – Helvy Tiana Rosa

________________________________________


September tahu perempuan penciptanya itu mencintainya. Jelas ia tahu. Ia mengenal baik jarak antara kata dan bait yang selalu pandai menyembunyikan segalanya. Ia mengenal baik perasaan yang hinggap di ujung pena sebelum berubah menjadi sejumlah tanda baca. September tahu. Tapi ia tak tahu, apa yang harus dilakukannya sementara takdir dan penciptanya pun sudah memasrahkannya jatuh. Bagaimana bisa penciptanya tak mengenal dirinya sejak ia pertama kali diciptakan. Bagaimana ia bisa berani menuliskan perasaannya tanpa bertanya. Apa ia sudah mulai lupa menggunakan tanda tanya?

Ia juga sangat kesal. Bagaimana bisa perempuan itu memberinya nama sebelum bertanya? Jika boleh memilih, ia lebih suka dinamai Juni. Sebab, malam selalu terlihat lebih terang pada bulan Juni. Ia jatuh cinta pada malam. Malam yang romantis. Malam yang manis.

Namun tak apa, jika September bisa membuatnya bahagia. Laki laki itu bahagia ketika namanya disebut, ketika ia memanggil-manggil nama September. September baginya adalah makna, ketika perempuan itu yang menyebutnya. Bagaimana sebuah suara sanggup memberikan banyak makna?

Namanya, Bulan. Cantik sekali bukan? Bulan yang teduh. Bulan yang mengingatkanmu akan kesedihan dan kesepian, yang mengingatkanmu akan manusia yang berulang kali jatuh dan terluka. Mengingatkanmu akan doa doa sebelum tidur yang meminta, yang berurai air mata.

Malam diciptakan sangat panjang malam itu.Kami berbincang tentang apa saja. Tentang debur air laut yang akan mengingatkanmu akan bau tubuh seseorang yang dicinta, tentang suara angin yang mendesir memeluk tubuh yang menggigil, tentang rindu yang... teramat.

Perempuan itu memang tak merangkaikan rumusan apa saja. Ia ciptakan September penuh dengan sangat manusia. Namun tanpa ia sadari, ada satu hal yang telah ia rekatkan dalam darah yang mengalir ricik dalam tubuh laki laki rekaannya saat ini. Dirinya.

September pikir akan ada banyak waktu lagi, sampai pagi tiba.  Tanpa suara, tanpa bunyi apa apa. Matahari sudah menyinari mereka berdua. Bulan masih tampak cantik. Tentu saja. Ia terpesona jelas. Jadi begitu bentuk Matahari. Tanpa berkenalan pun ia tahu tentang Matahari. Matahari  sudah menjadi bagian dari nama yang diwujudkan untuknya. Entah mengapa.

September dan Matahari. Mereka adalah sepasang yang selalu dinanti burung-burung dan layang-layang yang jatuh hati. Mereka adalah bahagia tersendiri bagi mereka yang jatuh hati. Kesepian dan kesedihan bukanlah perkara pagi hari.”

Bagaimana perempuan itu bisa menciptakan terlalu banyak? Bagaimana ia bisa berbuat terlalu banyak? Bukankah ia menciptakan aku dengan bebas? Lalu mengapa dengan mudahnya, ia menciptakan takdir cinta yang tidak kuingini maksudnya.

September dan Bulan. Bukankah lebih sesuai? Mereka adalah sepasang yang selalu dinanti bintang yang memutuskan jatuh dengan indah. Sepasang yang selalu dinanti penari penari cahaya dan sepasang yang dinanti ombak yang tak ingin kembali. Mereka adalah bahagia tersendiri bagi mereka yang sakit hati.

Baiklah, jika cinta yang perempuan penciptanya itu ingini hadir dalam ceritanya seperti ini, biarlah demikian. Biarlah cintanya tersembunyi dibalik spasi yang hadir ditengah tengah cerita. Biarlah cinta September menjadi rahasia.


Saban hujan aku yang menggigil
mendengar kau memanggil-manggil
dari dalam selokan – Helvy Tiana Rosa

________________________________________

Rintik hujan semakin berisik ketika perempuan itu mengaduk-aduk kopinya yang semakin dingin. Laki laki tokoh rekaannya, September menghilang begitu saja setelah ia tuliskan titik di akhir cerita. Ia mengakhiri cerita yang ia buat sendiri. September sudah bebas, pikirnya. Ia bisa memilih terus menghidupi hidupnya sendiri atau tidak. Perempuan itu sudah tak mampu melanjutkan apa apa. Ia memilih September bebas dengan seluruh ketidak berdayaannya.


Rintik hujan semakin berisik ketika perempuan itu melihat seseorang laki laki datang membawa tumpukan kertaas kosong dan pena. Itu September. Minta dilanjutkan ceritanya sekali lagi.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!