Sebuah Percakapan Ringkas

09.55 Pohon Belimbing 0 Comments

            : untuk duka ibukota, ibu

1.
Pada mulanya adalah jalan setapak dan cuaca yang selalu asing untuk ditebak.
Aku masih entah,
tersesat dalam keasingan yang wajar di lengking dan kelopak anak anak bermata api yang selalu tahan dalam tawa mereka yang menjulur di pematang jalan

Pada mulanya adalah terjal air mata yang membatu, terlipat di saku baju.
Aku masih entah,
bersembunyi dalam kesepian yang  riuh membentur benturkan kesedihan di ujung bibir daun gandaria yang enggan jatuh, meminta penyangkalan

Kita percakapkan juga daun yang jatuh itu sebab bukan rahasia jika bahasa dan cerita-cerita sudah kehilangan kata pembuka.
Kita perihalkan perkara besar di televisi dengan banyak tanda baca dan aksara yang berhamburan,
meminta kecemasan yang menyesakkan udara di sekeliling kita

Sementara suara kita samar oleh suara kaleng peminta minta yang dahulu selalu kita jejali doa dengan begitu setia

2.
Kunamai doa yang menggantung lapar di pertigaan Katedral sebagai kecemasan yang taat, meski kau selalu bilang, kalau bahasa yang mereka aminkan di ujungnya adalah lampu taman, atau melodi-melodi tehyan.
Aku tak pernah benar-benar yakin,
apa kesedihan yang terjebak dalam pujian mereka hangat
atau gigil dalam kesendirian yang selalu masih disisakan hujan

Kunamai burung yang menggapai ranting pohon belimbing itu kata sebab tak ada yang lebih kuat dari kata yang penuh siasat.
Kita biarkan sayapnya basah sebab gerimis yang jatuh, air mata yang jatuh tak terjangkau nyanyian duka

Terbanglah sayang, biar air mata kering terbawa cuaca

Sedang lamat lamat terdengar, lantunan sesuatu menjatuhkan lamunanmu

3.
Laju laju perahu laju
Jiwa manis indung di sayang

Kita masih saja bersikeras bertahan dalam percakapan yang menanggung banyak lelah yang berjatuhan.
Kau masih saja menjahit kesepian di punggungku dengan penuh keberanian yang berpura pura lapang, berpura pura kesedihan tak akan menghabisi waktu dan sisa sisa kesadaranku yang melebur huruf huruf tak terbaca,
mengelabui segala mimpi mimpi bahagia,
mengelabui segala perkara air mata yang saban kali menerka kepulangan yang bahagia

Laju laju perahu laju
Jiwa manis indung di sayang




0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Kenalan dengan saya disini!